Prolog
"Saya terima nikah dan kawinnya Ilusi Arundapati ...."
Kalimat itu mengalun di hadapan mikrofon dari seorang pria yang duduk tepat di sampingnya. Menjabat tangan penghulu. Di dalam sebuah ruang yang penuh saksi.
Dan Ilusi membeku di tempat, tentang sebaris nama yang disebut—nama dirinya.
Ilusi Arundapati.
Sontak jantungnya terasa macam henti berdetak.
"... dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?"
"Sah! Sah!"
Perlahan, Ilusi mengangkat wajah. Tak berani menoleh, tetapi serangkaian acara mengharuskannya menghadap sang suami.
Oh ... benar. Lelaki yang mengucap ijab kabul barusan dalam hitungan detik setelah kata sah diuntai, resmi menjadi suaminya. Di mana kini sorot mata Ilusi bertemu dengan pria itu.
Pria yang berperangai tenang, tetapi menghanyutkan. Pria yang tampak hangat, tetapi tak tersentuh.
Dia ... Lahar Bara Budiman.
Pria yang seharusnya tidak ada di sini.
Pria yang seharusnya ... bukan miliknya.
Rongga dadaa mendadak terasa menyempit, hingga napas Ilusi tercekat hanya karena bersirobok mata dengan lelaki ini.
Di samping itu, bisik-bisik mulai menguar, tetapi terasa samar di pendengaran Ilusi. Bahkan kini semua orang terasa henti bergerak, dunia seolah henti berputar, dan suara Ilusi macet di tenggorokan, bibir pun seperti lupa bagaimana cara untuk tersenyum.
Ini salah.
Semua ini salah.
Kursi yang dia duduki ... bukan untuknya.
Gaun pengantin yang dia kenakan ... bukan buatnya.
Bahkan pria yang Ilusi cium tangannya sebagai bakti pertama ... adalah milik orang lain.
Adiknya.
Ilusi menelan ludah. Tangannya dingin. Rasa hangat dari jemari pria itu tak membuatnya berani untuk meminta sedikit saja kehangatan, justru makin dingin.
Oh ... Ilusi ingin berdiri. Dia ingin menghentikan semua ini. Ingin mengatakan bahwa segala yang terjadi sekarang adalah kesalahan besar. Namun—
Tatapan Lahar Bara menahannya. Dalam dan tajam. Merenggut seluruh angan kehendak Ilusi yang ingin dia realisasi. Lelaki itu seakan tak memberi ruang untuknya mundur.
Begitu saja, tubuh Ilusi terpaku tunduk. Yang mana keningnya dijatuhi sebuah kecup, tepat di bawah siger Sunda yang memahkotai kepalanya.
Ilusi memejam. Membiarkan Lahar Bara Budiman memberikan pose terbaik di hari pernikahan.
Dia adalah seseorang yang pernah Ilusi temui di Jakarta, kala dirinya hidup dengan nama lain sebagai “Nona Palsu”.
Kini acara berlanjut pada sesi penyerahan mahar. Yang seketika membawa Ilusi pada kenangan lampau, tentang pembatalan pernikahan, lalu tatapan penghakiman orang-orang sekitar yang menyematkan kata mandul padanya—seolah mandul adalah identitas Ilusi, sekali pun mereka tampak berempati.
Lantas, saat ini takdir menyeretnya kembali ke titik yang sama—pernikahan. Meski kali ini dengan pria yang tidak pernah benar-benar bisa Ilusi miliki.
Ah, tetapi memang ada pria yang bisa jadi miliknya? Di saat orang tua para lelaki bernegosiasi: "Jangan sama Ilusi, dia mandul."
"Tinggalkan putra kami. Kamu tahu puncak dari pernikahan adalah anak, kan? Sedangkan kamu nggak bisa memberikan itu."
Tapi ternyata ada satu yang sudi, bahkan orang tuanya menerima tanpa menuntut kesempurnaan wanita. Hanya saja ... lelaki ini tidak seharusnya Ilusi miliki.
Lelaki ini ....
Lahar Bara Budiman, om-om gagah 34 tahun itu ... kekasih Kalisa.
Damn.
Ilusi menelan saliva kala di malam hari, dia mendapati lelaki itu ikut serta masuk ke kamarnya.
***