Setelah mengantar Ghina kembali ke rumah membawa junjungan Roti bakar, Zalman pamit pergi bekerja. *** Zalman melirik sang sekretaris dengan takut-takut, kegugupan nampak tercetak jelas di wajahnya. "Ba-bagaimana, Ra?" Melontarkan basa-basi, pria itu terlihat tidak seperti biasanya. Ia bertanya sesuatu yang sama sekali tidak penting. "Bagaimana apanya, Tuan?" Soraya balik bertanya, keheranan. "Pesanan ini?" "Iya. Saya pesankan yang jadi kesukaanmu. Rasanya oke, 'kan?" imbuh Pimpinan yang mendadak punya ide untuk traktir karyawannya itu. Soraya sempat menautkan alisnya hingga beberapa saat, "Ya, ini enak. Tidak pernah mengecewakan, kantin perusahaan kita yang terbaik!" "Terima kasih banyak untuk kopinya," tambah Soraya, merapatkan bibir. Gadis itu tidak tahu apa yang jadi alasan Zal

