Pukul 09:58 pagi.
Revan berdiri di depan pintu rumah Mbak Wulan, tangan kanannya memegang tas kecil berisi gergaji, palu, dan paku cadangan. Rumahnya mirip rumah Revan: panggung bambu sederhana, tapi lebih rapi, dengan halaman kecil penuh tanaman cabai dan tomat yang sedang berbuah merah. Asap tipis naik dari dapur belakang, bawa aroma manis seperti kue kukus atau sirup gula merah. Pintu depan setengah terbuka, angin pagi menyusup pelan, membawa suara burung gereja yang berkicau di atap.
Revan tarik napas dalam, hati berdegup kencang seperti genderang perang. Pikirannya campur aduk: uang 50 ribu itu penting buat beli beras dan lauk buat Cici sama Vita, tapi kata-kata Mbak Wulan tadi pagi masih bergema, bikin badannya panas dingin. "Ya Allah... beri kekuatan," gumamnya pelan, lalu ketuk pintu lagi. "Assalamualaikum, Mbak Wulan? Ini Revan."
"Waalaikumsalam! Masuk aja, Mas Revan! Mbak lagi di dapur!" suara genit itu terdengar dari dalam, seperti lagu manja yang bikin telinga panas.
Revan dorong pintu pelan, masuk ke ruang tamu kecil. Lantai kayu berderit di bawah sandal jepitnya, udara di dalam hangat, campur aroma masakan dan bau tubuh perempuan yang manis. Dinding bambu dihiasi kain batik usang, meja kecil di tengah ada gelas teh panas dan piring kue talam yang masih mengepul. Revan berdiri canggung, matanya melirik ke arah dapur yang terbuka.
Mbak Wulan keluar dari dapur, badannya bergoyang pelan seperti lagi menari tanpa musik. Rok kain jariknya yang pendek tadi pagi masih dipakai, tapi sekarang lebih longgar, naik turun mengikuti langkah, memperlihatkan paha montoknya yang mulus setiap hembus angin. Tanktop merah ketatnya menempel basah keringat tipis dari masak, kainnya tipis sekali sampai lekuk d**a penuhnya terbentuk jelas, tanpa bra sama sekali — p****g pinknya menonjol tegak seperti tombol kecil yang minta disentuh, bergoyang-goyang pelan setiap gerak. Dia nggak pakai celana dalam, dan saat dia berhenti di depan Revan, roknya sedikit naik, memperlihatkan samar garis lekuk intimnya yang lembab, seperti undangan diam yang bikin Revan langsung menelan ludah keras.
"Mas Revan tepat waktu banget! Mbak seneng loh," kata Wulan dengan senyum lebar, mata genitnya berbinar, tangan kanannya main-main di rambut panjangnya yang digerai. Dia maju selangkah, badannya hampir menyentuh d**a Revan, aroma tubuhnya — campur keringat manis dan sabun murah — menyergap hidung Revan seperti kabut memabukkan. "Mau minum teh dulu? Atau langsung mulai kerjaan? Kayu-kayu di belakang rumah, atap bocor di kamar Mbak."
Revan langsung mundur selangkah, matanya buru-buru alihkan ke lantai, tapi gambar p****g menonjol itu sudah terpatri di pikiran. Sarungnya — eh, sekarang dia pakai kaos lusuh dan celana pendek kerja — mulai terasa sempit di bagian bawah, tonjolan mulai tegak pelan. "E-eh, langsung aja Mbak. Biar cepet selesai. Kayu di mana?"
Wulan tertawa kecil, suaranya seperti desahan pelan yang bikin bulu kuduk berdiri. "Ih, Mas Revan buru-buru banget. Santai dong, rumah Mbak kan sepi, cuma kita berdua. Ayo ke belakang, Mbak tunjukin." Dia balik badan, pinggulnya digoyang lebih keras, rok jarik naik sedikit lagi, memperlihatkan p****t montok yang bergoyang, dan samar garis lekuk intimnya yang terbuka karena nggak ada penutup.
Revan ikut di belakang, napasnya pendek-pendek, tangan memegang tas lebih erat biar fokus. Halaman belakang kecil, tumpukan kayu jati basah setinggi pinggang, atap rumah bocor di bagian kamar tidur yang terlihat dari bawah. Burung pipit beterbangan di pohon mangga sebelah, angin bertiup pelan bawa bau tanah basah.
"Ini kayunya, Mas. Harus dipotong kecil-kecil buat bakar. Mbak nggak kuat angkat yang besar," kata Wulan, badannya condong ke depan pura-pura nunjuk kayu, tanktopnya melorot sedikit, d**a penuhnya hampir tumpah keluar, p****g menonjol lebih jelas di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Matanya melirik ke arah celana Revan, gigit bibir bawah. "Wah, Mas Revan kuat ya? Otot lengannya itu... bikin Mbak pengen pegang nih."
Revan langsung jongkok ambil gergaji, mukanya merah padam, badan panas. "B-biarkan saya kerjain, Mbak. Duduk aja di situ." Dia mulai potong kayu, suara gergaji "sret sret" ritmis, keringat mulai mengucur di d**a telanjangnya karena kaosnya sudah basah.
Wulan duduk di bangku bambu deket sana, kaki disilang, rok naik tinggi sampai paha atas, memperlihatkan lekuk intimnya yang lembab dan terbuka samar di antara bayang. Dia kipas-kipas muka dengan tangan, desahan pelan keluar dari bibir merahnya. "Ahh... panas ya, Mas. Mbak keringetan nih. Kamu juga, lihat tuh keringatnya mengalir di d**a. Mau Mbak lapin? Atau... Mbak bantu yang lain biar lebih rileks?"
Revan geleng-geleng keras, tangan gergaji lebih cepat, tapi matanya sesekali melirik ke arah Wulan, bikin tonjolan di celana pendeknya makin tegang, menonjol jelas seperti tiang kecil yang protes. "Nggak Mbak, astaghfirullah. Saya fokus kerja aja. Ini kayu udah setengah."
Wulan berdiri pelan, mendekat dengan langkah genit, tangan kanannya menyentuh bahu Revan dari belakang, jari-jarinya menyusuri otot lengan yang tegang. "Mas Revan... Mbak lihat tuh, di celana kamu ada yang tegang banget. Pasti capek ya kerja sambil begitu? Mbak bisa bantu loh, pegang pelan-pelan, gosok sampe rileks. Ahh... bayangin aja, Mbak duduk di pangkuan kamu, rok Mbak naik, kita gerak bareng pelan-pelan..."
Desahan pelannya seperti angin panas di telinga Revan, bikin badannya gemetar, tonjolan makin keras sampai sakit. Revan loncat berdiri, mundur dua langkah, tangan nutupin celana. "Mbak! Tolong jangan gitu! Ini dosa besar. Saya punya adik-adik yang nunggu di rumah. Kerjaan aja deh, Mbak."
Wulan memiringkan kepala, senyum licik, tangan masih main-main di d**a sendiri, jari telunjuknya menyentuh p****g yang menonjol, membuatnya mengerang pelan. "Hmm... dosa apa, Mas? Ini kan alamiah. Mbak lihat kamu tegang gitu, pasti pengen disentuh. Mbak basah nih di bawah, karena lihat kamu kerja keras. Mau lihat? Mbak angkat roknya sedikit..."
Dia angkat rok pelan, memperlihatkan lekuk intimnya yang lembab, bibirnya pink dan mengkilap karena gairah, aroma manisnya tercium tipis. Revan langsung tutup mata, napas ngos-ngosan, badan panas seperti demam. "Ya Allah... Mbak... tolong berhenti. Saya selesain kerja dulu, ya?"
Revan lanjut potong kayu dengan cepat, pikirannya berputar kencang: ingat wajah Cici dan Vita yang tersenyum pagi tadi, tagihan beras, tapi gambar lekuk Wulan itu seperti hantu yang nggak mau pergi. Keringat bercucuran lebih deras, badannya gemetar.
Pukul 11:23 pagi.
Kayu sudah selesai dipotong, tumpukan rapi di sudut halaman. Wulan bawa minuman es sirup merah, gelasnya berembun dingin. "Istirahat dulu, Mas. Minum ini, biar segar. Mbak liat kamu capek banget, tapi kuat ya... Mbak suka cowok kayak gini."
Revan ambil gelas, minum cepat sambil berdiri, matanya hindari pandang Wulan yang duduk lagi dengan kaki terbuka sedikit, rok naik, lekuk intimnya terlihat samar. "Makasih Mbak. Sekarang atapnya, ya? Di mana bocornya?"
Wulan berdiri, pimpin Revan ke kamar tidurnya. Kamar kecil, tempat tidur kayu dengan kelambu tipis, bau parfum manis memenuhi udara. Atap bocor di atas kasur, ada ember seng di bawahnya. "Ini nih, Mas. Bocor kalau hujan. Kamu harus naik ke atas, Mbak bantu pegang tangga."
Revan naik tangga bambu kecil, palu dan paku di tangan, mulai tambal atap dengan daun seng cadangan. Badannya condong ke atas, kaosnya naik memperlihatkan perut rata berotot. Wulan berdiri di bawah, matanya naik turun lirik badan Revan, tangan pegang tangga tapi jarinya main-main seperti lagi mengelus sesuatu.
"Ahh... Mas Revan dari bawah kelihatan gagah banget. Itu tonjolan di celana makin jelas loh. Mbak pengen pegang nih, biar Mbak gosok pelan, naik turun sampe kamu desah enak. Hmm... pasti besar ya, Mas? Mbak basah banget nih mikirinnya."
Desahan Wulan makin dalam, seperti erangan pelan yang bikin udara kamar panas. Tiba-tiba, tangan Wulan naik pelan, menyentuh bagian depan celana Revan dari bawah tangga, jarinya pegang tonjolan yang tegang itu, lalu mulai kocok pelan naik turun, kain celana bergesekan dengan kulitnya yang panas. "Ahh... besar banget, Mas... Mbak suka nih... biar Mbak bantu keluarin ketegangannya..."
Revan kaget setengah mati, badannya tersentak, tangga goyang keras. "M-Mbak! Apa-apaan ini?!" Dia menghindar buru-buru, tapi kakinya terpeleset, tubuhnya jatuh ke belakang, langsung mendarat di kasur empuk di bawah. "Aduh!" serunya pelan, badan tergeletak, napas ngos-ngosan, tonjolan di celana masih tegang tinggi dari sentuhan tadi.
Wulan juga kaget, tapi matanya berbinar lebih terang, gairahnya makin membara seperti api yang baru dinyalakan. Dia langsung naik ke kasur, badannya mendekat, tangan kanannya maju lagi mau pegang tonjolan besar Revan yang menonjol jelas. "Ih, Mas Revan jatuh... tapi bagus deh, sekarang kita bisa santai bareng. Mbak pegang lagi ya, biar enak... ahh, Mbak pengen rasain yang besar ini..."
Revan langsung duduk, tangannya tepis tangan Wulan dengan sopan tapi tegas, mukanya merah padam, badan gemetar campur gairah yang tak bisa ditahan. "Mbak Wulan... tolong jangan. Ini nggak benar. Saya hormati Mbak sebagai tetangga, tapi ini salah. Biar saya selesain kerja dulu, ya? Tolong mundur, Mbak."
Wulan menghela napas panjang, gairahnya masih bergolak tapi dia mundur pelan, senyum genitnya agak pudar. "Ih, Mas Revan tegas banget... Mbak cuma pengen bantu rileks. Tapi yaudah deh, lanjut kerja aja."
Revan bangun cepat, naik tangga lagi dengan tangan gemetar, fokus tambal atap dengan cepat. Pikirannya kacau: sentuhan tadi bikin badannya panas, gairah sedikit muncul, sedikit kecewa karena penasaran, tapi takut dan malu lebih besar. "Lebih baik pulang, demi adik-adik," gumamnya dalam hati.
Pukul 12:17 siang.
Kerjaan selesai, atap aman, kayu rapi. Wulan ambil uang dari dompet kecil, kasih 70 ribu ke tangan Revan. "Ini Mas, lebih karena kerjaan bagus. Mbak puas... meski nggak puas yang lain. Lain kali datang lagi ya?"
Revan ambil uang, ucap terima kasih pelan. "Makasih banyak, Mbak. Saya pamit dulu. Assalamualaikum." Dia buru-buru keluar rumah, napas lega campur penyesalan. Hari ini memang panjang, godaan masih bergema di pikiran, gairah sedikit tersisa bikin dia kecewa diam-diam, tapi takut dan malu menang. Lebih baik pulang, demi Cici dan Vita yang nunggu.