"Mas Zalman!" pekik Ghina. Tidak berselang lama dari teriakan itu, Ghina segera menghampiri suaminya yang mematung sejak tadi, dengan tergesa-gesa. Celemek yang ia kenalan segera dihempas dalam satu tarikan, kemudian langsung mengamankan Sultan. Bayi kecilnya. Yang hampir saja jatuh dari kursi makan, lepas dari pengawasan. "Ya Allah, Mas. Apa yang terjadi ini?" gertak Ghina, caranya bicara membuat si bocah menangis. "Ti-tidak apa-apa, Sayang." "Bunda tidak marah padamu, tidak apa-apa," ucapnya menenangkan, masalahnya bertambah pelik kala Sultan menguatkan tangis. Semua makanan yang sudah Ghina siapkan untuk Sultan tumpah, pasti atas ketidaksengajaan bocah itu, yang penasaran pada setiap hal mengobrak-abrik apa yang ia temukan. "Astaga!" Zalman juga sama terkejutnya, kaget, kemarah

