1. Hidangan Anniversary yang Mendingin
Jam dinding antik di ruang tengah berdentang pelan. Dua belas kali.
Suaranya menggema di ruangan seluas dua ratus meter persegi itu, memantul pada dinding marmer dingin dan langit-langit tinggi yang seolah menertawakan kesunyian di bawahnya.
Arunaya Lintar Kinandayu masih duduk tegak di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni. Punggungnya tidak bersandar, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, persis seperti boneka porselen yang diletakkan di etalase toko, cantik, mahal, namun tak bernyawa.
Di hadapannya, lilin-lilin aromaterapi yang dinyalakan empat jam lalu kini tinggal sisa lelehan lilin beku. Steak wagyu yang ia masak dengan tingkat kematangan medium rare, favorit suaminya, kini sudah dingin, lemaknya mulai mengeras di permukaan saus jamur. Sup krim asparagus di mangkuk porselen itu pun sudah kehilangan uap hangatnya sejak pukul sembilan malam tadi.
Hari ini, 24 Oktober. Ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.
Tidak ada kado. Tidak ada ucapan. Aru bahkan tidak mengharapkan itu. Ia hanya meminta satu hal sederhana lewat pesan singkat pagi tadi: "Mas, bisakah kita makan malam di rumah hari ini? Aku masak."
Pesan itu bercentang biru dua menit setelah dikirim. Tanpa balasan.
Suara deru mesin mobil yang halus terdengar samar dari halaman depan, memecah lamunan Aru. Tubuhnya bereaksi otomatis. Jantungnya berdegup, bukan karena kegembiraan, melainkan karena latihan rutin tubuhnya untuk menyambut sang pemilik rumah.
Aru berdiri, merapikan gaun sutra berwarna champagne yang membungkus tubuhnya yang kian hari kian kurus. Ia berjalan menuju pintu utama tepat saat pintu kayu jati setinggi tiga meter itu terbuka.
Shankara Jevas Mavendra melangkah masuk.
Pria itu membawa aura musim dingin bersamanya. Jas hitam Brioni yang pas di tubuh tegapnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, dasinya sudah longgar, dan kemeja putihnya tak lagi serapi pagi tadi. Wajah tampan dengan rahang tegas itu tampak datar, tatapan matanya tajam namun kosong saat menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya berhenti sekilas pada sosok Aru.
Hanya sekilas. Tak sampai dua detik. Seolah Aru adalah bagian dari dekorasi rumah, sama seperti vas bunga di sudut ruangan.
"Selamat malam, Mas," sapa Aru lembut. Suaranya sedikit serak karena terlalu lama diam. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil tas kerja Jevas.
Jevas menyerahkan tas itu tanpa menoleh, langkah kakinya terus bergerak menuju tangga. "Kenapa belum tidur?"
Suaranya bariton, rendah, dan tenang. Tidak ada nada membentak, tapi dinginnya mampu membekukan udara di sekitar mereka.
Aru mengikutinya dua langkah di belakang, menjaga jarak sopan. "Aku... aku memasak makan malam. Mas sudah makan?"
Jevas berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh sedikit, menatap meja makan yang penuh dengan hidangan mewah yang kini tampak menyedihkan. Tatapannya tidak mengandung rasa bersalah. Hanya sedikit rasa heran, seolah bertanya untuk apa Aru melakukan hal sia-sia itu.
"Aku sudah makan," jawab Jevas singkat. "Leo ingin pizza untuk merayakan keberhasilannya masuk tim sepak bola. Aku makan di sana bersama Hana."
Dada Aru terasa seperti dipukul palu godam. Leo. Hana.
Tentu saja. Keponakan dan iparnya. Keluarga mendiang adik iparnya selalu menjadi prioritas yang tak tersentuh. Sementara Aru, istri sahnya, menunggu lima jam hanya untuk mendengar suaminya kenyang karena merayakan hal kecil bersama orang lain di hari pernikahan mereka.
Aru menelan ludah, rasa pahit menjalar di tenggorokannya. Ia memaksakan sudut bibirnya naik, membentuk senyum tipis yang terlatih. "Ah, begitu. Syukurlah kalau Leo senang. Selamat untuknya."
Jevas tidak menanggapi pujian itu. Ia kembali melangkah naik. "Buang saja makanannya. Atau berikan pada satpam. Aku lelah, jangan ganggu aku malam ini."
"Mas..." Aru memanggil pelan, membuat langkah Jevas terhenti lagi di bordes tangga.
"Apa lagi?"
Tangan Aru meremas kain gaunnya. Di saku gaun itu, ada sebuah kotak kecil berisi jam tangan yang ia beli dari tabungan hasil menjual perhiasan lamanya, karena ia tidak ingin menggunakan kartu kredit Jevas untuk membelikan hadiah suaminya sendiri.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang ketiga," ucap Aru, nyaris berbisik.
Jevas terdiam. Punggung lebarnya menegang sedikit, tapi dia tidak berbalik. Keheningan meregang di antara mereka selama sepuluh detik yang menyiksa. Aru berharap, setidaknya, Jevas akan mengucapkan "terima kasih" atau sekadar mengangguk.
Namun, pria itu hanya menghela nafas panjang, tanda bahwa pembicaraan ini membuang waktunya.
"Hm," gumam Jevas singkat, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga, menghilang di balik pintu kamar utama.
Hanya "Hm".
Satu gumaman itu menghancurkan pertahanan Aru lebih telak daripada tamparan. Kakinya lemas. Aru berpegangan pada pinggiran meja konsol agar tidak jatuh.
Tiba-tiba, rasa sakit yang familiar itu datang lagi.
Bukan di hati, tapi di perut kanan atasnya.
Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas organ dalamnya, memelintirnya dengan kejam. Keringat dingin langsung membasahi pelipis Aru. Wajahnya yang sudah pucat kini seputih kertas.
"Ugh..." Aru membekap mulutnya, menahan erangan. Jevas tidak suka suara berisik. Jevas benci wanita yang lemah.
Dengan sisa tenaga, Aru menyeret kakinya menuju dapur, melewati makanan dingin yang tak tersentuh itu. Ia masuk ke kamar mandi tamu di dekat dapur, mengunci pintu, dan merosot di depan wastafel.
Rasa mual itu meledak.
Aru memuntahkan isi perutnya. Namun, karena seharian ini ia belum makan apa pun demi menunggu Jevas, yang keluar hanyalah cairan bening bercampur gumpalan merah pekat.
Darah.
Lagi.
Napas Aru tersengal-sengal. Ia menyalakan keran air sekencang mungkin untuk menyamarkan suara batuknya yang menyakitkan. Air dingin membasuh darah yang berputar di lubang pembuangan wastafel, melenyapkan bukti bahwa tubuhnya sedang membusuk dari dalam.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Lingkaran hitam di bawah mata yang berusaha ia tutupi dengan concealer kini terlihat jelas. Tulang selangkanya yang menonjol di balik gaun mahal itu tampak mengerikan.
‘Kau sekarat, Aru,’ batinnya berbisik. ‘Dan suamimu bahkan tidak tahu kau ada.’
Aru merogoh laci rahasia di bawah wastafel, mengambil botol obat pereda nyeri dosis tinggi yang ia sembunyikan di sana. Dengan tangan gemetar, ia menelan dua butir pil tanpa air. Pahitnya obat itu tidak sebanding dengan pahit hidupnya.
Setelah membasuh wajah dan memastikan tidak ada sisa darah di bibirnya, Aru keluar. Ia harus membereskan meja makan sebelum Jevas turun besok pagi. Jevas benci rumah yang berantakan.
Langkah Aru terhenti di ruang tengah saat mendengar suara tawa samar dari lantai atas.
Pintu kamar Jevas sedikit terbuka. Aru mendongak.
Ia bisa melihat Jevas duduk di tepi ranjang, ponsel menempel di telinga. Wajah dingin yang tadi menyambut Aru kini sirna, digantikan oleh ekspresi yang hangat. Sudut mata pria itu menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum tulus yang sangat jarang Aru lihat.
"Iya, Paman janji..." suara Jevas terdengar lembut, mengalun sampai ke lantai bawah. "Besok Paman jemput. Bilang pada Ibumu, jangan lupa minum vitaminnya. Paman tidak mau dia sakit."
Aru mematung di kaki tangga.
Tangan kanannya mencengkram perutnya yang masih berdenyut nyeri hebat, sementara telinganya dipaksa mendengar betapa suaminya sangat peduli pada kesehatan wanita lain.
Jevas takut Hana sakit. Jevas takut Hana lupa minum vitamin.
Sementara di sini, di lantai bawah yang gelap, istrinya baru saja memuntahkan darah dan menelan obat keras sendirian.
Air mata Aru menetes satu, jatuh membasahi lantai marmer. Ia tidak menghapusnya. Ia hanya menatap sosok suaminya dari kejauhan dengan tatapan kosong.
Malam itu, Aru menyadari satu hal. Ia tidak perlu menunggu vonis dokter tentang sisa umurnya. Karena sejatinya, di rumah ini, ia sudah lama mati.