Bab 5 - Hari yang panjang

1414 Kata
Pukul 03:12 dini hari. Revan masih terjaga, mata terbuka lebar menatap langit-langit bilik bambu yang gelap. Jantungnya masih berdegup kencang. Napasnya pendek-pendek. Sarungnya masih menonjol tinggi, sudah berkali-kali dia coba tekan, tapi tetap berdiri tegak seperti tiang besi. Bayangan wanita cantik tak henti berputar di kepalanya. Kebaya sutra hijau tipis itu… lekuk tubuhnya… p****g pink yang samar terlihat… pinggul yang meliuk genit… senyum manja yang bikin perutnya mules… aroma bunga kamboja yang masih tertinggal di bantal… “Ya Allah… jauhkan aku dari godaan setan…” gumamnya pelan, suaranya gemetar. Dia tutup mata rapat, tapi bayangan malah makin jelas. Dia buka mata lagi, lihat ke bawah — tonjolan di sarung masih keras. Dia tarik napas panjang, coba alihkan pikiran ke hal lain — ikan bakar kemarin, wajah Cici dan Vita yang lapar, tagihan beras — tapi tetap kembali ke bayangan itu. Pukul 04:07. Adzan Subuh berkumandang dari surau kecil di ujung desa. Suara Pak Ustadz Hadi terdengar serak tapi khusyuk, menggema di antara sawah dan hutan. Revan langsung bangun, badannya dingin keringat. Dia ambil wudhu di ember seng di belakang rumah. Air sumur dingin menusuk kulit, bikin dia sedikit sadar. Wajah dibasuh berkali-kali, tangan sampai siku, kepala disiram, kaki sampai mata kaki. Dia gosok-gosok muka keras, berharap bayangan itu hilang. Dia masuk lagi ke kamar, gelar sajadah kecil yang sudah usang, hadap kiblat. Sholat Subuh dua rakaat, baca surat pendek pelan-pelan, sujud lama, doa-doa perlindungan dibaca berulang-ulang. Selesai sholat, dia duduk tahiyat akhir lama, tangan diangkat, minta dijauhkan dari godaan syaitan. Cici dan Vita masih tidur pulas di kamar sebelah, terdengar dengkuran pelan Cici. Rumah sunyi senyap. Pukul 05:33 pagi. Langit mulai terang kebiruan. Kabut tipis masih menyelimuti sawah. Revan keluar rumah, olahraga ringan di halaman. Push-up 30 kali, sit-up 50 kali, lari kecil keliling halaman 10 putaran. Keringat bercucuran, badan panas, pikiran sedikit lebih jernih. Dia ambil sapu lidi, bersihin halaman, buang daun-daun kering, ratain tanah. Warga mulai lalu-lalang. “Pagi Van!” sapa Pak Rt Sukardi (55 th) lewat bawa cangkul. “Pagi Pak!” jawab Revan sambil nyapu. “Pagi Mas Revan!” Mbok Suminah (60 th) lewat bawa keranjang ke pasar. “Pagi Mbok, mau ke pasar?” “Iya, beli cabe sama tomat. Ikan kemarin pada dapet banyak ya?” “Iya Mbok, alhamdulillah.” Satu per satu warga lewat, saling sapa, suasana pagi desa yang hangat. Pukul 06:47 pagi. Revan lagi nyapu di depan pagar bambu, tiba-tiba… “Mas Revaaaannn…” Suara manja dari arah jalan. Revan balik badan. Mbak Wulan (28 th), janda tetangga sebelah, jalan mendekat sambil goyang pinggul pelan. Rok kain jariknya pendek sampai paha tengah, tanktop ketat warna merah menempel di tubuh montoknya, d**a penuhnya bergoyang-goyang setiap langkah, rambut panjang digerai, bibir merah tebal, mata genit. Dia berhenti di depan pagar, tangan di pinggang, badan dimiringkan biar lekuknya kelihatan semua. “Mas Revan… lagi sibuk ya? Bisa tolong Mbak nggak? Di rumah ada kerjaan berat, nggak kuat sendiri… nanti Mbak upahin 50 ribu, gimana?” Revan langsung grogi, matanya nggak tahu mau lihat ke mana. Sarungnya yang baru dipake tadi pagi langsung menonjol lagi tanpa bisa dicegah. “E-eh… kerjaan apa, Mbak?” Mbak Wulan tersenyum lebar, mata genit, tangan main-main di rambut. Matanya turun pelan, melirik ke arah sarung Revan yang menonjol tinggi. Dia gigit bibir bawah, mata berbinar seperti nemu mainan baru. “Wah, Mas Revan pagi-pagi sudah semangat banget ya? Itu… yang berdiri tegak kayak tiang itu, kelihatan banget lho. Mbak lihat dari tadi, kok makin tinggi aja? Hehe, pasti capek ya berdiri terus? Mbak bisa bantu biar enak, loh. Biar rileks, biar nggak pegel. Gimana, Mas? Mau Mbak bantu sekarang atau nanti di rumah?” Revan langsung panik, tangannya refleks nutupin tonjolan di sarung, mukanya merah padam seperti tomat mateng. “M-Mbak! Jangan gitu… ini… ini cuma… eh, maksud Mbak kerjaan apa tadi?” Mbak Wulan tertawa kecil, suaranya genit dan menggoda, tangan masih di pinggang, badan bergoyang pelan seperti lagi mengajak. Matanya nggak lepas dari tonjolan itu, malah makin sering melirik sambil tersenyum licik. “Lho, Mas Revan malu ya? Santai aja, Mbak kan tetangga deket. Mbak tahu kok cowok seperti Mas Revan kadang butuh bantuan. Itu yang berdiri tegang gitu, pasti lagi mikir yang enak-enak kan? Mbak bisa bantu bikin lebih enak lagi. Bisa dipijat, digosok, atau apa aja deh biar puas. Nggak usah malu, Mbak rahasiakan kok. Lagian, Mbak sendirian di rumah, lama nggak ada yang nemenin. Mas Revan kan kuat, pasti bisa handle Mbak juga.” Revan mundur selangkah, badannya panas dingin campur aduk, napasnya makin cepat. “Mbak Wulan… tolong jangan bilang gitu. Saya… saya nggak bisa. Kerjaan rumah Mbak aja deh, kayu dipotong sama atap ditambal kan? Saya bisa bantu itu, tapi yang lain… nggak deh.” Mbak Wulan maju mendekat ke pagar, badannya hampir menyentuh bambu, d**a montoknya naik turun karena tertawa pelan. Matanya masih melirik ke bawah, jari tangannya main-main di pagar seperti lagi mengelus sesuatu. “Ih, Mas Revan pura-pura suci ya? Mbak lihat kok itu yang berdiri makin keras aja setiap Mbak ngomong. Pasti penasaran kan? Mbak bisa bantu bikin tenang, loh. Bayangin aja, nanti di rumah Mbak, kita santai-santai dulu, Mbak pegang yang itu, gosok pelan-pelan sampe keluar semua ketegangannya. Enak banget pasti, Mas. Mbak jago kok soal beginian. Suami Mbak dulu suka banget dibantu gini.” Revan geleng-geleng kepala, tangannya masih nutupin sarung, keringat mulai mengucur di dahi. “Nggak Mbak, sungguh. Saya punya adik-adik yang harus saya urus. Cici sama Vita lagi butuh makan. Kalau Mbak bayar 50 ribu buat kerjaan rumah, ya saya terima. Tapi yang lain… astaghfirullah, Mbak. Itu dosa.” Mbak Wulan memiringkan kepala, senyumnya makin lebar, mata genitnya seperti lagi menantang. Dia angkat satu tangan, jari telunjuknya nunjuk ke tonjolan itu dari kejauhan. “Dosa apa, Mas? Ini kan alamiah. Cowok sehat kayak Mas Revan pasti sering begini. Mbak bisa bantu biar nggak sakit, loh. Lihat nih, itu kelihatan banget lagi minta perhatian. Mbak punya minyak urut enak, bisa dipake biar licin dan nyaman. Nanti Mbak gosok pelan, naik turun, sampe Mas Revan mengerang puas. Hehe, pasti langsung rileks abis itu. Kerjaan rumah bisa dikerjain setelahnya, kan?” Revan diam sejenak, pikirannya berputar kencang. Di satu sisi, dia ragu-ragu banget, hati kecilnya bilang ini salah besar, godaan yang harus dihindari. Tapi di sisi lain, uang 50 ribu itu penting banget. Cici sama Vita lagi kelaparan kemarin, ikan bakar cuma cukup buat satu hari. Butuh beras, dan dia sendiri butuh makan biar kuat kerja. Kalau tolak, nanti gimana? Mbak Wulan mungkin marah, atau gosip di desa. Tapi kalau terima… ya Allah, ampuni hamba. Waktu berlalu pelan, mungkin sekitar 20 menit mereka berdiri di situ, Mbak Wulan terus ngomong genit, melirik-lirik, dan Revan cuma jawab pendek-pendek sambil ragu. Matahari mulai naik, angin pagi bertiup pelan, tapi Revan merasa seperti lagi di uji. Akhirnya, setelah diam lama, Revan tarik napas dalam. “Iya deh Mbak… saya terima. Nanti saya ke rumah Mbak jam 10 pagi. Tapi… tolong ya, cuma kerjaan rumah aja.” Mbak Wulan langsung bertepuk tangan kecil, badannya bergoyang senang, mata genitnya berbinar. “Yay! Bagus dong, Mas Revan pintar. Nanti di rumah Mbak, yang berdiri itu Mbak bantu enak-enak ya. Biar Mas Revan puas dan nikmat, sampe lupa semua beban. Mbak janji, rahasia kita berdua. Mbak siapin minuman dingin dulu, ya? Datang tepat waktu loh, jangan telat. Hehe, Mbak tunggu dengan sabar.” Dia kedip mata lagi, jari tangannya melambai genit, lalu balik badan, pinggul digoyang-goyang lebih keras sambil jalan pergi, meninggalkan Revan yang berdiri membeku. Revan berdiri di situ, napas ngos-ngosan, tonjolan di sarung masih tinggi. Dia terima tawaran itu terpaksa, demi uang buat adik-adiknya dan dirinya sendiri. Tapi di hati, dia tahu ini bakal bikin hari ini panjang dan penuh godaan. Dia masuk rumah pelan, ambil air wudhu lagi, sholat sunnah taubat, minta dijauhkan dari godaan. Tapi pikirannya sudah mulai melayang ke rumah Mbak Wulan. Pukul 07:15 pagi. Revan duduk di teras rumah, tangan memegang secangkir teh panas yang baru dibuat. Matanya kosong menatap sawah di depan, kabut pagi sudah mulai hilang, matahari mulai hangat. Cici dan Vita masih tidur di dalam, rumah kecil ini terasa semakin sempit dengan beban pikirannya. Dia ingat-ingat kata-kata Mbak Wulan tadi, godaan yang begitu langsung dan ceplas-ceplos. “Ya Allah, beri hamba kekuatan,” gumamnya pelan. Dia bangun, ambil peralatan sederhana seperti gergaji kecil dan palu dari gudang belakang. Setidaknya, dia bisa fokus ke kerjaan rumah itu. Kayu dipotong, atap ditambal. Itu aja. Nggak lebih. Tapi dalam hati, dia tahu Mbak Wulan nggak bakal berhenti menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN