Chapter 1: Malam Itu
“Empat bulan lagi aku akan menikah”
Itulah yang terus Alea ulang dalam hati sepanjang perjalanan menuju ballroom hotel malam itu, seolah dengan menghitung hari ia bisa membuat semuanya terasa lebih nyata. Gaun hitam sederhana yang ia pilih beberapa hari lalu terasa pas di tubuhnya. Bukan untuk mencuri perhatian, Alea tidak pernah menyukai itu. Tapi malam ini ia datang bukan sekadar sebagai Senior Administrative Officer Vantara Group.
Ia datang sebagai calon istri Darren Pradana.
Alunan musik orkestra langsung menyambut langkah Alea begitu ia memasuki ruangan megah itu.
Kilauan lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya hangat ke seluruh sudut ballroom. Para tamu mengenakan setelan dan gaun terbaik mereka. Gelas-gelas kristal beradu pelan, diselingi tawa ringan dan percakapan para pebisnis yang telah lama saling mengenal.
Jemarinya menyentuh cincin di jari manis, kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap kali ia gugup. Di sekelilingnya, dipenuhi para eksekutif, partner bisnis, dan wajah-wajah yang selama ini hanya ia kenal lewat dokumen kerja. Empat tahun bersama Darren, tiga tahun membangun masa depan, satu tahun bertunangan.
“Aku capek sembunyi-sembunyi terus, malam ini aku mau semua orang tahu kalau kamu calon istriku.” Alea tersenyum kecil. Kalimat itu masih teringat jelas bahkan intonasi suara Darren saat mengucapkannya pun masih melekat di kepalanya.
Alea mengedarkan pandang mencari sosok itu, sambil menyapukan matanya ke setiap sudut ruangan, “Kalau benar nanti Darren memperkenalkan aku, apa aku bakal gugup ya?” belum sempat ia melanjutkan pikirannya.
Langkahnya berhenti.
Di ujung ruangan, dekat jendela besar dengan pemandangan kota, Darren berdiri berhadapan dengan seorang perempuan. Rambut panjang tertata rapi, blazer gading, postur yang entah kenapa terasa begitu familiar.
Alea tidak sempat memikirkan alasan lain. Tangan Darren terangkat. Sesuatu berkilau di antara jarinya.
Sebuah gelang.
Napasnya tertahan. Ia mengenal gelang itu, bukan cuma bentuknya, tapi maknanya. Simpan ini, kata Darren dua tahun lalu. Biar nanti kita kasih yang warnanya beda buat anak kita. Yang di tangan perempuan itu warnanya berbeda. Tapi modelnya sama persis.
Darren memasangkannya perlahan. Terlalu lembut. Terlalu terbiasa.
Lalu perempuan itu tersenyum, dan Darren menariknya ke pelukan tanpa jeda, tanpa ragu, lalu mengecup bibirnya.
Dunia di sekitar Alea seperti kehilangan suara. Musik masih mengalun, gelas-gelas masih berdenting, orang-orang di sekitarnya masih tertawa dan bercakap seolah tidak ada yang berubah, tapi semuanya terasa jauh, seolah ia menonton dari balik kaca. Perempuan itu perlahan berbalik.
Dan Alea membeku.
"...Bianca?"
Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Bianca, sahabatnya sendiri, yang tiap siang duduk di seberang mejanya, yang ia percaya seperti saudara, kehilangan senyum di wajahnya seketika.
Darren menoleh mengikuti arah pandang Bianca. Wajahnya memucat.
"Lea..."
Kotak gelang jatuh dari tangannya, membentur lantai marmer dengan bunyi kecil yang terdengar terlalu jelas di telinga Alea.
Ia tidak menangis. Tidak juga berteriak. Yang ia rasakan justru terlalu besar untuk punya bentuk. Perlahan, ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
"Lea, tunggu."
Darren melangkah mengejar, tapi baru dua langkah, sebuah tangan menahan lengannya.
"Darren." Suara Bianca terdengar tenang, terlalu tenang untuk situasi yang baru saja hancur di depan mereka. "Biarin aja dia."
Darren menepis tangan itu tanpa menoleh. "Lepas, Bianca."
"Kamu mau ngomong apa lagi?" Bianca mengejar dua langkah, mencoba menyamai kecepatannya. "Semua orang di ballroom udah lihat. Mau kamu tambah runyam dengan lari-lari ngejar dia di depan semua tamu?"
Kalimat itu sempat membuat Darren berhenti sepersekian detik, tapi hanya itu. Ia kembali berlari, sepatu kulitnya menghantam lantai marmer tanpa lagi memedulikan tatapan para tamu yang baru saja keluar dari ballroom, meninggalkan Bianca berdiri mematung sendirian di tengah lorong, tatapannya mengikuti punggung Darren yang semakin menjauh.
Sementara itu, Alea sudah tidak lagi mendengar apa pun di belakangnya. Yang ia tahu hanya satu: ia harus keluar dari tempat ini, sekarang, sebelum sisa dirinya benar-benar runtuh di depan orang-orang yang baru saja menyaksikan empat tahun hidupnya hancur dalam hitungan detik.
Darren akhirnya berhasil menyusul di dekat pintu kaca lobi. Napasnya memburu.
"Aku bisa jelasin."
Alea tidak menoleh. Perlahan ia menarik cincin di jari manisnya. Gerakannya pelan, seolah lingkaran kecil itu tiba-tiba menjadi jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan.
"Jangan," bisik Darren, nyaris tak bersuara.
"Apa yang mau kamu jelasin?" Alea akhirnya berbalik. Matanya memerah, tapi belum ada air mata yang jatuh. "Bahwa aku salah lihat? Atau bahwa yang aku lihat memang benar?"
Darren membuka mulut. Tidak ada satu kata pun yang keluar.
"Itu nggak sesederhana yang kamu pikir," katanya akhirnya, nyaris putus asa.
Alea tersenyum tipis, senyum yang bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. "Kalimat itu selalu dipakai orang yang ketahuan bohong."
Ia menggenggam cincin itu erat-erat, lalu membuka aplikasi pemesanan mobil dengan tangan yang sedikit gemetar. Darren masih berdiri di sana, mengulang kalimat yang sama, aku antar, kita bicarakan di rumah, tapi Alea hanya menggeleng.
"Tidak."
Satu kata. Tapi cukup untuk jadi garis pemisah empat tahun hubungan mereka.
Mobil yang ia pesan berhenti tepat di depan lobi. Alea masuk tanpa menoleh lagi. Dari kaca belakang, ia masih sempat melihat Darren berdiri sendirian di bawah lampu hotel. Ia tidak lagi mengejar, tidak lagi berteriak. Hanya diam, memandangi mobil yang membawa Alea semakin jauh.
Barulah, di dalam mobil yang melaju membelah malam Jakarta, air mata pertama jatuh. Disusul yang kedua, lalu ketiga, tanpa suara. Alea menoleh ke arah jendela, membiarkan lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis buram di balik pandangannya.
Dalam hati, hanya satu pertanyaan yang terus berputar.
Sejak kapan semuanya berubah?
Ia tidak tahu bahwa malam ini baru permulaan. Bahwa esok, lusa, dan minggu-minggu setelahnya akan jauh lebih sulit dari yang ia kira.
Mobil berhenti di depan apartemennya sekitar dua puluh menit kemudian. Alea turun dengan langkah berat, gaun hitamnya masih rapi, riasannya masih nyaris sempurna, tapi ada sesuatu di matanya yang sudah tidak sama lagi sejak malam ini dimulai.
Ia baru saja memasukkan kunci ke pintu apartemen ketika ponselnya bergetar di dalam clutch. Alea nyaris mengabaikannya. Sudah cukup baginya menerima satu pesan lagi malam ini, dan ia yakin itu dari Darren, orang yang sama yang beberapa jam lalu masih ia percaya akan menjadi suaminya.
Tapi rasa penasaran mengalahkan kelelahannya. Ia membuka layar.
Bukan dari Darren.
From : Human Resources Department
Subject : Undangan Pertemuan Internal
Jam di sudut layar menunjukkan pukul sebelas malam lewat empat menit.
Alea berdiri diam di depan pintu, jarinya melayang di atas layar tanpa berani menyentuhnya. Belum genap dua jam sejak dunia yang ia kenal runtuh di ballroom hotel itu, dan sekarang, di jam yang bahkan tidak wajar untuk urusan kantor, sebuah undangan resmi sudah menunggunya.
Terlalu cepat.
Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Dalam pengalamannya bertahun-tahun mengurus dokumen dan prosedur perusahaan, undangan pertemuan internal biasanya butuh waktu setidaknya semalam untuk disiapkan, apalagi untuk kasus yang menyangkut nama-nama penting.
Alea menatap notifikasi itu sekali lagi sebelum akhirnya mengunci layar ponselnya, membiarkan pertanyaan yang muncul di kepalanya tetap tanpa jawaban malam itu.
Siapa yang bergerak secepat ini, dan untuk apa?