Pukul 16:18 sore.
Langit masih terang keemasan, matahari condong ke barat, sinarnya menyelinap lewat celah-celah daun kelapa dan pohon pisang di halaman, bikin bayangan panjang bergoyang-goyang di tanah merah kering yang retak-retak. Angin gunung berhembus pelan dari arah utara, bawa bau rumput liar yang baru dipotong tetangga, tanah lembab dari sawah sebelah, dan asap kayu bakar tipis dari rumah-rumah yang lagi masak sore. Suara ayam berkokok satu per satu dari kandang belakang, campur suara anak kecil main petak umpet di jalan tanah, teriakan “Ketemu luu!” dari jauh.
Revan dan Dika muncul dari ujung jalan tanah merah yang berdebu.
Debu menempel di kaki dan sandal mereka, bikin jejak kaki yang jelas di tanah.
Revan jalan sempoyongan parah, kaki lelet seperti orang mabuk, sandal jepit kanannya sudah setengah lepas, nyaris jatuh setiap langkah. Kaus oblong abu-abunya bolong besar di bagian d**a, kainnya hangus hitam sampai sobek menganga lebar, memperlihatkan kulit merah terbakar seperti disetrika panas, ada bercak merah muda di pinggirnya, beberapa bagian kulit mengelupas tipis dan masih perih kalau terkena angin. Celana panjang kain cokelatnya kotor lumpur hitam sampai lutut, ujungnya basah dan berat karena air rawa, bikin bunyi “ceples ceples” setiap langkah. Rambut hitamnya acak-acakan, beberapa helai nempel di dahi karena keringat dingin yang mengucur. Wajahnya pucat, bibir kering retak-retak, matanya setengah terbuka, ember ikan di tangan kanan bergoyang-goyang karena dia limbung, airnya tumpah-tumpah ke tanah, bikin jejak basah.
Dika jalan di depan, dua ember penuh ikan di kedua tangan, muka lebar senyum sampai gigi kelihatan semua, badan gendutnya bergoyang-goyang seperti bebek gemuk. Kaus bolong-bolongnya basah keringat, celana pendeknya kotor lumpur, sandal jepit kanan merah kiri hitam, jarinya penuh lumpur.
“WOYYYY LIAT NIH BRO!!! SEPULUH EKOR MONSTER SEMUA!!! KITA PESTA MALAM INI!!! TAPI KAKAK KALIAN TADI KETEMU SETAN BENERAN BRO!!! BATU KRISTAL NYANYI-NYANYI, TRUS MELEDAK, BAJUNYA BOLONG GINI!!! HAHAHA DRAMA BANGET LU VAN!!!”
Suara Dika menggelegar, bikin ayam-ayam tetangga kaget kabur.
Cici dan Vita yang lagi duduk bersila di teras langsung lompat berdiri, muka panik.
“KAK REVAANNN!!!”
Cici lari duluan, rok mini denim biru mudanya berkibar tinggi sampai paha atas, tanktop putih tipisnya bergoyang-goyang mengikuti lari, rambut panjangnya tergerai berkibar seperti bendera.
Vita ikut di belakang, tanktop abu ketat menempel basah keringat di tubuhnya, celana pendek olahraga hitamnya melorot sedikit di pinggang karena lari cepat, memperlihatkan garis pinggang dan sedikit kulit putih di atas.
Dika masuk duluan, letakkan dua ember di teras dengan bunyi “bruk bruk” keras. Ikan-ikan masih loncat-loncat-loncat di dalam, airnya tumpah ke lantai kayu, bikin licin.
“WOY LIAT NIH! INI GABUS DUA KILO! INI LELE JUMBO! INI NILA GEDE BANGET! KITA BAKAR SEMUA MALAM INI BRO!”
Cici kesal, mukanya cemberut.
“BERISIK KAMU DIKA!! KAK REVAAN KENAPA?!”
Vita juga kesal, tangannya di pinggang.
“Iya! Jangan ribut dulu! Liat Kak Revan kayak orang mau pingsan!”
Dika cuma nyengir lebar, angkat bahu.
“Aah bohong tuh, dia cuma drama. Katanya ketemu batu kristal yang bisa nyanyi ‘terima kasih’ trus meledak! Hahaha gila bro, lu bikin cerita horror apa romcom sih?”
Dia mulai bertingkah konyol, pura-pura jadi batu kristal, tangan digoyang-goyangin, muka dibikin serem tapi malah lucu, suara dibikin serak:
“TERIMA KASIH… MELEDAK!!! BOOM!!!”
Cici dan Vita cuma melotot kesal, tapi nggak sempat marah lagi karena Revan sudah limbung parah.
Mereka langsung nyamperin Revan yang hampir jatuh.
Revan limbung parah, kaki kiri nyaris terpeleset di anak tangga bambu yang licin karena air tumpah tadi.
Cici peluk pinggang Revan dari sisi kiri, Vita dari kanan.
Badan Revan yang lebih tinggi dan berotot akhirnya ambruk pelan ke belak.
Kepala Revan jatuh tepat di pangkuan Cici yang lagi duduk bersila di lantai teras kayu.
Rok mini denim Cici sudah naik tinggi karena posisi duduk bersila, hanya celana dalam pink tipis yang menutupi.
Hidung Revan cuma beberapa senti dari s**********n Cici.
Aroma hangat, manis, khas tubuh perempuan yang seharian beraktivitas langsung menyergap hidung Revan — campuran keringat tipis, sabun colek murah, dan bau alami yang lembut tapi kuat, bikin jantungnya langsung berdegup kencang, napasnya tersengal.
Cici kaget setengah mati, wajahnya merah padam sampai telinga dan leher, badannya menegang keras, tapi dia nggak berani gerak sama sekali.
Di bagian bawahnya terasa geli aneh yang menyebar cepat, bikin dia menggigit bibir bawah sendiri, napasnya jadi pendek-pendek, terangsang hebat tapi malu banget.
Dia cuma bisa diam, tangan gemetar pegang pundak Revan biar nggak jatuh.
Revan sendiri langsung “bangun” di bawah sana.
Celana kainnya yang longgar langsung menonjol tinggi, bentuknya jelas terlihat menegak ke atas, seperti tiang kecil yang tiba-tiba berdiri tegak.
Dia sadar, wajahnya memerah hebat sampai kuping, tapi kepala masih pening berat, nggak bisa bangun segera.
Vita yang jongkok tepat di depan lihat jelas.
Matanya melebar, napasnya tersengal pelan, wajahnya ikut memerah sampai leher, tangan yang lagi pegang lengan Revan gemetar.
Dika masih berdiri sambil nunjukin ikan satu per satu, nggak sadar drama di bawah.
“Ini gabus dua kilo! Ini lele jumbo! Ini nila gede banget! Kita bakar semua malam ini bro!”
Di atas atap rumah, Dewi Ayu melayang tak terlihat, tangan nutup mulut, ketawa kecil manja.
“Hihihi… drama keluarga Tuanku lucu sekali… adik-adiknya manis-manis, cemburu pasti seru nanti…”
Cici pelan-pelan usap rambut Revan yang masih di pangkuannya, jari-jarinya gemetar hebat.
Sensasi geli makin menjadi, dia tanpa sadar geser paha sedikit, membuat kepala Revan bergeser pelan, aroma makin kuat, bikin Revan napasnya tersengal lebih dalam, tonjolan di celananya makin tegang.
Vita ambil air daun sirih dari dapur, balut d**a Revan yang merah.
Jari-jarinya gemetar menyentuh kulit kakaknya, matanya sesekali melirik ke bawah, ke tonjolan yang masih tegang keras, napasnya jadi lebih cepat.
Revan cuma bisa gumam lemas, mata setengah terbuka.
“Gue… gue nggak bohong… tadi beneran ada suara…”
Dika cuma ketawa ngakak lagi.
“Udah-udah, besok cerita. Sekarang bakar ikan dulu!”
Pukul 19:42 malam.
Ikan sudah matang semua, bau harum menyeruak ke seluruh halaman.
Perut kenyang.
Dika berdiri, tepuk perut gendutnya.
“Gue pulang dulu ya bro. Besok mampir lagi!”
Dia ambil tiga ekor ikan besar, bungkus daun pisang.
“Ini buat ibu sama adik gue. Bilang makasih ya!”
Revan, Cici, Vita melambai.
Dika joget kecil sambil jalan mundur, menghilang di ujung jalan.
Rumah sepi bertiga.
Pukul 20:11 malam.
Cici dan Vita bantu Revan mandi cepat di kamar mandi belakang — cuma guyur air sumur dingin dari gayung plastik.
Revan ganti sarung batik cokelat baru, badan atas telanjang, d**a masih dibalut daun sirih.
Mereka bantu Revan masuk kamar kecilnya.
Pintu bambu ditutup pelan.
Revan baring di tikar pandan, napas masih agak berat, pikiran kacau, aroma sore tadi masih terngiang.
Lampu minyak dimatiin.
Kamar gelap gulita, cuma cahaya rembulan tipis dari celah bilik.
Angin sejuk masuk, bau bunga kamboja dan melati semakin kuat.
Cahaya hijau samar mulai muncul di sudut kamar…