Makan malam seharusnya menjadi waktu paling menyenangkan bagi keluarga yang berkumpul kembali setelah terpisah lama, namun ... sepertinya tidak terjadi di rumah keluarga Keizara.
Naufal, suami dari Elisa baru saja berangkat kerja, dia memang mendapat tugas malam di perusahaannya bulan ini sehingga dia tak ikut makan malam keluarga. Sementara kedua anak Elisa disuapi oleh ibu Keizara.
Keizara menyendok nasi sepiring, dia berniat makan berdua dengan Syakira putrinya sambil menyuapinya. Elisa baru saja selesai mandi dan ikut berada di meja makan. Ibu Keizara mengambil kotak makanan dari arah rak lauk dan membukanya di hadapan Keizara.
“Ibu buatkan cumi cabai hijau, makanan kesukaan kamu Kei, makan yang banyak,” ucap sang ibu. Wajah Elisa tampak mengeras ketika Keizara menyendok makanan itu dan memindahkan ke piringnya.
“Ibu mulai nyembunyiin makanan? Tadi saat aku buatkan bekal Bang Naufal, enggak ada tuh cumi?” seloroh Elisa. Ibu Keizara tampak sedikit salah tingkah.
“Bukan nyembunyiin,” jawabnya, “memang ibu masaknya enggak banyak,” tambahnya.
“Oh jadi ibu kayak gitu sekarang, ibu harusnya tahu yang selama ini membeli beras, lauk pauk siapa di rumah ini?” tanya Elisa.
“El, sudah lah,” tutur Keizara, “ini juga masih banyak, bisa ditaruh kulkas nanti,” ucap Keizara. Melirik putrinya yang tampak mengkerut sedikit takut.
Elisa mendelikkan matanya ke arah sang ibu yang mulai membuka mulutnya mencari pembelaan, “ini ibu enggak pakai uang belanja kamu El, ibu tadi dikasih duit sama Afsan,” ucap ibu Keizara. Keizara mendengus, membanting centong nasi dan tak jadi makan. Dia pun meninggalkan meja makan, membawa kedua anaknya serta, masuk ke kamarnya.
Tak berapa lama dia keluar kamar lagi, membawa gendongan dan menggendong anaknya yang paling kecil.
“Mau ke mana El? Sudah malam,” tutur ibunya.
“Mending aku makan di luar sekalian!” gerutunya, dia benar-benar meninggalkan rumah itu dalam keadaan emosi.
Sejak kemarin memang Elisa tampak begitu sinis dengan kehadiran Keizara, membuat Keizara sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Elisa? Mengapa dia begitu membenci kakaknya sendiri?
“Sudah kita makan saja, dia memang begitu sifatnya tempramen,” ucap ibu Keizara, dia pun mengambil makanan dan membantu menyuapi Syakira.
Keizara hanya menghela napas panjang, menatap wajah lelah sang ibu, “nanti kalau aku keterima kerja, ibu enggak perlu jaga Caca, aku titip Caca ke Daycare saja, ibu sudah kerepotan seperti ini,” tutur Keizara.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya, “Caca kan sudah besar, enggak akan merepotkan ibu,” ucapnya sambil tersenyum lirih. Keizara tak bisa berkata apa-apa lagi, dia berpikir bahwa mungkin memang Elisa sedang ada masalah di rumah sakit sehingga dia melampiaskan amarahnya di rumah.
Namun, ternyata Elisa terus menerus tantrum di hadapan Keizara meski kakaknya itu sudah seminggu lebih tinggal bersamanya. Dia jadi lebih tempramen, membanting barang, menyindir secara terang-terangan tentang beras yang lebih cepat habis, atau token listrik yang harus cepat diisi. Ada saja hal yang membuatnya kesal.
Keizara mencoba bersabar, dia tahu jika dia pergi dari rumah ini saat ini hanya akan membuatnya sengsara nanti, dia mau tinggal di mana? Terlebih dia memiliki Caca yang masih kecil, dia tak mau membuat anaknya kesulitan karena keputusannya bercerai.
Pukul satu malam Naufal pulang ke rumah, setelah mandi dia memasuki kamarnya. Diusap punggung istrinya untuk membangunkannya.
“Mah,” panggilnya.
“Apa sih?” sungut Elisa.
“Sudah seminggu, aku belum dapat jatah,” ucap Naufal.
“Aku capek ah! Besok aja!” gerutunya sambil menarik selimut sampai d**a.
“Tapi dari kemarin juga bilangnya besok, ayo lah sebentar saja,” tutur Naufal memijat tangan sang istri namun Elisa justru menepis tangan itu dan membalik tubuh menghadap ke dinding.
Naufal menghela napas panjang, dia kesal namun dia tak bisa memaksa istrinya, dia tahu sifat Elisa yang tak bisa dipaksa dan akan semakin marah.
Dia pun memutuskan keluar dari kamar, ketika dia berjalan ke arah dapur, dia melihat Keizara yang mengambil minuman dingin di kulkas. Dia mengenakan daster rumahan yang pendek, Naufal tak pernah melihat wanita itu memakai pakaian sependek itu.
Sejak Keizara datang dia memang jarang bertegur sapa karena Keizara terus menunduk tak mau menatapnya, dia juga selalu memakai celana panjang di rumah. Kini Naufal bisa melihat kakinya yang mulus dan bersih.
Keizara tak menyadari kehadiran Naufal karena lampu yang memang sudah dimatikan, lampu dari kulkas membuat siluet tubuhnya tercetak jelas, dia jelas tak memakai penutup d**a di balik daster tipisnya karena memang dia sudah mau tidur.
Keizara tadi tidak bisa tidur karena mengirim banyak lamaran pekerjaan di beberapa aplikasi pelamar kerja, sampai saat ini belum ada satu pun perusahaan yang memanggilnya untuk interview, mungkin memang jaman sedang sulit sehingga dia pun kesulitan mendapat pekerjaan.
Ketika dia merasa ada yang memperhatikanya, dia pun membalik tubuh namun Naufal dengan cepat bersembunyi di ruang tamu. Keizara menggelengkan kepalanya, mungkin hanya firasatnya saja.
Dia pun memutuskan ke toilet, dia belum menyikat gigi dan mencuci wajahnya, kebiasaannya sebelum tidur agar wajahnya tetap bersih.
Kamar mandi terletak dekat dapur, Keizara memasuki kamar mandi itu dan hendak menutupnya.
“Ini kok macet ya?” ujarnya, dia menarik paksa pintu kamar mandi yang bagian kuncinya memang bolong, katanya anak Elisa pernah terkunci sehingga terpaksa bagian handelnya dibobol dan ditutup dengan solatip hitam yang kini pun sudah sedikit robek.
Keizara tak menaruh curiga, toh semua orang sudah tidur, dia mengunci dengan kunci selop.
Dia bersenandung kecil untuk mengusir sepi, mengambil sabun cuci muka dan menggosok pelan wajahnya, dia tak tahu di balik pintu itu ada mata yang mengintipnya.
Naufal, tak bisa menahan hasratnya lagi, dia menarikan jemarinya di bagian inti tubuhnya, napasnya tertahan dan jantungnya berdebar keras, ketika Keizara membilas wajahnya, bagian depan tubuhnya bergoyang membuat gairah Naufal kian bergelora.
“Euhmmm ahhh,” desisnya.
Keizara seperti mendengar desisan, menghentikan senandungnya dan mematikan kran air. Dia menelengkan kepalanya berpikir apa ada orang di luar? Atau dia salah dengar.
Naufal menyadari lenguhannya yang keluar dari bibirnya, dia bahkan sudah mendapat pelepasannya, bergegas dia menuju kamarnya sambil mengendap-endap, ketika Keizara membuka pintu toilet, tak didapati siapa pun di sana, dia pun berpikir bahwa dia salah dengar.
Malam itu berlalu begitu saja, ditutup dengan Naufal yang tersenyum puas, mungkin untuk selanjutnya dia akan mengintip kakak iparnya itu mandi atau melakukan hal lain, diakui olehnya Keizara memang cantik, jauh lebih cantik dibanding istrinya. Kini ada hal yang menarik perhatiannya di rumah itu.
Hal yang tak pernah Keizara bayangkan sebelumnya.
Pagi hari, ketika Elisa bersiap berangkat kerja, Keizara justru tengah mengikat rambut Syakira yang baru selesai mandi. Elisa melewatinya sambil mengentakkan kaki. Suaminya tentu masih tidur di kamar.
“Enaknya di rumah santai-santai, makan tinggal makan, minum tinggal ambil,” sindir Elisa sambil memakai sepatunya.
“El, aku mau tanya, sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama aku?” tanya Keizara yang merasa tak tahan lagi dengan sindiran Elisa. Dia pun memberi sisir ke tangan Syakira, “bawa masuk ya Ca, Caca tunggu bunda di dalam,” bisiknya.
Elisa mendengus dan menatap kakaknya dari atas sampai bawah, “kamu masih tanya kamu salah apa?”
“Ya aku enggak tahu kalau kamu enggak bilang? Katakan biar aku bisa perbaiki salahku di mana? Aku juga lagi cari-cari kerja tapi kan memang belum dapat,” ujar Keizara.
Elisa berdiri menatap kakaknya dengan pandangan tajam.
“Kamu tahu?” tunjuknya, “kamu bisa kuliah karena dibiayai ayah! Dengan uang pensiunnya, berharap setelah kamu lulus dan dapat kerja kamu bisa membantu biaya kuliahku! Membantu rumah! Tapi apa yang kamu lakukan Kak? Kamu malah nikah, pergi jauh tanpa balas budi ke ayah!”
Keizara hanya terdiam, “kamu ingat aku masih semester satu saat itu! Aku harus kerja sambil kuliah, enggak kayak kamu yang enak-enakan fokus kuliah! Kamu enggak tahu kan ayah mulai sakit-sakitan! Aku yang cari uang untuk berobat. Apa ada kamu menjenguknya? Atau seenggaknya kirim uang sedikit aja? Enggak kan! Harusnya kamu sadar kamu cuma jadi beban selama ini!” tuding Elisa.
Ibu Keizara yang mendengar keributan itu, dia pun keluar.
“Kalian ada apa sih? Masih pagi dan ini di teras, malu kalau kedengeran tetangga,” ujar sang ibu.
“Bela terus anak kesayangan ibu ini! Anak yang paling nyusahin!” tunjuk Elisa.
“El, cukup!” ujar Keizara, “aku tahu aku salah karena aku memutuskan untuk langsung menikah, aku juga enggak tahu kalau pernikahanku akan sekacau itu, ini bukan komitmen yang disepakati aku dan ayahnya Caca. Karena itu aku memilih berhenti, aku juga mau bantu di rumah tapi aku belum bisa.”
“Ya ... dan selamanya kamu hanya akan jadi beban!” ujar Elisa.
Ibu Keizara mengusap dadanya yang terasa sesak, Elisa menyeka air mata yang tiba-tiba menetes, dia marah namun mengeluarkan air mata, dia sangat kesal dengan kakaknya yang menurutnya merenggut masa mudanya sehingga dia harus bersusah payah mengurus ayahnya yang sakit-sakitan, juga biaya rumah.
Elisa pun berjalan cepat menuju sepeda motor matiknya, sementara Keizara hanya menunduk, ibunya menghampirinya ketika Elisa sudah melajukan motor meninggalkan rumah itu.
Keizara memeluk ibunya, “maafin aku ya Bu, karena keegoisanku dulu,” isak Keizara.
Ibunya mengusap kepala putrinya, “enggak apa-apa Nak, sudah jangan pikirkan ucapan Elisa ya, dia hanya lagi capek aja,” bisik ibunya lirih.
Keizara mengangkat wajahnya, “aku janji Bu, kalau aku dapat kerja, aku akan ganti semuanya ya,” ucap Keizara pelan. Ibunya hanya mengangguk, dan mereka tak menyadari seorang pria memakai kaos running berdiri tak jauh dari rumah itu, menatap Keizara yang menangis memeluk ibunya. Entah mengapa hatinya pun ikut sakit. Arzhavian! Mulai berpikir apakah dia bisa membantu Keizara, setidaknya meringankan sedikit bebannya!
***