1. Hidangan Anniversary yang Mendingin
"Kenapa belum tidur?"
Suara bariton itu meluncur datar, menghentikan gaung dentang jam dinding antik yang baru saja memukul angka dua belas.
Shankara Jevas Mavendra melangkah masuk, membawa serta hawa dingin malam yang seolah menempel pada jas hitam Brioni dan kemeja putihnya yang tak lagi rapi.
Tatapan mata pria itu tajam, namun kosong saat menyapu seisi ruangan seluas dua ratus meter persegi ini. Pandangannya hanya sudi mampir tak sampai dua detik pada sosok Arunaya yang berdiri tegak di ujung meja makan. Persis seperti menatap vas bunga atau perabot usang yang kebetulan dilewatinya di lorong.
"Selamat malam, Mas," sapa Aru lembut tanpa menjawab pertanyaan Jevas.
Tenggorokannya perih karena terlalu lama terkunci. Ia mengulurkan tangan, meraih tas kerja suaminya. "Aku... sengaja menunggu. Mas sudah makan?"
Jevas menyerahkan tas kulitnya tanpa repot-repot membalas tatapan sang istri. Langkahnya terus berderap menuju tangga. Pria itu menoleh sekilas ke arah meja makan mahoni, tempat lilin aromaterapi telah meleleh habis dan steak wagyu yang dimasak medium rare kini membeku dilumuri saus jamur yang mengeras.
Tidak ada gurat bersalah di wajah keras itu. Hanya sebersit keheranan, seolah merutuki hal sia-sia yang baru saja dilakukan istrinya.
"Sudah," jawab Jevas ringan. "Tadi sore Leo minta piza untuk merayakan keberhasilannya masuk tim inti bola. Aku makan di sana, bersama Hana."
Dada Aru serasa dihantam palu godam. Leo. Hana.
Selalu nama itu. Keponakan dan kakak iparnya seakan duduk di takhta tertinggi yang tak boleh tersentuh. Keluarga mendiang adik Jevas adalah prioritas mutlak, sementara Aru, istri sahnya, harus rela membuang waktu lima jam menunggui makanan yang mendingin, hanya untuk mendengar suaminya kenyang merayakan hal sepele dengan orang lain. Malam ini. Di hari jadi pernikahan mereka.
Aru menelan ludah, menekan paksa rasa pahit yang mencekik kerongkongan. Ia memaksakan otot-otot wajahnya membentuk senyum. "Syukurlah kalau Leo senang. Selamat buat dia."
Jevas tak merespons pujian itu. Kakinya menapaki anak tangga pertama. "Buang saja makanannya. Atau kasih ke satpam. Aku lelah, jangan ganggu aku malam ini."
"Mas...."
Langkah Jevas terhenti di bordes. Punggung lebarnya menegang. "Apa lagi?"
Jemari Aru meremas kuat saku gaun sutra champagne yang membalut tubuh kurusnya. Di dalam sana, bersembunyi sebuah kotak beludru kecil berisi jam tangan. Hadiah yang dibelinya murni dari hasil menjual perhiasan lama, bukan dari gesekan kartu kredit pria itu.
"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ketiga," bisik Aru. Nyaris tak bersuara.
Keheningan yang menyiksa merentang hingga sepuluh detik. Aru mematung, menanti dengan sisa-sisa harapan. Setidaknya sebuah anggukan. Atau sebaris kata terima kasih formal layaknya Jevas berbicara pada rekan bisnis.
Namun, suaminya hanya menarik napas panjang.
"Hm."
Satu gumaman itu dilempar sembarangan sebelum Jevas kembali melangkah naik, lalu menghilang di balik pintu kamar utama.
Hanya sebuah dehaman singkat, tapi sukses meruntuhkan pertahanan Aru lebih telak daripada sebuah tamparan. Kakinya mendadak kehilangan tulang. Ia terhuyung, buru-buru mencengkeram pinggiran meja konsol agar tak ambruk mencium lantai marmer.
Lalu, serangan itu datang lagi.
Bukan hatinya yang hancur, melainkan perut kanan atasnya. Serasa ada tangan kasat mata yang merangsek masuk, memelintir organ dalamnya dengan beringas. Keringat dingin seukuran biji jagung seketika membanjiri pelipis. Wajahnya yang semula seputih porselen kini seputih mayat.
"Ugh...." Aru lekas membekap mulutnya sendiri.
Tidak boleh ada keributan. Jevas benci keributan. Jevas muak pada perempuan lemah.
Dengan tenaga yang tersisa, Aru menyeret kakinya menjauhi hidangan mewah di ruang tengah. Ia menyelinap masuk ke kamar mandi tamu, mengunci pintu rapat-rapat, lalu merosot jatuh di depan wastafel.
Rasa mual itu meledak hebat.
Aru memuntahkan isi perutnya. Lantaran tak ada sebutir nasi pun yang sudi ia telan seharian ini demi menunggu suaminya, yang keluar hanyalah cairan bening... bercampur gumpalan merah pekat.
Darah. Lagi.
Napas Aru terputus-putus. Tangannya gemetar saat menyalakan keran air kencang-kencang, membiarkan suaranya meredam batuk parau yang menyiksa d**a. Air dingin itu memutar gumpalan darah di lubang pembuangan, menghapus jejak bahwa perlahan-lahan tubuhnya sedang membusuk.
Di pantulan cermin, Aru melihat sosok yang menakutkan. Lingkaran hitam di bawah matanya tembus dari balik concealer tebal. Tulang selangkanya menonjol mengerikan di balik gaun yang kedodoran.
Kau sekarat, Aru, bisik batinnya miris. Dan suamimu bahkan tak peduli kau masih bernapas.
Tangannya merogoh laci rahasia di bawah kabinet wastafel. Ia menarik keluar botol pereda nyeri dosis tinggi, menuang dua butir, dan menelannya bulat-bulat tanpa air. Rasa pahit yang menyengat lidah tak ada apa-apanya dibanding getir hidup yang ia telan setiap hari.
Setelah membasuh sisa darah di sudut bibir, Aru melangkah keluar. Pantang bagi Jevas melihat rumah berantakan saat turun besok pagi.
Namun, langkah Aru mati di kaki tangga. Sayup-sayup, suara tawa yang begitu hangat mengalun dari lantai atas.
Pintu kamar utama rupanya tidak tertutup rapat. Dari celahnya, Aru mendongak dan melihat Jevas sedang duduk di tepi ranjang. Ponsel menempel di telinga. Wajah yang beberapa menit lalu sekaku es, kini mencair hangat. Sudut mata pria itu menyipit tulus, melukiskan senyum yang bertahun-tahun lamanya tak pernah ia berikan pada istrinya sendiri.
"Iya, Paman janji...." Suara bariton itu mengalun lembut, membelai sepinya udara malam. "Besok Paman jemput. Tolong bilang pada Ibumu, jangan lupa minum vitaminnya malam ini. Paman tidak mau dia sampai sakit."
Aru terpaku.
Tangan kanannya masih meremas perut yang berdenyut ngilu, sementara telinganya dipaksa menelan kenyataan yang mengiris hati. Suaminya begitu cemas wanita lain lupa meminum vitamin. Jevas begitu takut Hana jatuh sakit.
Sementara di sini, di bawah kakinya yang berpijak pada marmer beku, istri sahnya baru saja memuntahkan darah dan menelan obat keras seorang diri dalam gelap.
Setetes air mata akhirnya lolos. Jatuh menodai lantai, tanpa repot-repot ia usap. Aru hanya menatap celah pintu itu dengan sepasang mata yang sepenuhnya kosong.
Malam ini, Aru tak butuh lagi menunggu vonis dokter untuk menghitung sisa umurnya. Karena sejatinya, di rumah sebesar ini, ia sudah lama mati.