1 | Bencana Hari Bahagia

1063 Kata
Tiga tahun lalu .... "Selamat, ya, Neng Lusi. Lancar-lancar sampai hari H nanti." Ilusi Arundapati tersenyum, wajah ayunya membingkai khas wanita tanah Sunda. Di sebuah desa yang mana dirinya merupakan putri pemilik toko bangunan tersohor sekecamatan. "Aamiin. Terima kasih, Bu." Ilusi terkenal ramah dan dicintai nyaris oleh tiap ibu yang punya anak bujang di kampungnya. Sayang, Ilusi sudah berpemilik. Putra kepala desalah yang berhasil meminangnya. Ilusi bak piala penghargaan di kampungnya, siapa pun yang berhasil mendapatkan dirinya, maka itu terkesan seperti sebuah pencapaian. Miris, tetapi begitulah takdir orang cantik se-Desa Banyuasih. "Cie, cie ... yang mau nikah minggu depan." Itu Kalisa, adik Ilusi. Digodai macam itu, sontak Ilusi tersenyum. "Doain, ya, Lis." Lisa-Lusi. Lis untuk Kalisa, Lus untuk Ilusi. Mereka kakak-beradik yang disebut bak langit dan bumi. Katanya, Ilusi cantik pol. Tapi Kalisa biasa saja, konon. Padahal menurut Ilusi, bumi itu indah—adiknya juga cantik dengan tipe kulit sawo matang. Entahlah .... Seseorang disebut cantik saat kulitnya putih bersih di sini. Kalisa mengangguk dan senyum. "Mana ini pengantinnya? Pengantiiin!" seru seseorang dari luar. Asli, hari itu kediaman sedang amat ramai. Jelang hari H pernikahan—apalagi ini yang jadi mempelai adalah putri pemilik toko bangunan tersohor dengan putra kepala desa—macam mana tidak ramai, kan? Para pengobeng sudah mulai beraksi, janur kuning sudah mulai dirangkai, undangan pun sudah disebar. Dan para pengantin sedang dipingit. Ilusi di ujung selatan desa, lalu Satria di ujung utara sana. Penduduk antusias seperti hendak menyambut pesta rakyat, di samping para pemuda patah hati karena bunga desanya akan resmi berpemilik. "Kakak keluar dulu, ya, Lis," ucap Ilusi. Kalisa angguki dan senyum manis masih terpatri di bibir. "Iya, Bu." Ilusi menyahuti panggilan-panggilan meriah dari ibu-ibu yang mencarinya, ingin melihat calon pengantin katanya. Tawa dan pujian semerbak untuk Ilusi. Doa-doa baik pun dihaturkan untuknya. Ilusi sampai merona. Dia bahagia ... menjelang hari bahagianya. Wajar, bukan? Tanpa tahu, puji-pujian yang menyebut nama Ilusi itu terdengar menyakitkan bagi seseorang. Dia yang merasa hidup di bawah standar kecantikan sang kakak, Kalisa membuka lemari di kamar itu. Jantungnya berdegup kencang, terlebih ketika tubuh berjongkok dan meraih sebuah map cokelat. *** "Seneng, ya, Sat, mau nikahin cewek tercantik sekampung kita." "Woyajelas." Satria menaik-turunkan alis. "Nanti anakmu blasteran, Sat. Ilusi masih ada bule-bulenya kayak bapaknya." "Iya, gak kayak si Ireng." "Cetasss!" Itu bukan Satria yang bilang, lho, ya. Melainkan teman-temannya. Danu dan Wahyu. Satria justru bilang, "Sebenernya, sih, malah lebih menggoda adeknya. Walau kulitnya nggak putih kayak Ilusi, tapi Kalisa ini seksi." "Anjayy. Terus ngapain kamu nikahin kakaknya, Sat? Jangan bilang penasaran sama kakinya yang putih itu, mau mastiin pink apa bukan—awh!" Satria memukul mulut kurang ajar Danu. "Jaga mulutmu, ya, Dan. Ilusi udah mau jadi istriku." Wahyu ketawa-ketiwi saja. Tiga hari jelang pernikahan, Satria didatangi kawan-kawan sepergaulan di desa. "Awas kalian, ya! Hapus fantasi jorok itu, Ilusi udah—" "Permisi ...." Kebetulan Satria dan kawan-kawan nongkrongnya di teras samping, dan yang bertamu itu datangnya ke bagian sisi rumah. Mungkin karena di area depan ada tamu bapak-bapak, lalu di belakang ramai pengobeng. Satria praktis berdiri. Wahyu dan Danu jadi pemerhati. "Kalisa?" Iya, calon adik ipar Satria bertandang. Kalisa tampak gugup dan ... tak bisa dijelaskan. "Mau ketemu bu kades, Kak. Boleh minta tolong dipanggilin, nggak? Lisa malu. Di depan udah ketemu bapak, sih. Tapi malu ...." Bapak yang dimaksud adalah pak kades, papanya Satria. "Oh ... sini masuk!" Satria menanggapi ramah, bagaimanapun Kalisa adalah adik iparnya—calon. "Bawa apa, Lis?" Kalisa cuma senyum sambil menggumam 'Mm' saja menanggapi pertanyaan Wisnu. Syukurnya, bu kades segera muncul. "Eh, Lisa ... masuk, Nak!" Hari itu. *** Ilusi menatap tenda pernikahannya mulai didirikan, panggung untuk biduan juga mulai dirakit, lalu bagian pelaminan sudah hampir rampung didekor. Uh ... jantungnya berdegup kencang. Bagaimanapun, Ilusi mencintai calon suaminya. Perasaan itu muncul bermula dari kekaguman. Satria adalah sosok yang begitu menjaga pandangan darinya, tidak terang-terangan menatap, tidak terkesan mendekati hanya karena Ilusi ini cantik seperti yang digaungkan orang-orang. Dan manis sekali saat Ilusi melihat bujangan pak kades itu salah tingkah karenanya. Mengagumkannya lagi, ternyata Satria sudah naksir Ilusi dari zaman SMA. Di mana pria itu adalah kakak kelas Ilusi, selisih dua tahun. Hari ini Ilusi sudah memasuki usia 21, nikah di usia segitu lumrah di kampungnya. Dan Satria memilih tidak mengencani gadis mana pun hanya untuk membekali diri meminta Ilusi kepada orang tua. Kalisa sampai bilang, "Entah Kakak atau Kak Satria yang beruntung dapetin Kak Lusi. Aku lihatnya sampai iri, tahu. Kalian seserasi itu." "Bisa aja kamu, Lis. Nanti kamu juga bakal ada di posisi Kakak begitu ketemu sosok yang tepat." "Aamiin." Ilusi tersenyum mengingat celoteh adiknya. Dia lalu menutup gorden, tadi memang sedang mengintip situasi di luar menjelang hari H pernikahan. "Uci!" Oh, iya. Ilusi biasa dipanggil Uci oleh ibunya. "Iya, Bu?" "Ci, itu di depan ada—" "Mana Ilusi?!" Ucapan sang ibu terpangkas oleh sesosok wanita paruh baya yang tampak membara, apalagi saat sorot matanya jatuh di sini. Bersirobok tatap dengan Ilusi. "Mama—" Plak! Nyaring bunyinya, disusul suara pekikan dari tiap orang yang melihat, dan mereka semua membeku setelahnya—termasuk ibu Lusi. Menutup mulut dramatis, mata pun sampai membeliak. Ya, itu suara tamparan. Dan kalian tidak salah, pipi Ilusi yang dihantam oleh telapak tangan bu kades. Sosok yang selama ini sudah biasa Ilusi sebut mama. Untai katanya tadi pun terpangkas karena tamparan ini. Ilusi kaget, jelas. Syok malah. Tanpa tahu apa hal yang telah dirinya perbuat hingga— "Kurang ajar!" Pekikan nyaring ibu-ibu membahana tepat di saat bu kades menjambak rambut Ilusi. "Ma ... akh—!" Sebentar. Sakit. Ilusi mencekal tangan wanita yang menjambak kuat rambutnya ini. Dan wanita itu adalah calon ibu mertuanya. Sadar dari keterkejutan, Bu Wiwi gegas memisahkan. Dilepas-lepasnya tautan tangan bu besan dari rambut sang putri. Tak berselang lama, datanglah Satria bersama papanya—pak kades—ke rumah hajat mempelai wanita. "Ma! Mama, stop!" ujar Satria, menarik mamanya. "Penipu dia, Sat!" Jari telunjuk bu kades ditodongkan lurus dan penuh emosi kepada Ilusi. "Apa-apaan ini?!" Oh, itu suara bapak. Pak Marsel. Bapaknya Ilusi. "Anakmu ini penipu, Pak Marsel! Kalian semua penipu!" "Apa maksud—" "ILUSI MANDUL!" hardik bu kades, matanya sampai melotot. Garang sekali. Seketika atmosfer di depan kamar Ilusi berubah total. Hening dan mencekam. Meski itu hanya dalam hitungan sepersekian detik saja. Tampak dadaa bu kades kembang-kempis tajam, setajam tatapan yang kembali di Ilusi. M-mandul? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN