Tolong Tetaplah Hidup

1142 Kata
Dentuman musik yang tadi memenuhi ruangan kini benar-benar mati. Yang tersisa hanya suara orang-orang yang panik, kursi yang terseret, dan bisik-bisik tegang yang cepat menyebar seperti api di padang kering. Di dasar tangga, Aldric terbaring tak bergerak. Lampu neon yang semula terasa gemerlap kini justru membuat darah di pelipisnya terlihat semakin nyata—merah pekat, mengalir tipis melewati alis dan menyentuh pipinya. Renzo berlutut di sampingnya dengan napas yang tidak stabil, tapi otaknya bekerja cepat. Ia sudah terlalu lama berada di dunia yang kejam terhadap reputasi. Ia tahu satu hal: kalau satu saja video jatuhnya Aldric tersebar, besok pagi nama sahabatnya bukan hanya jadi bahan gosip—bisa jadi headline dengan narasi yang tidak bisa dikendalikan. “Ric… Addic! denger gue…” bisiknya sambil menepuk pelan pipi Aldric. Namun tetap saja tidak ada respons. Dion berdiri setengah membungkuk di sisi lain, tangannya memeriksa denyut nadi di leher Aldric. “Nadinya ada,” katanya cepat, meski wajahnya setegang kawat ditarik. “Tapi dia nggak sadar.” Renzo menelan ludah. Lalu, dalam satu gerakan refleks, ia mengangkat wajahnya dan mencari seseorang di antara kerumunan yang mulai semakin penuh. Matanya berhenti pada seorang pria berpakaian rapi, berdiri tidak jauh dari bar, ekspresinya tetap tenang meski situasi kacau. Bodyguard-nya. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, dan itu cukup. Renzo hanya memberi isyarat kecil dengan dagunya ke arah kerumunan yang mulai mengangkat ponsel. Pria itu langsung bergerak. Dalam hitungan detik, dua orang lain muncul dari arah berbeda—jas gelap, postur tegap, wajah tanpa ekspresi. Mereka membentuk lingkaran cepat di sekitar Aldric dan kedua sahabatnya, menciptakan ruang yang memaksa pengunjung mundur. “No photos. No camera,” ucap salah satu dari mereka dengan suara rendah tapi tegas, menatap satu per satu orang yang mencoba mengangkat ponsel. “Put your phones down. Now!” Beberapa orang menggerutu, tapi tatapan dingin para bodyguard itu cukup untuk membuat mereka menurut. Seseorang yang tadi sudah sempat merekam buru-buru menurunkan tangannya. Yang lain memasukkan ponsel kembali ke tas, memilih tidak mengambil risiko. Renzo berdiri, mengatur napasnya, lalu berbicara dengan suara yang lebih stabil dari perasaannya. “Ambulans sudah dihubungi?” tanyanya. “Sudah,” jawab Dion cepat. “Lima menit lagi ambulans datang.” Renzo mengangguk. Ia kembali berjongkok di sisi Aldric, memegang tangannya yang terasa lebih dingin dari biasanya. Dalam kepalanya berputar begitu banyak kemungkinan buruk yang ia paksa untuk tidak dipikirkan. Cedera kepala bukan hal sepele. Dan jatuh dari tangga seperti itu—ia tidak mau membayangkan lebih jauh. Namun Renzo tidak bisa mengalihkan pikiran buruknya. Adric bukan orang sembarangaan, ia komposer terkanal dan sebentar lagi akan memimpin konser orkestra besar. Otak, tangan, dan kaki Adric sangat penting untuk pekerjaannya itu. Maka dari itu Renzo sangat khawatir jika terjadi hal buruk pada sahabatnya dari kecil ini. Suara sirene terdengar samar dari kejauhan, semakin lama semakin dekat. Beberapa pengunjung mulai mundur lebih jauh, sebagian memilih keluar dari bar, tidak ingin terlibat dalam masalah. Mami berdiri tidak jauh dari bar, wajahnya tegang tapi tetap menjaga sikap. Mei berdiri di sampingnya, pucat seperti kertas. Irish masih berada di anak tangga atas, tubuhnya terasa kaku seperti bukan miliknya sendiri. Dunia di sekelilingnya bergerak terlalu cepat, terlalu bising, sementara pikirannya tertinggal di satu titik: pria itu jatuh karena dorongannya. Karena dia. Paramedis masuk dengan langkah cepat begitu pintu dibuka lebar oleh salah satu bodyguard. Mereka membawa tandu dan peralatan medis, langsung berlutut di samping Aldric tanpa banyak bicara. Salah satu dari mereka memeriksa pupil matanya dengan senter kecil, yang lain membersihkan darah di pelipisnya dengan kain steril. “Cedera kepala,” gumam paramedis itu pada rekannya. “Kita harus bawa pasien ini sekarang.” Renzo berdiri memberi ruang, tapi tidak menjauh. “Saya ikut,” katanya tegas. Paramedis mengangguk singkat. Dalam gerakan terlatih, mereka mengangkat Aldric ke atas tandu dengan hati-hati, memastikan lehernya tetap stabil. Tubuh itu terlihat begitu rapuh saat diikat dengan sabuk pengaman tandu, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu bar yang masih menyala setengah. Irish menuruni dua anak tangga dengan langkah goyah, seolah ada dorongan tak terlihat yang membuatnya ingin memastikan pria itu masih bernapas. Dari jarak itu ia bisa melihat darah yang belum sepenuhnya dibersihkan, melihat bulu mata yang tidak bergerak, melihat d**a yang naik turun lambat. “Ric… lo harus bertahan ya,” bisik Renzo nyaris tanpa suara sebelum ikut masuk ke ambulans. Pintu ambulans tertutup dengan bunyi berat, lalu kendaraan itu melaju meninggalkan Noxx Bar dengan sirene yang kembali meraung. Keheningan aneh menyelimuti sisa ruangan. Sampai kemudian, Irish baru menyadari tangannya dicekal ketika rasa sakit muncul di pergelangan tangannya. Ia menoleh. Dion berdiri di depannya, wajahnya keras, matanya gelap bukan hanya karena marah tapi juga ketakutan yang ia sembunyikan. “Lo,” katanya dingin, menekan setiap kata dengan jelas. “Tanggung jawab dan ikut gue.” Irish menatapnya, bingung, napasnya masih terputus-putus. “Tap-tapi… aku tidak sengaja…” Dion tidak berkedip. “Lo jelasin semua ke polisi dan pengacara kami.” Kata-kata itu terasa seperti vonis. Irish menoleh refleks ke arah Mei, seolah mencari pegangan dan pertolongan, mencari satu saja wajah yang mau membelanya. Mei berdiri kaku, matanya berkaca-kaca tapi tidak berani mendekat. Mami di sampingnya hanya menggeleng pelan, wajahnya tanpa ekspresi, seolah ingin mengatakan bahwa ini di luar kendalinya. Tidak ada yang bergerak untuk membantunya. Tidak ada yang berkata bahwa itu murni kecelakaan dan ketidaksengajaannya. Irish merasakan dadanya mengempis. Ia menahan tangis yang hampir meledak lagi, menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak terdengar lemah. Pergelangan tangannya masih berada dalam genggaman Dion, kuat tapi tidak kasar, cukup untuk memastikan ia tidak kabur. Di kepalanya, bayangan tubuh Aldric yang berguling di tangga terus berulang seperti rekaman rusak. Ia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa pria itu datang menolongnya. Dan ia membalasnya dengan dorongan yang membuatnya jatuh. Irish menoleh ke arah pintu yang baru saja dilewati ambulans. Ia membayangkan wajah itu lagi—pucat, tak bergerak, darah di pelipisnya. “Aku mohon…” batinnya lirih, suaranya hanya terdengar di dalam dirinya sendiri. “Tetaplah hidup. Aku mohon…” Ia tidak tahu kepada siapa ia berdoa. Tuhan? Takdir? Siapa pun yang mau mendengar. Ia hanya tahu satu hal: jika pria itu tidak selamat, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Bukan hanya karena rasa bersalah, tapi karena konsekuensi yang akan mengikutinya. Dion menariknya sedikit agar berjalan. “Kita ke rumah sakit,” katanya singkat. Irish menurut, langkahnya terasa berat seperti menyeret rantai. Di belakangnya, lampu-lampu Noxx Bar mulai dinyalakan kembali setengah hati, musik belum juga diputar. Malam yang tadi gemerlap kini terasa seperti medan perang yang baru saja selesai. Saat ia melewati pintu keluar, angin malam menyentuh wajahnya yang masih basah oleh air mata. Sirene ambulans sudah tidak terdengar lagi, tapi gaungnya seolah masih menggema di dadanya. Irish menunduk, memejamkan mata sejenak, dan mengulang doa itu dalam hati, kali ini lebih putus asa dari sebelumnya. “Tetaplah hidup… tolong tetap hidup…” --- Follow me on IG: segalakenangann
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN