Bab 1
"Felicia, antarkan wiski ini ke ruang kerja Tuan Devano. Jangan sampai tumpah," perintah Bi Sumi dari balik meja dapur.
Felicia tersentak, tangannya yang sedang merapikan nampan mendadak kaku. "Tuan sedang minum lagi, Bi? Ini sudah hampir tengah malam."
"Sepertinya begitu. Suaranya di telepon sangat berat dan serak. Cepatlah, jangan buat dia menunggu."
Dengan langkah terburu, Felicia menyusuri koridor menuju lantai dua. Ia berhenti di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
Felicia membasahi bibirnya yang kering. Ia merapikan apron putihnya, namun seragam hitam di baliknya terasa semakin menyesak di bagian d**a.
Kain itu seolah menjerit setiap kali ia menarik napas, menekan dadanya hingga terasa sangat penuh dan menonjol.
Tok... tok...
"Masuk."
Suara berat dari dalam terdengar rendah, parau, dan berbahaya. Felicia mendorong pintu perlahan.
Udara di dalam ruangan terasa panas, seolah oksigen di sana baru saja habis terbakar.
Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di sisi meja yang kosong.
"Minuman Anda, Tuan."
Baru meletakkan nampan di meja, sebuah tangan kekar langsung menyambar pinggang Felicia dari belakang dan menariknya kasar.
"Ah!" Felicia terkesiap. Tubuhnya berputar dan punggungnya langsung membentur meja kerja dengan keras.
Devano sudah berdiri di hadapannya, mata gelap penuh kelaparan dan alkohol.
Tanpa memberi kesempatan bicara, pria itu mendorong tubuh Felicia hingga pinggulnya terhimpit pinggir meja, lalu menindihnya dengan tubuh besarnya.
"Tuan—"
Kata protes Felicia lenyap ditelan bibir Devano yang langsung menyambarnya dengan gerakan yang menggebu.
Ciuman itu terjadi begitu saja dan begitu cepat sebelum Felicia sempat menolaknya.
Lidahnya menelusup masuk dengan menggebu,mengabsen mulut Felicia tanpa permisi. Aroma wiski memenuhi rongga mulutnya, napasnya yang hangat menyebar cepat.
Felicia langsung berontak panik. Kedua tangannya mendorong d**a bidang Devano dengan tenaga yang berantakan, berusaha menciptakan jarak meski napasnya sendiri sudah gemetar tidak karuan. Namun Devano bergerak jauh lebih cepat.
Dengan gerakan kasar yang terburu-buru seolah kesabarannya sudah habis, pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Felicia hanya dengan satu tangan besar.
Dalam satu tarikan kuat, Devano menekan tubuh Felicia ke meja hingga gadis itu tercekat kaget, lalu mengangkat kedua tangannya paksa ke atas kepala sebelum menahannya kuat di permukaan meja.
Gerakannya penuh desakan dan gairah yang menggebu, seakan pria itu sudah terlalu lama menahan keinginannya untuk menguasai Felicia sepenuhnya.
Tubuh mereka menempel rapat.
Felicia bisa merasakan bukti gairah Devano yang keras dan panas menekan perut bawahnya dengan kuat.
"Hmmph!" Felicia merintih di antara ciuman yang hampir menyedot nyawanya. Kakinya gemetar hebat.
Devano sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menenangkan diri. Ciumannya semakin kasar dan terburu-buru, seolah seluruh kesabaran pria itu sudah runtuh malam ini.
Tangan besarnya masih mengunci kedua pergelangan Felicia di atas kepala, sementara tangan satunya bergerak mencengkeram pinggang gadis itu kuat hingga tubuh mereka nyaris tak memiliki jarak lagi.
Felicia mencoba memalingkan wajah di tengah napasnya yang kacau, namun Devano justru mengejar bibirnya lagi dengan bernafsu.
Suara napas berat pria itu terdengar jelas di antara desakan tubuh mereka yang semakin panas, membuat kepala Felicia terasa berputar.
Devano melepaskan bibirnya hanya sedetik untuk menggigit rahang Felicia, lalu turun ke lehernya. Ia menghisap kulit halus itu dengan kasar, meninggalkan jejak merah yang panas.
"Kau ... selalu menggodaku setiap malam," desisnya serak di telinga Felicia, suaranya bergetar menahan nafsu. "Sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi."
Tangan satunya yang bebas merobek dua kancing teratas seragam Felicia dengan kasar.
Dada gadis itu yang penuh hampir meloncat keluar dari balik kain hitam yang ketat. Telapak tangan Devano yang besar langsung menangkupnya dengan kuat, meremas sambil ibu jarinya menggesek puncak yang sudah mengeras.
"Ahh... Tuan... jangan..." Felicia menggeleng, suaranya pecah menjadi desahan yang tak terkendali.
Pinggulnya tanpa sadar bergerak, menggesekkan diri pada tonjolan keras di antara paha Devano. Semakin ia berontak, semakin kuat Devano menekannya ke meja.
Devano mencium Felicia semakin dalam dengan napas yang mulai tidak beraturan, seolah seluruh kesabaran yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh malam ini. Tidak ada kekasaran dalam gerakannya, tetapi justru itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih memabukkan.
Tangannya membelai pinggang Felicia erat, menarik tubuh gadis itu semakin dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Setiap sentuhan Devano terasa terburu-buru namun penuh rasa lapar yang sudah terlalu lama dipendam.
“Kamu benar-benar...” bisiknya serak di sela ciuman panjang itu, seolah hanya menyebut nama gadis itu saja sudah cukup membuat dirinya kehilangan kendali.
Pria itu kembali merebut bibirnya tanpa jeda. Ciumannya panas, dalam, dan menggebu, membuat Felicia kesulitan mengambil napas.
Sesekali Devano menarik bibir bawah gadis itu pelan sebelum kembali menciumnya seakan tidak pernah merasa cukup.
Napas mereka saling bertabrakan. Tubuh Felicia terus gemetar setiap kali Devano sengaja merapatkan dirinya lebih dalam, sementara pria itu hanya memejamkan mata sesaat, menikmati kedekatan yang selama ini mati-matian ia tahan.
Devano bicara dengan suara dalam dan bergetar.
"Akhirnya aku bisa memilikimu."
"Lama sekali aku menunggu saat ini."