6. Sandaran Sementara

1393 Kata
Keizara pulang bersama Syakira, mereka langsung masuk ke dalam. Tampak kedua anak Elisa berbaring nyaman sambil menonton televisi. Botol s**u ada di tangan mereka. Syakira menarik tangan ibunya, “bun, kok sudah besar masih ngedot?” tanyanya. Keizara hanya mengusap kepala Syakira, “enggak apa-apa biarin aja ya, kalau Caca kan sudah enggak ngedot kan,” ucap Keizara. Syakira hanya mengangguk. “Kamu dari mana?” tanya ibu Keizara menatap putrinya dengan pandangan pilu. “Habis dari taman belakang, Bu.” “Ajak Caca makan dulu, ibu sudah masak sayur bayam,” ucapnya lembut. Keizara hanya mengangguk, meskipun dia merasa sangat enggan makan sekarang, tidak bernafsu. Dia memilih menyuapi putrinya sambil terus menggulir ponselnya, mencari lowongan pekerjaan. Dia juga bertanya pada teman-teman kuliahnya dulu. Barang kali di tempat mereka ada lowongan pekerjaan untuknya. Keizara tak mau berpangku tangan begitu saja, menunggu panggilan kerja, sementara waktu terus berjalan. Sore hari ketika Elisa pulang kerja, Keizara memilih di kamar. Bukan karena dia membenci adiknya, namun dia tak mau membuat adiknya itu semakin muak melihatnya. Sampai besok pagi menjelang subuh Keizara berada di kamar, hingga dia memutuskan untuk mandi sebelum orang-orang bangun. Dia membawa handuknya, memastikan tak ada orang yang sudah bangun. Ketika dia menutup pintu dia sempat mendengar langkah kaki, namun dia berpikir bahwa mungkin itu hanya firasatnya saja. Keizara membuka pakaiannya satu persatu. Hawa dingin menyergapnya begitu saja. Baru pukul empat pagi, tentu saja udara masih terasa dingin. Ketika Keizara menyiram tubuhnya, dia mendengar suara lagi dari arah luar. Namun dia sempat berpikir apakah itu tikus? Keizara sengaja memperlambat menyabuni tubuhnya sambil berusaha mencuri dengar. “Ssssshhhh Ah.” Terdengar suara desahan dari arah pintu. Tubuh Keizara menegang. Dia melirik ke arah pintu yang tertutup rapat, hingga dia menemukan lubang kecil di bagian kunci pintu kamar mandi yang memang rusak. Ada ... sebuah mata di sana. Keizara merasa freeze seketika, dia mengambil gayung dan menyiram dari atas pintu tempat ventilasi udara. “s**t!” Suara seorang pria. Keizara menutup mulutnya, dia langsung memakai handuk, terdengar suara langkah kaki orang berjalan cepat. Keizara membuka pintu kamar mandi, bertepatan dengan pintu kamar adiknya yang baru saja menutup. Lalu dia bisa melihat jejak kaki yang basah menuju ke kamar adiknya. Apakah ... adik iparnya mencoba mengintipnya? Lalu Keizara menatap daun pintu, ada cairan laki-laki di sana, tak perlu menelitinya karena dia tahu bentuk dan warnanya. Dia terpaku, dia hampir terjatuh duduk. Jika Elisa tahu bukankah akan semakin kacau? Keizara memutuskan masuk kembali ke kamar mandi dan membilas tubuhnya sambil menangis, tentu saja dengan terburu-buru. Dia memakai pakaiannya dan masuk ke kamar ibunya. Suara isakannya terdengar oleh sang ibu, Keizara merapikan pakaiannya dan menjejalkan dalam tas. “Kei,” panggil ibunya yang terbangun. Keizara menyeka air matanya dengan kasar. “Kamu menangis?” tanya ibunya. Keizara menggeleng, lalu dia membangunkan putrinya, “Ca ... Caca bangun yuk,” ucap Keizara. Putrinya hanya mengulet. Ibu Keizara langsung beringsut duduk di samping putrinya, “kamu kenapa, Nak?” tanya ibunya. Keizara menggeleng, “berantem lagi sama Elisa?” Lagi-lagi Keizara hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, masih sambil membangunkan putrinya. Syakira mengulet, matanya mengerjap menatap ibunya yang menangis. Ibu Keizara memeluk putrinya. “Nak? Kenapa?” tanyanya, “ada yang ganggu kamu?” Keizara masih menggeleng, memegang tangan ibunya agar melepas pelukan yang terasa menyesakkan itu. Dia pun membantu Syakira duduk, “bunda kenapa?” tanya Caca mengucek matanya sendiri. “Caca siap-siap ya ganti baju, kita ke rumah Baba Afshan,” tutur Keizara. “Tapi kata Bunda rumahnya jauh,” ujar Syakira. “Bu, tolong bantu Caca ganti baju,” ungkap Keizara. Dia kemudian berjalan ke sudut kamar, dia membuka ponselnya mencari nama yang kira-kira bisa membantunya, hingga dia melihat kontak Zhavi, yang baru saja dia simpan tadi pagi. Mungkin tidak apa-apa jika dia merepotkannya, hanya sekali ini kan? Dia sangat membutuhkan pertolongannya. Keizara mengetik pesan, “Zhav,” tulisnya. Cukup lama pesannya tak dibaca Zhavi, mungkin pria itu masih tidur. Keizara merasa sangat muak saat ini, dia takut dan memikirkan betapa kotor dirinya yang dijadikan bahan untuk adik iparnya sendiri. Hingga dengan nekat Keizara menelepon Zhavi, setelah dua kali dering panggilan pun diterima Zhavi. “Kei? Ada apa?” Suara Zhavi terdengar serak di sambungan telepon itu, sepertinya dia benar-benar baru bangun tidur. “Zhavi, bisa tolong aku?” tanya Keizara dengan suara bergetar, dia menggigit kukunya sendiri, melirik Syakira yang sudah digantikan baju oleh ibunya. “Bisa Kei, bisa. Jadi bagaimana?” tanya Zhavi yang mendengar Keizara yang suaranya tergugu, bahkan dia bisa mendengar isakan lolos dari bibir temannya itu. “Antar aku ke rumah bang Afshan.” “Sekarang?” “Bisa kah?” “Bisa, pasti bisa, ya sudah aku bawa mobil ke depan rumah kamu ya,” ucap Zhavi. Keizara menghela napas lega. “Makasih Zhav,” ucapnya. Zhavi mengiyakan, dia membiarkan Keizara memutuskan panggilan itu. Dia langsung mencuci mukanya dan menyikat gigi, setelah itu dia keluar dari kamarnya. Di bawah dia bertemu dengan ibunya yang baru bangun. “Mau ke mana buru-buru?” tanya sang ibu. “Ada urusan sedikit Bu,” ucap Zhavi, dia meninggalkan ruangan itu, membuka pagar dan membawa mobilnya. Di depan rumah Keizara dia melihat wanita itu yang sudah menenteng tas besar, sementara Syakira tampak masih mengantuk bersandar di tubuhnya. “Kei,” panggil Zhavi seraya turun dari mobil, dia menuntun Syakira agar duduk di belakang, lalu dia membukakan pintu untuk Keizara di depan. “Bunda,” panggil Syakira ketika Keizara sudah duduk, “ya Sayang?” ujar Keizara. “Aku boleh bobo lagi?” tanyanya dengan suara yang sedikit berat. “Ya, boleh sayang,” ucap Keizara sambil menyeka sudut matanya. Zhavi melihat ibu Keizara yang mematung di tempat Keizara berdiri tadi, wajahnya tampak sedih dan juga tak berdaya. Hingga Zhavi membawa mobil itu di pagi buta, bahkan matahari saja belum muncul. Di perjalanan menuju depan perumahan, Syakira sudah kembali tertidur memeluk boneka beruangnya. Keizara menoleh untuk memastikan putrinya tertidur. “Sebenarnya ada apa Kei? Kamu ribut lagi dengan Elisa?” tanya Zhavi. Keizara menggeleng. “Sama ibu?” Lagi-lagi Keizara menjawab dengan gelengan kepalanya, tidak mungkin dia berkata bahwa dia baru saja mendapati dirinya menjadi bahan fantasi adik iparnya sendiri. “Ya sudah kalau enggak mau cerita sekarang, enggak apa-apa,” ucap Zhavi, “tapi kamu tahu kan kamu bisa selalu meminta pertolongan aku, kapan pun kamu butuh.” “Iya Zhav, terima kasih ya,” ucap Keizara. Dia memandang jalanan di depannya, masih gelap, sama seperti hatinya. Bagaimana dia bicara pada kakaknya nanti? Dia khawatir kakaknya akan marah pada adik iparnya dan membuat hubungan Elisa dengan suaminya jadi berantakan? “Kita beli makanan dulu ya, untuk Caca dan anak-anak bang Afshan,” ujar Zhavi menyadarkan lamunan Keizara yang hanya mengangguk pelan. “Sudah jangan nangis terus,” imbuhnya. “Aku bingung banget Zhav,” ucap Keizara pelan, “aku harus apa? Bagaimana kehidupanku kedepannya, ternyata ... menjadi janda sulit juga,” isaknya tertahan. Zhavi mendengarkan Keizara, tangannya terulur menepuk bahu Keizara pelan. “Sabar.” “Aku mati aja kali ya,” cicitnya. “Hei, enggak boleh ngomong sembarangan,” sungut Zhavi. Wajahnya mengeras, matanya melirik Keizara. “Kamu masih dikasih nyawa, masih dikasih kesempatan bernapas, banyak orang yang sudah mati, ingin kembali hidup tahu enggak?” “Aku ... aku bingung.” “Kamu lihat Caca, kalau kamu pergi ... siapa yang bisa dia andalkan? Kamu bilang ayahnya bahkan enggak peduli lagi sama dia kan?” Bukannya mereda, tangisan Keizara justru kian kencang. Kini tangan Zhavi kembali terulur, membelai kepala Keizara lembut. “Sini,” ujarnya menarik bahu wanita itu agar bersandar padanya. Keizara bersandar di bahu Zhavi, membiarkan tangisannya tumpah sementara Zhavi mengusap lengannya dalam rangkulan. “Kamu harus sabar, kamu pasti bisa lalui semua ini. Aku janji akan membantu kamu.” “Aku enggak mau jadi beban siapa-siapa Zhav, meskipun itu kamu.” “Enggak, aku enggak akan menganggap kamu beban. Kalau kamu sudah memutuskan untuk membuka usaha, aku akan bantu. Kalau kamu mau bekerja, aku akan bantu cari pekerjaan. Pasti ada, relasiku banyak. Kamu mau kerja di mana? Sebagai apa? Tapi kalau kamu menyerah ... aku enggak akan pernah mau kenal kamu lagi sampai kapan pun.” Keizara mengangkat wajahnya untuk menatap Zhavi, sesaat dia merasa beruntung, di saat terberatnya. Ada seorang yang mendampinginya seperti ini, yang bisa menjadi sandarannya, meskipun dia tak tahu sampai kapan dia bisa bersandar pada pria ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN