Perjalanan menuju pinggiran kota tak jauh dari Ibu Kota terasa hening, ketika Zhavi memutar stirnya menggunakan kedua tangan, Keizara pun menarik tubuhnya dari sandaran itu, ada sedikit rasa kehilangan, namun Zhavi tahu posisi itu tak terlalu nyaman bagi Keizara.
Syakira masih tertidur di kursi belakang, sesekali bergumam kecil dalam tidurnya. Keizara menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang dia lewati, seperti menghitung mundur menuju bab baru kehidupannya yang entah seperti apa?
Zhavi sempat menghentikan mobil di sebuah drive thru restoran cepat saji yang buka 24 jam, tanpa banyak tanya, Zhavi memesan cukup banyak paket sarapan, nasi, ayam, burger, minuman hangat. Lebih dari cukup untuk satu keluarga.
Keizara menoleh heran ketika mendapat bungkusan itu, “kebanyakan, Zhav,” tuturnya.
Zhavi hanya mengangkat bahunya pelan, “datang subuh-subuh gini, masa enggak bawa apa-apa, Kei,” ucapnya sambil tersenyum. Nada bicaranya memang santai, namun ada ketulusan yang dapat dirasakan Keizara. Dia hanya diam, namun dadanya terasa menghangat lagi setelah sandaran tadi.
Perjalanan pun dilanjutkan, semakin jauh dari pusat kota, jalanan mulai menyempit. Rumah-rumah berdiri lebih rapat, beberapa tampak sederhana dengan cat yang mulai pudar. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar besi yang sedikit berkarat.
“Nah, kita sudah sampai,” ucap Zhavi pelan.
Keizara menarik napas panjang sebelum turun. Rumah itu tidak buruk, namun dia merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyergapnya.
Pintu dibuka oleh Afshan dengan wajah yang masih mengantuk, namun begitu melihat Keizara, ekspresinya langsung berubah.
“Kei,” ucapnya pelan, lalu dia menarik adiknya ke dalam pelukan singkat.
“Bang,” panggil Keizara dengan suara yang gemetar.
Afshan kemudian menyadari keberadaan Zhavi di belakangnya, mereka sempat bertatapan lalu Zhavi mengangguk sopan.
“Terima kasih ya Zhav sudah antar Kei,” ucap Afshan. Zhavi mengangkat kantong-kantong makanan. “Sekalian beli sarapan,” ucapnya. Afshan terlihat sedikit sungkan, namun tetap menerimanya. Sementara itu Zhavi kembali ke mobil, menggendong Syakira dan membiarkan Keizara mengambil tasnya di kursi belakang.
Mereka masuk ke dalam rumah, suasana masih sepi, namun dari salah satu kamar terdengar suara seseorang menggerutu pelan. Tak lama Kina, istri dari Afshan keluar dengan wajah datar, rambutnya masih berantakan, dia mengikatnya asal saat keluar dari kamar.
“Oh, sudah sampai,” ucapnya singkat. Tadi Afshan menerima pesan yang mengatakan bahwa Keizara akan ke rumahnya dan meminta izin tinggal sementara di rumah itu.
Tatapannya ke arah Keizara, lalu ke tas-tas yang dibawa sebelum akhirnya beralih ke kantong yang berada di tangan suaminya.
“Banyak banget?” komentarnya datar. Keizara langsung merasa tidak enak hati, diturunkan Syakira yang sudah terbangun itu dari gendongan Zhavi.
Zhavi menoleh ke arah Keizara dan tersenyum tipis, lalu dia menatap kakak ipar dari Keizara itu, “biar enggak repot masak pagi-pagi,” ucapnya.
Kina hanya mengangguk singkat lalu mengambil kantung makanan itu dari tangan suaminya tanpa banyak basa-basi.
Tak lama kemudian, dua anak perempuan keluar dari kamar masing-masing. Clara, anak pertama Afshan sudah sekolah SMA usianya 17 tahun, dia cukup cantik dengan rambut panjang. Sementara Cleo baru kelas 6 SD, rambutnya lebih pendek dari Clara dan dia sedikit tomboy. Kedua remaja itu menatap keizara dengan ekspresi tak bersahabat dan tatapan dingin.
“Nanti kalian berdua tidur satu kamar lagi di kamar Clara, kamar Cleo akan ditempati tante Kei,” ucap Kina singkat tanpa benar-benar melihat mereka dan memilih menata makanan itu di meja.
Clara langsung mendesah pelan, “serius, Ma?”
“Sudah enggak usah banyak protes,” potong Kina. Tatapan Clara beralih ke Keizara, tajam dan tidak menyembunyikan ketidaksukaannya, Keizara menunduk, menggenggam tangan Syakira lebih erat.
Zhavi yang melihat itu semua hanya diam, rahangnya mengeras sedikit. Dia tahu ini tidak mudah untuk Keizara. Pria itu pun berpamitan pada Afshan dan istrinya.
“Om, mau ke mana?” gumam Syakira dengan suara yang serak.
Zhavi berjongkok, mengusap kepala Syakira, “om mau kerja dulu ya,” ucapnya.
Syakira mengangguk pelan, meski terlihat enggan melepas. Keizara mengantar Zhavi sampai depan pagar. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
“Kamu yakin tinggal di sini? Aku bisa kok menyewakan rumah untuk kamu dan Caca,” ucap Zhavi seraya mendesah pelan, ada rasa getir di dadanya.
“Enggak apa-apa, aku bisa di sini Zhav.”
“Kalau ada apa-apa, janji untuk bilang ke aku? Oke?” ujar Zhavi akhirnya.
Keizara mengangguk, memaksakan senyumnya, “makasih ya, Zhav.”
Zhavi menatapnya lebih lama, seolah ingin memastikan bahwa dia benar-benar akan baik-baik saja sebelum akhirnya masuk ke mobil dan pergi.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, Keizara menarik napas panjang dan berbalik masuk.
Di dalam, semua sudah berkumpul, duduk mengelilingi meja, Syakira duduk di pangkuan Afshan yang menyuapinya ayam. Sementara Clara memakan burger. Afshan sedikit menggeser duduknya, “sini Kei,” panggilnya. Keizara tersenyum tipis dan duduk di samping kakaknya.
Kina tampak makan ayam tepung itu bersama dengan Cleo yang hanya sesekali melirik sinis ke arah Syakira dalam pangkuan Afshan.
“Sini bang, Cacanya,” gumam Keizara tak enak hati karena bisa melihat pandangan iri dari Cleo.
“Sudah enggak apa-apa, kamu makan aja,” ucap Afshan. Keizara makan dalam diam, sesekali Kina mengoceh pada kedua anaknya untuk menyuruhnya langsung mandi dan berangkat sekolah.
Setelah membereskan bajunya di kamar Cleo dan memandikan Syakira. Keizara kembali ke luar kamar, dia melihat Clara yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, dia tengah memakai sepatu sementara Cleo membawa gelas ke arah dispenser.
Afshan sudah berangkat kerja dan Kina berada di ruang depan tempat usaha laundry mereka, Clara yang sejak tadi diam kini mulai menunjukkan sikap keberatannya.
“Air galonnya habis,” ucap Cleo. Clara yang selesai mengikat tali sepatunya itu mengangkat wajahnya menatap Keizara yang menoleh dan sedikit bingung.
“Ya isi lah, galonnya di belakang,” ujar Clara menatap Keizara. Belum sempat Keizara merespon, Cleo meletakkan gelas itu cukup kasar di dekat meja, “lantai juga belum disapu, kotor banget.”
Nada mereka berdua bukan seperti permintaan melainkan perintah. Keizara menunduk, lalu mengangguk pelan.
“Iya,” jawabnya. Dia membawa galon dari arah belakang dan mengganti ke atas dispenser meski agak kesulitan karena berat. Syakira duduk di pojok memeluk bonekanya, sesekali menatap ibunya dengan mata bingung.
Kedua anak Afshan kemudian meninggalkan ruangan itu untuk berangkat sekolah, Clara biasanya yang membawa kendaraan dan dia mengantar Cleo dulu sebelum ke sekolahnya.
Keizara mengambil sapu, dia cukup tahu diri untuk membantu di rumah itu sebelum mendapatkan pekerjaan.
Kina membawa keranjang pakaian kotor lalu menoleh ke arah Keizara, “baru mau disuruh,” ucap Kina.
“Iya, Kak,” tutur Keizara.
“Nanti bantu laundry ya habis ngepel, kata bang Afshan kamu mau bantu-bantu kan? Ya anggap aja untuk bayar sewa kamar,” ungkapnya sambil lalu.
“Iya, Kak,” jawab Keizara lagi. Sesuatu seperti tercekat di tenggorokannya. Dia menoleh ke arah Syakira yang masih duduk memandangnya.
“Sebentar ya Caca,” ucap Keizara sambil tersenyum lembut. Meskipun dia diperlakukan seperti ini, namun setidaknya di rumah ini dia sedikit lebih aman di banding rumah ibunya.
***
Elisa sudah bersiap berangkat kerja, dia merapikan pakaiannya keluar dari kamar, melirik ke kamar ibunya yang pintunya masih tertutup rapat.
“Belum bangun tuh Tuan Putri?” sindirnya ke arah sang ibu yang sudah memakaikan baju anak-anaknya.
“Kakakmu sudah pergi sebelum subuh,” ucap ibunya tanpa melihat ke arah Elisa sama sekali.
“Pergi? Ke mana?” tanyanya dengan kening berkernyit.
“Ke rumah abangmu.”
“Halah di sana juga paling dijadiin pembantu!” cebik Elisa.
“Cukup El, biar bagaimana pun dia kakak kamu,” ucap ibu Keizara kini menatap putrinya. Elisa memandangnya dengan tatapan tajam.
“Kakak yang hanya jadi beban!”
“Kamu enggak boleh bicara seperti itu, kamu enggak tahu kehidupannya yang sebenarnya bagaimana? sudah berangkat aja nanti kesiangan,” ucap ibunya membuat Elisa mengentakkan kakinya kesal. Lalu dia meninggalkan rumah itu dengan ekspresi kesal yang tak ditahannya.
Saat memanaskan motor dia melihat ibu Zhavi melewati rumahnya, sepertinya wanita itu habis membeli sayur.
“Pagi Lisa,” sapa ibu Zhavi.
“Pagi budeh, habis belanja?” sapa Elisa ramah meski masih kesal dengan Keizara, namun dia tak mungkin tetap bersikap kesal pada orang yang menyapanya dengan baik Kan?
“Iya nih, ngomong-ngomong kakakmu mana? Enggak kelihatan? Biasanya suka nyapu halaman pagi-pagi,” ucap ibu Zhavi mencari tahu.
“Kakak tinggal di rumah bang Afshan, Budeh. Subuh tadi berangkat,” ucap Elisa, lalu dia naik ke motornya, “berangkat dulu ya Budeh,” ujarnya bersiap melajukan sepeda motornya.
“Oh gitu, ya sudah hati-hati ya Nak,” tutur ibu Zhavi. Elisa hanya berterima kasih lalu melajukan kendaraan roda duanya.
Ketika Elisa pergi, ibu Zhavi kembali berjalan cepat ke rumahnya, rupanya mobil Zhavi sudah bertengger di depan rumah. Dia melihat Zhavi yang keluar sambil memegang ponselnya. Dia juga mengeluarkan sepeda motornya, padahal biasanya dia naik mobil. Pasti karena sudah kesiangan makanya dia memilih membawa motor.
Zhavi mengulurkan tangannya untuk menyalami sang ibu, “berangkat ya Bu, sudah telat,” ucapnya.
“Ya gimana enggak telat kalau subuh-subuh nganterin janda itu!” sindir sang ibu dengan nada ketus.
“Bu?”
“Mau sampai kapan kamu nungguin dia Zhav? Ha? Dulu dia sudah ibu minta menjauh, kalian tuh enggak semestinya bersama. Kalian berbeda, harusnya kamu tahu itu?”
“Maksud ibu?” tanya Zhavi.
Ibunya memberi pelototan tajam pada Zhavi, “dari jaman dia masih gadis pun ibu enggak menyetujui hubungan kalian, ibu minta dia menjauhi kamu. Apalagi sekarang setelah dia jadi janda!”
Zhavi menghela napas panjang, dia ingin mendebat, namun dia ingat ada meeting pagi, sebelum terlalu telat dia pun menggelengkan kepalanya, “nanti malam kita bicara, aku berangkat dulu.”
Zhavi meninggalkan ibunya tanpa berkata-kata lagi. Sungguh! Dia baru tahu apa yang ibunya lakukan terhadap Keizara dulu. Mengapa Keizara tak pernah membahas tentang hal ini? Apa mungkin alasan Keizara dulu menarik diri darinya ... karena ibunya yang meminta?
***