Dentuman musik di lantai satu Noxx Bar & Lounge terasa semakin berat di kepala Aldric. Bass menghantam d**a seperti gelombang berulang yang tak memberi jeda, membuat pikirannya semakin tumpul namun anehnya juga semakin fokus pada satu hal yang terus mengganggu sejak beberapa menit lalu. Meja VVIP di depan mereka dipenuhi botol minuman mahal, beberapa sudah kosong, beberapa lagi masih setengah terisi, memantulkan cahaya lampu ungu kebiruan yang berpendar tidak stabil.
Renzo dan Dion masih bercanda, tertawa dengan suara keras, mencoba memaksanya larut dalam suasana, tapi Aldric justru merasa terpisah dari dunia di sekelilingnya, seolah ia duduk di balik kaca tebal yang meredam segalanya.
Wajah pelayan itu kembali muncul di benaknya. Cara matanya menatap ketika ia menyebut nama Yuri—bukan tersinggung, bukan marah, melainkan bingung dan waspada, seperti seseorang yang terbiasa disalahpahami dan memilih diam. Aldric mengangkat gelasnya, meneguk sisa minuman dalam satu tarikan panjang, berharap alkohol itu bisa menenggelamkan bayangan yang terus mengusiknya. Namun begitu gelas itu ia letakkan kembali di meja, rasa penasaran justru makin menguat, menusuk lebih tajam daripada sebelumnya.
“Gue ke toilet dulu,” katanya tiba-tiba, bangkit dari duduknya tanpa banyak pertimbangan.
Renzo menoleh cepat, alisnya terangkat sambil tertawa kecil. “Lama amat baru bilang. Awas lo ya, jangan kabur. Jangan pulang duluan!”
“Iya,” Dion menyahut sambil mengangkat gelasnya, “jangan sok drama terus ngilang. Kita belum kelar minum.”
Aldric mendengus, meraih jaketnya sekilas lalu melangkah menjauh dari meja. “Iya, iya. Berisik lo,” balasnya tanpa menoleh lagi.
Ia berjalan menembus kerumunan yang menari tanpa peduli, tubuh-tubuh yang bergerak liar di bawah lampu neon seolah hanya bayangan buram di pinggir penglihatannya. Langkahnya tidak sepenuhnya lurus, kepalanya terasa sedikit ringan, tapi tujuannya jelas. Tangga ke lantai dua.
Toilet memang ada di sana, tapi Aldric tahu itu bukan satu-satunya alasan ia memilih naik. Ada dorongan aneh yang tidak ia pahami, keinginan untuk memastikan apakah pelayan itu masih ada di sana, atau mungkin sekadar membuktikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
Tangga menuju lantai dua lebih redup. Musik terdengar lebih jauh, lebih teredam, seperti gema yang tersisa setelah pesta yang terlalu lama. Aldric menaiki anak tangga perlahan, satu tangannya menyentuh pegangan besi yang terasa dingin. Lampu di sepanjang tangga memantulkan bayangan panjang yang bergerak seiring langkahnya.
Lalu suara langkah cepat terdengar dari atas.
Aldric mendongak.
Seorang perempuan berlari keluar dari salah satu ruangan VVIP di lantai dua. Rambutnya yang semula terikat rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai terlepas dan menempel di pipinya. Ia mengenakan seragam pelayan yang seksi, rok pendek dan atasan hitam—yang membuatnya mudah dikenali. Jantung Aldric berdetak lebih keras.
Itu dia.
Belum sempat ia memanggil atau sekadar memastikan, suara lain menyusul dari belakang perempuan itu, lebih keras, lebih kasar, memecah suasana redup di tangga.
“WOI!”
Seorang pria keluar dari ruangan yang sama, langkahnya berat dan tergesa. Wajahnya merah, napasnya berbau alkohol bahkan dari jarak beberapa meter. Aldric berhenti di tengah tangga, nalurinya mengatakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Wanita itu baru menuruni beberapa anak tangga ketika lengannya ditarik dari belakang. Tubuhnya terhenti mendadak, hampir kehilangan keseimbangan. Pria itu berdiri satu tingkat di atasnya, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Irish dengan kasar.
“Apa-apaan lo kabur?!” bentaknya, suaranya menggema di ruang tangga yang sempit. “Gue udah bayar lo mahal-mahal!”
Aldric merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Alkohol di kepalanya seperti menguap seketika, digantikan rasa dingin yang tajam. Irish berusaha melepaskan diri, suaranya terdengar bergetar meski ia mencoba menjaga nada tetap tegas.
“Saya kan sudah bilang kalau hanya menemani minum. Lepaskan saya,” katanya, napasnya tersengal.
Pria itu tertawa sinis. Dorongan keras membuat tubuh Irish terhantam pegangan tangga. Aldric melihat bahunya terbentur, melihat bagaimana tubuh itu menegang karena kaget. Dan kemudian, tanpa peringatan, tangan pria itu melayang.
Suara tamparan itu terdengar jelas, terlalu jelas.
Irish terdiam. Tangannya refleks naik menyentuh pipinya. Matanya membesar, berkaca-kaca, seolah dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Tubuhnya mulai gemetar, bukan hanya karena sakit, tapi karena ketakutan yang telanjang.
Sesuatu di dalam diri Aldric pecah.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa semarah ini. Bukan kemarahan yang membara perlahan, melainkan ledakan yang datang begitu saja, tanpa aba-aba. Pria itu masih mencengkeram pergelangan tangan Irish, tubuhnya condong terlalu dekat, napasnya berat dan mengancam.
Aldric bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul.
Langkahnya cepat menaiki sisa anak tangga, sepatu menghantam permukaan dengan bunyi keras. Tangannya meraih bahu pria itu dan menariknya menjauh dari Irish dengan tenaga penuh.
“WOI!” suara Aldric menggema, kasar dan dingin. “Beraninya cuma sama cewek lo?! Kurang ajar!”
Pria itu terkejut, sempat terhuyung ketika tubuhnya diputar paksa. Ia baru sempat membalas dengan makian setengah jadi ketika tinju Aldric mendarat di rahangnya. Satu pukulan, tepat sasaran.
Tubuh pria itu terlempar ke belakang, tersungkur di anak tangga, tertahan beberapa tingkat sebelum berhenti. Ia terdiam sesaat, terengah, lebih kaget daripada sadar apa yang baru saja terjadi.
Irish terisak.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya meringkuk kecil di dekat dinding tangga, seolah ingin menghilang. Bahunya bergetar hebat, napasnya tidak teratur.
Aldric menoleh padanya. Di bawah cahaya lampu tangga yang redup, ia melihat wajah Irish dengan jelas—bukan Yuri, tidak akan pernah menjadi Yuri, tapi seseorang dengan luka yang sama nyatanya. Ada ketakutan yang dalam di matanya, ada rasa hancur yang tidak dibuat-buat.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Aldric, suaranya turun drastis, jauh lebih lembut dari detik sebelumnya. Ia melangkah setengah langkah mendekat, tangannya terulur tanpa niat menyentuh, hanya ingin memastikan.
Namun Irish tidak melihat siapa pun selain ancaman. Yang ia dengar hanyalah suara laki-laki. Yang ia rasakan hanyalah sisa ketakutan yang masih menggenggam tubuhnya erat-erat.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Teriakan itu keluar begitu saja. Tangannya mendorong d**a Aldric dengan panik, refleks, penuh tenaga dari rasa takut yang menumpuk.
“COWOK m***m! BERENGSEK!”
Aldric tidak siap. Sepatunya tergelincir di anak tangga yang licin oleh sisa minuman. Dorongan itu, meski tidak terlalu kuat, cukup membuat keseimbangannya hilang. Ia mencoba meraih pegangan, tapi tangannya meleset.
“HEY—!”
Irish membuka matanya.
Terlambat.
Wajah pria yang ia dorong terlihat jelas kini. Pria dari meja VVIP lantai satu. Pria yang menatapnya aneh tadi. Pria yang minumannya ia antar.
“Ka—” napas Irish tercekat, kata itu mati sebelum sempat keluar.
Tubuh Aldric jatuh ke belakang. Segalanya terjadi dalam sepersekian detik. Satu langkah meleset, pegangan terlepas, tubuhnya menghantam anak tangga pertama, lalu berguling ke bawah.
Suara benturan terdengar berat, membuat musik di lantai satu seolah menjauh seketika. Teriakan pecah dari berbagai arah. Musik berhenti mendadak.
“Astaga!”
“Ada orang jatuh!”
Pengunjung panik, beberapa mundur, beberapa mendekat. Renzo dan Dion yang baru saja bercanda langsung berdiri ketika melihat kerumunan mengarah ke tangga.
“Aldric?” Renzo menoleh, jantungnya berdegup keras.
Detik berikutnya ia berlari. “ALDRIC!”
Dion menyusul, wajahnya pucat. “WOI, ALDRIC!”
Mereka menemukan Aldric tergeletak di dasar tangga, tubuhnya tidak bergerak. Matanya terpejam. Darah mengalir dari keningnya, kontras dengan kulitnya yang pucat dan lantai gelap di bawahnya.
Renzo berlutut, tangannya gemetar saat memanggil nama sahabatnya berulang kali. Dion memeriksa napasnya dengan panik, lalu berteriak meminta bantuan.
Di atas tangga, Irish berdiri terpaku. Tangannya masih terangkat, seolah dunia belum memberinya waktu untuk menurunkannya. Wajahnya kosong, lalu perlahan runtuh.
“Itu… aku…” bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku yang membuatnya terjatuh…”
Mati! Itulah pikiran Irish saat itu. Dirinya bisa mati jika pria yang menolongnya tadi meninggal karena ia dorong dari tangga.
Tangisnya pecah lagi, lebih keras, lebih putus asa. Ia merosot duduk di anak tangga, memeluk lututnya sendiri. Ia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya.
Ia tidak tahu bahwa pria itu menolongnya. Ia hanya tahu bahwa malam itu kembali memakan korban, dan rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada ketakutan yang baru saja ia lalui.
Di tengah hiruk pikuk bar yang kini berubah menjadi kepanikan, Aldric Roeland terbaring tak sadarkan diri, hidupnya kembali berada di ambang yang rapuh—bermula dari tangga yang sama, dari perempuan yang sama, dari malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Namun mungkin, kematian adalah hal yang paling Aldric inginkan setelah pertunangannya gagal dan calonnya kabur begitu saja. Bahkan Aldric terlalu putus asa untuk ingin hidup kembali.
---
Follow me on IG: segalakenangann