9. Persimpangan

1654 Kata
Sesuai kesepakatan dengan ibunya, Zhavi yang biasanya tak mau ikut jika ada arisan keluarga pun kini dia ikut. Sebenarnya arisan itu bukan untuk keluarga inti, namun lebih ke pada pertemuan karena berasal dari asal daerah yang sama, sehingga yang ikut cukup banyak. Siang ini Zhavi yang membawa mobilnya, sementara ibunya duduk di kursi penumpang belakang, membawa tentengan yang entah isinya apa? Mungkin makanan? Ayah Zhavi duduk di samping Zhavi. Sesekali berkomentar tentang perjalanan atau pekerjaan Zhavi. Sejak semalam entah mengapa Zhavi merasa resah, dia sangat ingin memperjuangkan Keizara, namun dia juga tak mau Keizara diterima di keluarganya dengan rasa benci yang masih ada di hati sang ibu. Dia tak mau Keizara mendapat ketidak adilan sebagai seorang menantu nantinya. Rumah yang dikunjungi berada di sebuah kawasan perumahan di bilangan kota, pagar terbuka lebar, di sisi jalanan sudah banyak mobil berbaris juga kendaraan roda dua, tanda bahwa yang datang acara sudah cukup banyak. Zhavi menghela napas panjang sebelum keluar dari mobil. Ibunya menyodorkan kantung bawaannya untuk Zhavi bawa. Pria itu hanya bisa menurut untuk saat ini. Beberapa orang menyambut mereka, berbasa-basi menanyakan kabar Zhavi yang memang hampir tak pernah datang ke acara seperti ini karena kesibukan atau mungkin mencari sibuk agar memiliki alasan untuk tidak hadir. Hingga ibunya mengajak ke bagian dalam rumah, ke arah dapur. Zhavi masih mengekor membawa tentengan itu. “Mbak!” tukas sang tuan rumah, wanita yang tampak sedikit berisi itu menghampiri keluarga Zhavi dari arah dapur. Anak wanitanya mengikuti di belakang, tampak membetulkan pakaiannya sambil menunduk sehingga Zhavi tak dapat melihatnya dengan jelas. “Ini untuk tambahan makanan,” ucap ibu Zhavi meminta Zhavi menyerahkan bungkusan itu. Setelahnya Zhavi pun bersalaman padanya. “Zhavi, sudah besar kamu. Terakhir ikut waktu SMP kayaknya ya,” ucap wanita itu. Zhavi hanya mengangguk kecil. Tepatnya kelas 6 SD, setelah itu dia tak pernah mau ikut lagi karena membosankan. “Yah kalau enggak dipaksa enggak mau ikut,” gerutu ibu Zhavi. Zhavi hanya tersenyum tidak enak. “Nah ini kenalin,” ucap ibu wanita itu menarik anaknya yang masih tertunduk, ketika wanita itu mengangkat wajahnya setelah menatap tangan Zhavi, saat itu juga Zhavi tampak terhenyak! Dia mengenal wanita berkaca mata tipis itu. “Davira?” tanya Zhavi. Kedua orang tua mereka tampak terkejut. “Lho kenal?” tanya ibu Zhavi. Wanita berambut panjang itu tersenyum dan mengangguk, lalu membalas uluran tangan Zhavi. “Mas,” sapanya, “kami sekantor,” ucap Davira. Keluarga itu saling ber-ooh ria, lalu mereka tampak tersenyum senang. “Sudah kenal tho?” ujar ibu Davira. Davira mengangguk, entah hanya perasaan Zhavi atau dia melihat Davira yang sedikit tersipu. Usia wanita itu beda lima tahun di bawah Zhavi, dia memang bukan rekan satu divisi, namun dia memiliki sahabat yang satu divisi dengan Zhavi sehingga mereka sering makan bersama, atau kumpul di salah satu acara kantor. Tubuhnya mungil, sedikit kurus. Rambutnya selalu tertata rapi, senyumnya manis dan hidungnya mancung. Kulitnya putih seputih salju, dia tampak terawat dan memang dari keluarga baik-baik, tutur katanya selalu lembut bahkan saat dia marah sekali pun dia tak pernah meninggikan nada suaranya. “Bagaimana Arzhavian? Cantik kan Davira,” gurau ibu Zhavi sambil menepuk lengan Zhavi, pria itu hanya terdiam. “Dia mah kenal Bu, hampir setiap hari makan bareng,” tukas Zhavi, “ya kan, Dav,” imbuhnya. Davira hanya mengangguk pelan. “Ya sudah kalian ngobrol saja sana, enggak perlu ikut acara ini,” ucap ibu Davira. “Mas, mau ikut ke belakang, ada kolam ikan,” ajak Davira sambil sedikit menunduk. Zhavi hanya mengangguk, dia sudah menganggap wanita itu temannya juga, sehingga dia mengikuti Davira ke arah taman belakang. Kedua orang tua mereka tampak tersenyum senang dan melakukan tos, seolah perjodohan itu akan berjalan lancar. Di taman belakang ada bangku taman dari kayu berukuran panjang, di depannya ada kolam ikan mas, dinaungi pohon yang rimbun. Zhavi duduk lebih dulu sementara Davira mengambilkan minuman dan makanan ringan untuk mereka berdua. Davira meletakkan makanan dan minuman itu di sisi kanan Zhavi karena dia duduk di tengah bangku kayu panjang itu, lalu Davira duduk di sisi kiri Zhavi. “Rumah kamu enak ya adem, tapi repot banget nyapu daunnya setiap hari ini,” ucap Zhavi mengedarkan pandangan ke sekitar lalu mendongak menatap daun yang rimbun itu. Davira hanya mengangguk, “ya lumayan capek, apalagi ibu tiap pagi pasti ngomel nyuruh aku yang nyapu.” “Kamu enggak ada Mbak?” tanya Zhavi. “Ada, tapi tahulah ibu bilang harus aku yang nyapu, masih percaya hal-hal seperti itu,” ucap Davira. “Hmmm sama kayak ibuku,” celetuk Zhavi lalu mereka tertawa kecil, hal itu tak luput dari perhatian ayah Zhavi yang duduk bersama ayah Davira. Dia sedikit menunduk, lalu melanjutkan pembicaraannya. “Aku mau jujur,” ucap Zhavi. “Tentang?” “Alasan aku datang ke sini, ibu nyuruh aku dekat dengan kamu, bisa dibilang menjodohkan kita.” Ucapan Zhavi membuat Davira terdiam, senyum tipis terkembang di bibirnya. Sejak masuk kerja di perusahaan itu dua tahun lalu memang dia sudah jatuh hati pada Zhavi. Senior sahabatnya yang katanya memang menjadi favorit di kantor, bukan karena fisiknya yang rupawan. Namun juga attitude Zhavi, dia tak pernah membiarkan temannya kesulitan, dia sering membantu meski tak dimintai bantuan. Baginya team work lebih dari apa pun. Bahkan bukan hanya untuk urusan pekerjaan. Jika ada penggalangan dana atau kegiatan sosial, dia akan maju paling depan. Tak heran jika di usianya yang belum kepala 3 dia sudah menjadi manager divisi dan katanya akan ditunjuk menjadi manager umum. “Dav,” panggil Zhavi karena Davira hanya terdiam, melamun. “Ah iya,” ucap Davira tergagap. Zhavi menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar, “mikirin apa?” gurau Zhavi. “Kamu ... eh maksudnya perjodohan itu.” Zhavi mengangguk pelan, “tapi ... kalau memang kita merasa enggak cocok, kita enggak harus menikah.” Davira mengangguk, “jadi kita dekat saja dulu?” “Ya seperti biasa saja, kalau kamu enggak nyaman ngomong ya,” ucap Zhavi. Davira mengangguk, “kalau ... kamu sudah punya pacar, kamu bisa bilang sekarang,” cicit Davira. Pacar? Apakah dia bisa menganggap Keizara pacarnya? Ah wanita itu bahkan semingguan ini, sejak tinggal bersama Afshan semakin jarang membalas pesannya. Dia baru membalasnya ketika hari sudah larut malam, mereka hanya bertukar kabar 10-20 menit lalu biasanya diakhiri dengan Keizara yang ketiduran dan tak membalas pesannya lagi. Mungkin dia terlalu sibuk di sana? “Ya nanti aku bilang,” ucap Zhavi seraya menatap lurus ke depan. “Teman kamu yang cari pekerjaan ... bagaimana kabarnya? Sudah dapat kerja?” tanya Davira, sejujurnya hal itu cukup mengusiknya, teman ... perempuan ... Zhavi hampir tak pernah kelihatan memiliki teman dekat perempuan di kantor, semua sebatas profesionalitas kerja saja. Bahkan dia tak pernah membonceng siapa pun selama ini di motornya. Jika di mobil pun dia tak pernah berduaan dengan perempuan, selalu ada orang lain. “Kabarnya baik, dia sekarang lagi bantu laundry kakaknya, aku masih bantu cari pekerjaan sih, tapi memang di jaman seperti ini sulit juga,” ucap Zhavi. Davira mengangguk pelan. Percakapan pun mengalir di antara mereka, memang Davira sedikit pendiam tapi dia selalu menimpali percakapan Zhavi dan pengetahuan umumnya cukup luas sehingga tak terasa mereka mengobrol sampai acara usai. Sepanjang perjalanan pulang ibu Zhavi terus mengoceh tentang Davira yang merupakan anak terakhir di keluarga itu, tentangnya yang sering ikut kejuaraan bahasa Inggris dari jaman sekolah. Tentang wanita itu yang mendapat tawaran kerja di luar negeri tapi karena orang tuanya tak mengizinkan, dia pun memilih bekerja di Indonesia. “Ya mungkin kalian memang berjodoh, nyatanya di kota yang seluas ini kalian malah satu kantor,” ucap ibu Zhavi di akhir kalimatnya. Zhavi hanya terdiam, entah mengapa pikirannya tertuju pada Keizara sejak tadi. Perempuan itu juga cukup pintar, dulu sering ikut olimpiade matematika, hanya saja nasib tak membawanya ke arah yang lebih baik. Lalu pada Syakira, putrinya yang sudah menempel padanya membuat Zhavi rindu. Bagaimana kabar mereka sekarang? “Bu, nanti malam aku mau ada acara,” ucap Zhavi. “Acara apa? Di mana?” tanya sang ibu. “Ada lah kumpul-kumpul,” jawab Zhavi. “Biar saja Bu, anak muda biar dia luas pergaulannya,” tukas sang ayah yang duduk di samping Zhavi. “Ayah nih dari tadi juga enggak bantuin ngomong,” tukas ibu Zhavi. “Ngomong apa?” “Ya tentang mereka berdua, bagaimana tanggapan ayahnya Davira?” “Kita membebaskan anak-anak Bu, mereka sudah dewasa, biarkan mereka menentukan pilihannya,” jawab ayah Zhavi membuat Zhavi tersenyum tipis. Setidaknya di rumah, ada orang yang mendukung keputusannya itu, walau pun tidak terang-terangan, namun ayahnya tak pernah menentangnya kan? *** Selama tinggal bersama Afshan dan Kina, Keizara mulai terbiasa bangun lebih pagi dari semua orang di rumah ini. Bahkan sebelum Kina bangun, dia sudah lebih dulu berada di dapur, menyiapkan air, memasak nasi dan membereskan sisa-sisa malam. Memastikan semuanya terlihat rapi, seolah-olah jika rumah itu bersih, maka keberadaannya sedikit lebih bisa diterima. Setelah urusan rumah selesai, Keizara pasti membantu di laundry, tangannya yang dulu tak terlalu sering melakukan pekerjaan berat, kini mulai kasar, dia membilas, mengangkat ember-ember penuh air, menjemur di bawah matahari yang kadang terlalu panas. Tidak ada upah atau ucapan terima kasih, hanya kewajiban yang tak pernah benar-benar disebutkan untuk dikerjakan. Clara dan Cleo tetap sama. Kadang mereka memanggil tanpa melihat, kadang meminta dan menyuruh-nyuruh Keizara. Terlebih ketika Afshan tak ada di rumah, mereka semakin sesuka hati. Sengaja membawa makanan tapi tak memberi sedikit pun ke Syakira hingga membuat gadis kecil itu merengek. Setiap kali kedua anak itu menyuruhnya melakukan sesuatu, sekedar mengambil air minum, atau charger. Keizara hanya mengangguk dan menurutinya. Syakira pun mulai berubah, anak kecil itu jadi lebih pendiam, dia lebih sering duduk di pojok, menggambar sendiri atau menatap ibunya mondar mandir di rumah dengan mata yang tidak lagi secerah dulu, Tapi malam ini, ketika Keizara bisa berbaring di ranjang nyaman itu, satu-satunya tempat privasinya di rumah. Kamar Cleo. Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca, entah gelas atau piring? Dan diikuti jeritan Kina yang sepertinya bertengkar dengan Afshan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN