2. Adik Kesayangan Abang

1338 Kata
Keizara membeli lontong sayur seperti yang Zhavi sarankan, dia membawa ke taman samping dan melihat putrinya yang sudah bermain putaran besi dan duduk di atasnya, di saat anak-anak seusianya berangkat ke sekolah taman bermain, Syakira harus ikut merasakan penderitaannya. Dia menyuapi putrinya potongan kecil lontong sayur yang sengaja tak dipakaikan sambal itu. “Bunda, Aaa,” ucap Syakira membuka mulutnya karena Keizara justru melamun. “Eh sudah habis? Pintar anak bunda makannya,” ucapnya tersenyum tipis, dia kembali menyuapi putrinya. “Bunda juga maem dong,” tutur sang putri. Keizara mengusap kepala putrinya lalu menyuap makanan itu. Dia baru datang kemarin pagi, setelah mengurus perceraian dengan suaminya. Selama proses itu dia mengontrak tak jauh dari rumah mertuanya, selama menikah memang dia tinggal bersama suami dan mertuanya. Tekanan dari mertua, suami yang juga tempramental membuatnya tak tahan lagi. Dan yang terakhir, dia memergoki suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya, bukannya dibela, mertuanya justru menyalahkan Keizara dan berkata bahwa dia tidak merawat diri hingga suaminya berpaling pada wanita lain. Mengingat itu membuat Keizara kembali bersedih, dia bukan tidak mau merawat diri, namun ... gaji suaminya dikelola oleh mertuanya, dia hanya mendapatkan sebagian kecil jatah Syakira yang dia tabung diam-diam. Ingin bekerja pun dilarang oleh suaminya, alasannya agar dia fokus mengurus putrinya hingga dia sehari-hari hanya di rumah. Selama menikah Keizara hanya pulang satu kali, saat ayahnya meninggal beberapa tahun lalu. Itu pun dia harus mengemis pada suaminya agar diperbolehkan pulang, katanya tiket pesawat mahal, mertuanya berkata jika dia pulang pun takkan bisa membangkitkan ayahnya lagi. Keizara terus mengiba menangis baru lah akhirnya mereka bisa ke sini, hanya dua hari, setelah itu dia harus ikut kembali. Keizara terbangun dari lamunan, kembali menyuapi putrinya ketika melihat seorang wanita memakai setelan kerja yang tampak rapi, wajahnya yang dimake up, lipstik cerah, sepatu yang indah membingkai kakinya. Mungkin mereka seusia, tapi lihatlah, mereka sangat berbeda. Keizara tampak sangat sedih, seandainya dulu dia tidak memutuskan menikah cepat, mungkin dia bisa berada di posisi itu. Sekarang dia tinggal bersama ibunya, dengan adik perempuannya yang juga sudah menikah di rumah itu. Sementara kakak laki-lakinya tinggal cukup jauh, sekitar 20 km dari rumah ibunya. Katanya perumahan di sana masih murah sehingga dia dan istrinya memilih tinggal di sana. Di rumah, ibunya membantu menjaga dua anak adiknya karena adiknya bekerja di rumah sakit sebagai perawat. Sementara suaminya bekerja di perusahaan media. Rumah sang ibu memang tak terlalu besar, dia saja harus tidur sama ibunya saat ini. Kamarnya sudah dipakai untuk kamar anak dari adiknya. Setelah seporsi lontong sayur itu habis, Keizara masih menemani anaknya, hingga dia melihat adiknya sudah berangkat kerja dengan sepeda motor, diantar oleh suaminya. Baru lah dia hendak mengajak anaknya pulang, namun dia berpapasan dengan ayah Zhavi yang hendak membuka ruko. Pria itu menatap Keizara juga putrinya bergantian. “Kei?” sapanya, Keizara tersenyum tipis dan menyalami ayah Zhavi. “Om,” sapanya. Dia pun meminta Syakira menyalami ayah Zhavi. “Kapan sampai?” tanya ayah Zhavi ramah. “Baru kemarin pagi, Om. Lho Om buka usaha akuarium?” tanya Keizara mengintip dari celah pintu ruko yang terbuka. Ayah Zhavi terkekeh dan mendorong railing door itu lebih lebar. “Iya, Om kan suka ikan jadi sekalian saja buka usaha, sudah pensiun daripada bengong di rumah,” ucapnya. Dibandingkan dengan ibu Zhavi, memang ayah Zhavi terkenal ramah dan baik pada semua tetangga. “Wah keren Om,” ucap Keizara tulus, tidak dibuat-buat. “Anak kamu siapa namanya?” “Caca, Om.” Keizara mengusap kepala putrinya lembut. Ayah Zhavi tersenyum kian lebar. “Caca mau ikan? Eyang kasih satu ya,” ucapnya, “sini,” ajaknya. Caca melonjak senang dan meraih tangan ayah Zhavi untuk ikut masuk ke bagian dalam. Dipilihkan satu ikan mas koki kecil dan dimasukkan dalam plastik. Caca terlihat sangat senang menenteng ikan itu, setelah sedikit berbasa basi. Keizara pun mengajak anaknya pulang. Sepanjang jalan dia bisa melihat Caca begitu ceria tak sepertinya yang murung, hingga dia mendengar dering ponsel dari sakunya. Dia mengeluarkan ponsel itu dan meletakkan di telinganya salah satu temannya yang dia kenal di Sumatera menelepon. “Iya sudah aman kok, makasih ya kamu banyak bantu aku di sana,” ucapnya. “Aku mau cari kerja, nanti kulunasi semua pinjaman ke kamu ya. Jangan lah enggak enak aku hutang ke kamu,” imbuhnya. Tak berapa lama dia memutuskan panggilan itu. Temannya memang tak menagih hutang, hanya menanyakan keadannya namun Keizara cukup tahu diri untuk membalas budinya nanti. Sesampai di rumah, dia melihat ibunya yang tengah memakaikan baju dua cucunya, kedua anak dari adiknya, Elisa. Anak pertama berusia tiga tahun yang kedua satu tahun. Keduanya laki-laki yang sangat aktif. “Dari mana?” tanya sang ibu, tangannya sudah keriput dan dia tampak lelah di usianya yang menuju senja. “Beli sarapan, sekalian ajak Caca jalan-jalan, Bu,” jawab Keizara. “Ibu kan sudah masak, kenapa enggak makan di rumah?” tanyanya lagi. Keizara hanya tersenyum tak enak, diambil satu anak Elisa dan dia bantu memakaikan pakaiannya sementara Caca masih tampak memainkan ikannya dan memperhatikan dengan seksama. “Lagi pengen makan di luar,” jawabnya pelan. “Irit-irit Kei, kan belum kerja,” tutur sang ibu. Keizara hanya mengangguk pelan tidak mau membantah namun dia cukup tahu diri, seluruh kebutuhan rumah ini dipenuhi adiknya yang entah sejak awal dia datang tampak tak terlalu menyukai kehadirannya. Tak berapa lama terdengar suara mesin sepeda motor berhenti di depan rumah, lalu diikuti pintu yang terbuka, seorang pria tinggi berdiri, melepas helmnya dan tersenyum pada Keizara. “Bang,” ujar Keizara sambil berdiri, Afshan sang kakak yang beda usia hampir sepuluh tahun dari Keizara mengusap kepala adiknya yang menyalami sang kakak. “Maaf baru datang, kemarin lembur,” ucap Afsan. Keizara hanya mengangguk pelan, menutupi rasa sedih yang membuncah, selama ini dia sering mendapat transferan uang secara diam-diam dari kakaknya, tidak banyak, namun bisa untuk keperluannya. Dia juga tahu kakaknya tidak memiliki gaji yang besar, istrinya pun bekerja dengan usaha laundry rumahan yang tak terlalu besar. Tapi dia tahu kakaknya adalah sosok yang paling menyayanginya. Afsan menyerahkan kantung plastik berisi makanan untuk Keizara, “taruh kamar,” bisiknya, “Elisa pelit kalau masalah makanan, jangan sampai dia tahu,” imbuhnya membuat Keizara tersenyum tipis. Dia langsung membawa bungkusan itu ke kamar. “Keponakan Baba bawa apa itu? Ah ikan ya? Ayo cari toples,” sapa Afsan menggendong Caca dan mengajak ke belakang, dicarikan toples untuk meletakkan ikan itu. Sementara kedua anak Elisa hanya menatapnya dan ikut berlarian ke belakang. Ibu Keizara hanya duduk dalam diam, dalam hatinya dia merasa sedih melihat putrinya, namun dia pun tak berdaya di rumah ini. “Kamu mau tinggal sama abang?” ujar Afsan ketika Keizara menghampirinya duduk di teras. Keizara menggeleng, “rumah abang juga sempit, sudah ada dua anak abang yang gede-gede kan?” “Ya, tapi di sana lebih baik, kamu bisa bantu-bantu kakakmu laundry nanti dapat tambahan uang jajan sambil cari kerja,” ucap Afsan. “Nanti lah, Bang. Aku pikirin dulu ya,” ucap Keizara. Afsan hanya mengangguk lalu melihat suami dari adiknya pulang. Pria berkulit sawo matang itu hanya tersenyum tipis pada Afsan lalu masuk ke dalam. Afsan menghela napas panjang. “Kalau dia macam-macam, bilang abang,” ucapnya pelan nyaris berbisik. “Macam-macam bagaimana?” “Ya, namanya juga ipar laki-laki Kei, ya sudah abang mau kerja dulu ya, kamu jaga diri di rumah, pakai pakaian tertutup jangan pakai pakaian pendek terutama kalau ada dia,” pesannya. Keizara mengangguk lalu dia menyalami kakaknya yang ternyata sudah menggulung uang dan memberikan ke adiknya, “jangan bilang siapa-siapa, ini untuk kamu.” “Tapi ... bang?” “Sudah, pakai saja, itu uang halal kok,” ucap Afsan. Keizara tak tahan untuk tidak memeluk kakaknya, dipeluk tubuh kurus sang kakak dan dia menangis di dadanya. Afsan mengangkat kepalanya agar tidak meneteskan air mata, diusap kepala adiknya. “Setelah ini, janji sama abang, kamu harus bahagia ya,” ucapnya. Keizara hanya mengangguk lalu menyeka air matanya. Jika dunia jahat padanya ... dia tahu ada satu orang yang baik yang akan selalu ada di sisinya, yaitu abangnya! Bang Afsan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN