Bab 4 - Malam Pertama Ratu Jin

1038 Kata
Pukul 22:27 malam. Rumah sudah sepi total. Cici dan Vita sudah masuk ke dalam kamarnya dan tidur di kamar sebelah kamar revan, pintu bambu mereka tertutup rapat. Hanya suara jangkrik yang berisik di luar, angin gunung berdesir pelan lewat celah bilik, dan sesekali suara ayam jantan yang berkokok ditambah suara katak berbunyi. Revan baring telentang di tikar pandan, badan atasnya telanjang, d**a masih dibalut daun sirih yang sudah agak kering. Hanya menggunakan Sarung batik cokelatnya dililit longgar di pinggang. Lampu minyak sudah mati, kamar gelap gulita, hanya cahaya rembulan tipis masuk dari celah bilik bambu, bikin garis-garis putih samar di lantai kayu dan di tubuh Revan. Dia belum bisa tidur. Pikiran kacau banget. Aroma sore tadi — aroma hangat dari pangkuan Cici — masih terngiang kuat, bikin badannya panas dingin sendiri. Ditambah d**a yang masih hangat aneh, seperti ada bara kecil di dalam tulang. Sarungnya yang longgar tadi sempat menonjol tinggi sendiri berkali-kali, dan dia malu banget kalau sampai ketahuan. Tiba-tiba… Angin sejuk masuk lebih kencang, pintu bambu bergoyang pelan meski sudah terkunci rapat. Bau bunga kamboja dan melati tercium kuat sekali, sampai memenuhi seluruh kamar, bikin Revan langsung duduk, jantung berdegup kencang. Cahaya hijau samar muncul di sudut kamar, berputar pelan seperti asap hijau zamrud. Dalam hitungan detik, sosok itu terbentuk. Dewi Ayu Anarawati. Dia berdiri di ujung tikar, kebaya sutra hijau tipisnya menempel ketat di tubuh sempurna, tanpa bra, tanpa celana dalam. Lekuk d**a penuhnya naik-turun pelan mengikuti napas, putingnya samar terlihat menonjol di balik kain sutra yang hampir tembus pandang. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggul, mahkota emas kecil berkilau redup. Mata hijau zamrudnya menatap Revan dengan senyum manja yang bikin bulu kuduk berdiri. Dia menggerakkan pinggulnya pelan, seperti menari tanpa musik, badannya meliuk genit, tangan kirinya menyentuh rambut sendiri, jari-jarinya bermain di ujung rambut, tangan kanannya menyentuh leher jenjangnya sendiri, turun pelan ke d**a, berhenti tepat di atas lekuk yang penuh. Revan langsung loncat duduk, sarungnya hampir lepas, tangan buru-buru pegang pinggang. Matanya membelalak, napas tersengal, wajah pucat campur merah. “LU… LU SIAPA?! SIAPA KAMU?! SIAPA KAMU?! KELUAR DARI KAMAR GUE!!! KELUARRR!!!” Dia teriak panik, suaranya gemetar, badan mundur sampai punggung nempel dinding bambu keras. Dewi Ayu cuma tersenyum manja, nggak gerak dari tempatnya, tapi pinggulnya masih meliuk pelan, seperti menggoda tanpa kata. Suara lembut genitnya mengisi kamar redup. “Hihihi… tenang dulu, Tuanku… aku nggak mau ganggu tidurmu kok.” Revan masih panik, tangan gemetar, langsung baca doa belepotan: “Qul a’uudzu birabbil falaq… min syarri maa khalaq… wa min syarri ghoo… ghoo… ghoosiqin idzaa waqob… astaghfirullah jangan deket!!! Qul huwallahu ahad… Allahush shomad… lam yalid wa lam yuulad… Allahula ilaha illa huwal hayyul qoyyum… laa ta’khudzuhu sinatun wa laa nauum…” Dia salah baca berkali-kali, napas ngos-ngosan, suara serak, keringat dingin mengucur. Dewi Ayu melangkah pelan mendekat, kaki telanjangnya nggak bersuara, pinggulnya bergoyang genit setiap langkah, kebaya tipisnya bergesekan pelan dengan kulitnya sendiri, bikin suara sutra halus. Dia duduk bersila di depan Revan, jarak satu meter. “Aku Dewi Ayu Anarawati… ratu jin dari kerajaan Gaib Nusantara yang hilang 2000 tahun lalu. Aku ditangkap oleh seorang manusia berkekuatan super — dukun sakti bernama Resi Damarwulan — yang jauh lebih kuat dari aku waktu itu. Dia segel aku di batu kristal hijau menggunakan ilmu kuno, karena aku menolak jadi selirnya. Dua ribu tahun aku terkurung sendirian di kegelapan, nggak bisa lihat langit, nggak bisa rasain angin… sampai hari ini kau mematahkan segel itu tanpa sengaja.” Revan masih gemetar, tapi mulai diam dengerin, mata membelalak. Dewi Ayu lanjut, suara lembut tapi penuh drama. “Kerajaanku dulu megah sekali, Tuanku… istana dari emas dan permata, taman bunga abadi, sungai s**u, gunung madu… ribuan jin dan siluman tunduk padaku. Aku ratu termuda, tercantik, dan paling genit — hihihi. Tapi sekarang… semuanya tinggal kenangan.” Dia berhenti, mata hijau zamrudnya berkaca-kaca pura-pura. Revan masih panik, tapi mulai bingung. “J-jadi… lu beneran jin?” Dewi Ayu tersenyum lebar, ketawa kecil. “Iya, Tuanku… dan sekarang aku milikmu. Karena kau yang bebaskan aku.” Dia tiba-tiba merangkak pelan mendekat, badannya meliuk genit, kebaya tipisnya bergesekan dengan lantai, memperlihatkan lekuk pinggul dan paha yang mulus. Revan langsung mundur lagi, punggung sudah nempel dinding. “J-JANGAN DEKET!!! GUE TAKUT!!!” Dewi Ayu cuma ketawa ngik-ngik, badannya bergoyang genit. Dia angkat tangan kanan, lembut pegang pipi Revan. Kulitnya dingin tapi hangat, seperti sutra hidup. Tangan kirinya pegang tangan kanan Revan, jari-jarinya saling terkait. “Jangan takut, Tuanku… lihat ini…” Dalam sekejap, pandangan Revan berubah. Dia seperti terbang ke masa lalu. Dia lihat kerajaan megah di atas awan, istana emas berkilau, taman bunga warna-warni yang nggak pernah layu, air terjun s**u mengalir, ribuan jin bersayap hormat membungkuk saat Dewi Ayu lewat dengan kebaya yang sama, tapi lebih mewah. Musik gamelan gaib, tawa jin perempuan, aroma bunga abadi. Revan terpana, tapi tetap panik. “Ini… ini beneran?! Tapi gue takut… gue nggak mau diganggu jin!!” Dewi Ayu ketawa ngik-ngik lagi, tangannya masih pegang pipi dan tangan Revan. “Tuanku lucu sekali kalau panik… aku nggak ganggu kok. Aku cuma mau melayani… apa pun yang Tuanku mau… inginkan…” Dia mendekatkan wajah, bibirnya cuma 5 cm dari bibir Revan, napasnya hangat bawa bau melati. Revan langsung loncat mundur lagi, sarungnya hampir lepas, tonjolan di bawah sana makin keras. “ASTAGHFIRULLAH JANGAN!!! GUE… GUE BELUM SIAP!!! GUE TAKUTTT!!!” Dia baca doa belepotan lagi, suara campur aduk. Dewi Ayu cuma ketawa manja, badannya bergoyang genit, d**a penuhnya naik-turun. “Baiklah… aku nggak maksa malam ini. Tapi ingat ya, Tuanku…” Dia berdiri pelan, tubuhnya berputar satu kali, kebaya sutra berputar mengikuti, memperlihatkan lekuk dari segala sisi. “Kalau Tuanku butuh aku… kapan pun, siang malam… panggil saja dengan panggilan Jawa kuno: ‘Gusti Ayu Anarawati, kawula nyuwun pangestu’ Aku akan datang seketika… dan siap melayani Tuanku… sepenuh hati.” Dia kedipkan mata, senyum genit terakhir, lalu tubuhnya berubah jadi asap hijau tipis, menghilang, meninggalkan bau bunga yang masih tertinggal. Revan duduk membeku, napas ngos-ngosan, sarungnya masih menonjol tinggi, badannya panas dingin, jantung berdegup kencang. “ayu... Aah gua mimpi ini pasti” Revan menabok nabok pipinya sesekali. “ya allah ini nyata.” rasa panik dan takut membenak di diri revan. Dan Malam itu revan nggak bisa tidur sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN