Tubuh Hans seketika kaku di tempat. Apalagi tatapan kedua orang tua dan adik-adiknya pun terpaku padanya. Di lain sisi, Yasmin malah bersikap santai. Biar saja kali ini suaminya memberi penjelasan tanpa ia bantu. Tanpa diduga, kakinya seperti ada yang menyentuh. Yasmin bersandar di kursi dan melirik ke bawah. Sepatu sang suami menyentuh kakinya. Sadar jika Hans meminta bantuan, Yasmin kembali memandang ke arah Hans. Ia menggeleng pelan, kemudian membuang muka. Tanpa rasa bersalah, Yasmin malah bersedekap d a d a. “Hans, kamu nggak lagi nyembunyiin apa pun dari Mama Papa, ‘kan?” Ranti bertanya dengan nada mengintimidasi. Semua yang ada di sana seolah menanti jawaban dari pria itu. Dalam hati, Yasmin tertawa penuh kemenangan. Wajah Hans yang tegang, merah bagaikan kepiting rebus. “H