bc

Dicintai Ugal-Ugalan Ayah Mantan

book_age18+
3
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
one-night stand
family
HE
time-travel
age gap
badboy
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
kicking
campus
city
secrets
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Bagi Avena Ardelia Waluyo, pengkhianatan bukanlah hal baru.

Sejak kecil, ia menyaksikan ayah kandungnya menghancurkan keluarganya demi wanita lain.

Setelah itu, kasih sayang sang ayah perlahan berpindah kepada istri baru dan putri sambungnya, meninggalkan Ave hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri.

Saat mengira hidup tak mungkin lebih menyakitkan, kekasih yang dicintainya justru memilih berselingkuh dengan saudari tirinya.

Dalam satu hari, Ave kehilangan keluarganya sekaligus cinta.

Lalu, malam itu, ia memilih mengasingkan diri di sebuah hotel. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria asing yang bersimbah darah, dikejar orang-orang tak dikenal. Tanpa tahu siapa pria itu, Ave mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.

Satu keputusan yang mengubah seluruh hidupnya.

Paginya, pria itu menghilang, begitu pula Ave.

Tak ada nama dan identitas, yang tersisa hanya kenangan akan satu malam yang tak pernah mereka rencanakan.

Hingga takdir mempertemukan mereka kembali dan Ave dibuat membeku oleh kenyataan bahwa pria yang kini mengejarnya tanpa kenal lelah, rela melindunginya dengan segala cara, bahkan tak segan mengobarkan perang demi dirinya adalah Lucien Varez.

Ayah dari mantan yang telah menghancurkan hatinya.

"Aku pernah membenci seorang ayah karena menghancurkan hidupku. Tapi, siapa sangka, aku justru dicintai habis-habisan oleh ayah mantanku."

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 🍇
"Ave, sini!" Baru saja Avena Ardelia Waluyo melangkah masuk ke ballroom Hotel Grand Arunika, suara ayahnya sudah terdengar nyaring. "Iya, Yah?" Damian Waluyo menatap putrinya dari ujung kepala sampai kaki. "Kamu pakai baju itu?" Ave menunduk melihat gaun navy sederhana yang dikenakannya. "Memangnya kenapa?" "Kamu yakin itu pantas dipakai ke acara sebesar ini?" Belum sempat Ave menjawab, Ratika menghampiri sambil tersenyum manis. "Udahlah, Mas. Jangan begitu. Nanti Ave sedih." Ucapan Ratika terdengar membela. Sayangnya, tatapan matanya sama sekali tidak. "Ave memang dari dulu nggak terlalu ngerti soal penampilan,” tambah Ratika. Ave menghembuskan napas pelan. "Aku pikir gaun ini udah cukup." Ratika tersenyum tipis. "Kalau buat kondangan mungkin cukup." Damian menggeleng. "Sudahlah. Yang penting malam ini jangan bikin malu keluarga." Kalimat itu menusuk tepat di d**a Ave. "Aku memang pernah bikin malu keluarga?" Damian menatap datar. "Belum. Tapi, bukan berarti nggak mungkin." Ave menggigit bibirnya, ia memilih diam karena percuma membela diri. Sejak ayahnya menikah dengan Ratika lima belas tahun lalu, posisinya di rumah itu perlahan berubah. Dulu ia anak kesayangan, sekarang ia seperti tamu yang kebetulan memiliki nama belakang Waluyo. "Mas!" Seorang tamu memanggil Damian. Damian langsung berubah ramah. "Pak Hendra! Silakan masuk." Ratika ikut menyambut tamu-tamu penting. Sementara Ave berdiri sendirian. "Ave!" Suara ceria membuatnya menoleh. "Naldo." Cowok itu tersenyum lebar sambil membuka kedua tangan. "Maaf ya. Dari tadi Om Damian nyuruh aku bantu nyambut tamu." Ave akhirnya ikut tersenyum. "Nggak apa-apa." "Kamu cantik malam ini,” puji Naldo berbisik di telinga Ave. "Rayuan terus." "Serius,” jawab Naldo lagi. Naldo meraih tangan Ave. "Aku kangen banget sama kamu." Ave tersipu. "Baru dua hari nggak ketemu." "Dua hari itu lama loh," ujar Naldo. "Ck ... lebay." Naldo tertawa kecil mendengar jawaban Ave. "Aku boleh pinjam Ave bentar?" Damian tiba-tiba muncul. "Naldo, ikut Om." "Iya, Om." Sebelum pergi, Naldo sempat mencubit pelan pipi Ave. "Nanti kita ngobrol." "Oke,” angguk Ave. Melihat punggung Naldo menjauh, senyum Ave akhirnya muncul. Setidaknya, masih ada seseorang yang membuatnya merasa berharga. "Senyumnya manis juga." Suara itu membuat Ave menoleh, ternyata Utami, saudari tirinya datang mengenakan gaun merah marun yang mewah. "Kak." "Eh ... Ave." Utami pura-pura tersenyum ramah. "Naldo perhatian banget ya sama kamu." Ave mengangguk malu. "Iya." "Semoga aja perhatian itu nggak berubah,” ujar Utami tersenyum lagi. "Maksud Kakak?" Utami terkekeh. "Nggak ada. Santai aja, Ave." Lalu wanita itu pergi begitu saja. Ave mengernyit, entah kenapa kalimat itu terdengar aneh. "Selamat malam, Pak Damian." Beberapa pengusaha mulai berdatangan. Damian tertawa lepas. "Terima kasih sudah hadir." "Wah, ini putri Bapak?" Seorang tamu menunjuk ke arah Utami. Damian tersenyum bangga. "Iya. Namanya Utami. Dia banyak membantu saya mengurus perusahaan." "Wah ... cantik sekali." "Pintar juga ya. Cocok jadi penerus." Ratika tersenyum bangga. "Anaknya memang rajin." Ave berdiri tak jauh dari sana, ia menunggu, barangkali, kali ini ayahnya akan memperkenalkannya juga. Lelaki itu akhirnya menoleh. "Oh iya. Kalau yang itu … anak saya juga.” Damian menunjuk sekilas ke arah Ave. Cuma itu saja, tak ada senyum dan kebanggaan, tak ada kalimat hangat seperti yang diberikan kepada Utami. "Oh." Tamu itu hanya mengangguk sopan dan Ave tersenyum tipis, meski hatinya kembali retak. "Nona Ave." Seorang pelayan menghampiri. “Ya?” Ave menatap pelayan itu. "Pak Damian minta Nona bantu antar minuman ke meja VIP." Ave mengangguk. "Oke." Ave mengambil nampan berisi beberapa gelas wine. Baru beberapa langkah … Bruk! Seseorang menyenggol bahunya. "Ah!" Wine merah tumpah mengenai gaunnya. "Astaga!" Utami langsung menutup mulut. "Ave! Kamu gimana sih?" Ave menatapnya. "Kak, tadi—" "Aduh ... karpetnya!" Beberapa tamu mulai menoleh. Damian berlari menghampiri. "Avena!" Suara keras itu membuat aula mendadak sunyi. "Kamu tahu berapa harga karpet ini?" Ave langsung menggeleng. "Yah, bukan aku yang—" "Diam!" Semua orang kini melihat ke arah mereka. "Tapi—" "Sudah cukup!" Damian menunjuk pintu ballroom. "Kamu selalu bikin masalah." Air mata Ave hampir jatuh. "Ayah, Kak Utami yang—" "Mas!" Ratika memegang lengan Damian. "Jangan marah-marah." Lalu ia menoleh pada Ave. "Ave, minta maaf aja." "Tapi, aku nggak salah." Utami ikut memasang wajah sedih. "Udahlah, Ave. Aku nggak nyalahin kamu kok." Kalimat itu justru membuat Ave sadar. Utami sengaja menjebaknya. Namun, tak ada yang percaya. Damian menghela napas panjang. "Pulang kalau memang nggak bisa jaga sikap,” ujar Damian. Kalimat itu terasa seperti tamparan. Di depan ratusan tamu, ayahnya sendiri mengusirnya. Ave berjalan cepat keluar ballroom. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. "Ave." Suara lembut membuat langkahnya berhenti. "Ibu." Serena memeluk putrinya tanpa berkata apa-apa. "Ibu lihat semuanya." Ave mencoba tersenyum. "Aku nggak apa-apa, Bu." "Kamu bohong." "Aku udah biasa, Bu,” jawab Ave lagi. "Justru itu yang bikin Ibu sedih." Air mata Ave kembali mengalir. "Kenapa Ayah selalu pilih mereka, Bu?" Serena mengusap rambut putrinya. "Karena kadang orang terlalu sibuk mengejar kebahagiaannya sendiri sampai lupa menjaga hati orang lain." "Aku capek, Bu." "Ibu tahu,” angguk Serena. Serena menggenggam tangan putrinya. "Kalau suatu hari kamu sudah nggak sanggup tinggal di rumah itu … pulanglah. Rumah Ibu selalu terbuka." Ave mengangguk sambil memeluk ibunya erat. *** Di lantai dua hotel, Naldo berdiri sendirian sambil melihat layar ponselnya. Sebuah pesan w******p baru saja masuk. Utami ❤️ [Aku tunggu di ruang rias. Jangan lama.] Naldo menoleh ke arah ballroom, lalu ke arah taman tempat Ave masih memeluk ibunya. Pria itu menarik napas panjang. "Maaf, Ave." Naldo mematikan layar ponselnya, kemudian melangkah menuju ruang rias tanpa pernah menyadari seseorang sedang melihat kepergiannya dari balik pilar dan orang itu adalah Ave.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook