Perjalanan pulang dari rawa memakan waktu satu jam lebih, tapi perjalanan paginya jauh lebih hidup.
Pukul 06:38 pagi.
Matahari baru setengah muncul, sinarnya kuning keemasan menyelinap lewat celah-celah daun kelapa di pematang sawah. Udara masih dingin, embun menempel di rumput liar, bau tanah basah dan padi muda menusuk hidung.
Dika jalan di depan, badan gendutnya bergoyang-goyang seperti bebek, ember plastik biru penyoknya berayun-ayun sampai bunyi “bruk bruk” setiap langkah. Dua joran pancing bambu panjang dia gantung di bahu kiri, ujungnya goyang-goyang seperti antena.
Dia tiba-tiba berhenti, putar balik, jalan mundur sambil buka tangan lebar-lebar.
“Selamat datang di Dika’s Fishing Tour 2025! Harga spesial cuma satu nyawa kalau ketemu jin! Hahaha!”
Revan cuma geleng-geleng sambil ketawa kecil, sandal jepitnya nyemplung-nyemplung di genangan air sawah.
Mereka lewati jalan setapak tanah merah yang licin karena embun. Kiri-kanan sawah bertingkat, airnya mengalir pelan, bunyi “cres cres” dari pipa bambu irigasi. Burung gereja beterbangan dari rumpun padi, suaranya ribut.
Dika tiba-tiba lompat ke pematang, pura-pura jadi ikan gabus.
“Woi gue ikan monster bro! Tangkap gue dong!”
Dia lompat-lompat kecil, badan gendutnya goyang, sampai hampir jatuh ke sawah.
Revan ketawa sampe ngos-ngosan.
Sampai di jembatan bambu kecil yang sudah rapuh, Dika sengaja goyang-goyangin sampai berderit keras.
“Wooo… tsunami bambu bro!!”
Revan cuma pegang erat tali jembatan, ketawa sambil geleng-geleng.
Mereka masuk hutan kecil sebelum rawa. Pohon jati tua, akarnya menjalar di tanah, daun-daun kering berderit diinjak. Angin berdesir pelan, bawa bau kayu basah dan jamur. Burung tekukur berbunyi “tekukur… tekukur…” dari dahan tinggi.
Dika tiba-tiba berhenti, pura-pura takut.
“Van… lo denger nggak? Ada suara kuntilanak!”
Revan cuma nyengir.
“Itu burung hantu, tolol.”
Dika langsung joget “Goyang Kuntilanak”, tangan digoyang-goyangin, muka dibikin seram tapi malah lucu banget.
Revan ketawa sampe perut sakit.
Pukul 07:58 pagi.
Akhirnya sampai di rawa desa sebelah.
Kabut tipis masih menyelimuti seperti selimut putih. Air surut, lumpur hitam menganga, bau amis busuk dan lumut menusuk hidung. Pohon-pohon beringin tua berdiri seperti raksasa, akarnya menggantung panjang seperti jenggot gergasi. Suara katak ribut “krek krek krek”, jangkrik masih nyanyi, tapi suasana tetap agak tegang — seperti ada yang mengawasi dari balik kabut.
Dika langsung heboh biar nggak tegang.
“Wooo bro! Ini rawa atau kolam renang setan?! Gue mau buka konser dangdut dulu biar ikannya pada goyang!”
Dia langsung joget “Goyang Dua Jari”, pinggul digoyang-goyang keras, muka dibikin m***m, tangan gerak-gerak seperti lagi pegang mic.
Revan ketawa ngakak sampai jongkok.
Mereka coba empat titik selama dua jam penuh.
Hasilnya nol besar. Kail cuma goyang karena angin.
Dika mulai kesal, muka merah padam, keringat bercucuran, sandal jepitnya dilempar-lempar ke lumpur sampai nyemplung.
“Busett ikannya pada kemana?! Gue udah kasih umpan cacing premium! Cacing gue aja lebih pinter dari ikan ini!”
Revan cuma diam, matanya melirik ke selatan, ke pohon beringin tua yang paling besar, akarnya menggantung seperti jenggot raksasa menutupi setengah badan pohon.
“Ayo mencar. Gue ke selatan, lu ke barat. Satu jam lagi ketemu di sini.”
Dika ngedumel keras, tapi nurut, jalan ke barat sambil tetap ngomel-ngomel sendiri, suaranya masih kedengeran sampe jauh.
Revan jalan sendirian ke selatan.
Sandal jepitnya nyemplung-nyemplung di lumpur, bunyi “plek plek” setiap langkah. Kabut makin tebal di sini, bau lumpur makin busuk.
Sampai di bawah pohon beringin raksasa, dia pasang umpan cacing yang masih gerak-gerak, lempar kail ke air keruh.
Lima menit kemudian…
“Jangan mancing di sini, Nak.”
Suara serak tua dari belakang, pelan tapi tegas.
Revan kaget jantungan, hampir jatuh ke lumpur.
Dia balik badan cepat, tangan gemetar, langsung baca semua surat pendek yang dia hafal sejak kecil, suaranya bergetar tanpa napas:
“Qul huwallahu ahad… Allahush shomad… lam yalid wa lam yuulad… wa lam yakul lahuu kufuwan ahad…”
“Qul a’uudzu birabbil falaq… min syarri maa khalaq…”
“Qul a’uudzu birabbinnas… malikinnas… ilahinnas…”
“Allahula ilaha illa huwal hayyul qoyyum… laa ta’khudzuhu sinatun wa laa nauum…”
Muka Revan pucat, napas tersengal.
Kakek tua berdiri tiga meter di belakang, badan bungkuk, sarung lusuh berwarna cokelat pudar, kopiah hitam sudah bolong di pinggir, tongkat dari akar beringin asli, ujungnya runcing.
Kakek itu menggeleng pelan, matanya dalam seperti sumur tua.
“Di sini ada batu terkutuk. Bahaya. Pulanglah, Nak.”
Revan masih gemetar, tapi ingat wajah Cici dan Vita yang memohon pagi tadi.
“Saya… saya cuma mau cari ikan buat adik-adik, Kek. Mereka nggak ada lauk.”
Kakek itu menegaskan lagi, suara lebih keras, seperti guntur pelan.
“Lebih dari ikan yang kau dapat kalau tetap di sini. Pulang.”
Revan tetap duduk, tangan gemetar lempar kail lagi.
Kakek menghela napas panjang, berbalik, dan menghilang di balik kabut seperti ditelan bumi. Nggak ada suara langkah, nggak ada jejak.
Revan lanjut mancing, napasnya masih ngos-ngosan.
Dalam tiga puluh menit, ikan seperti gila.
Satu per satu naik: gabus dua kilo, lele jumbo, nila besar. Ember penuh sepuluh ekor, airnya tumpah-tumpah karena ikan masih loncat-loncat.
Tarikan kesebelas datang tiba-tiba — keras banget, hampir narik Revan masuk air.
Revan tarik kuat-kuat, otot lengannya menonjol, keringat bercucuran.
Tiba-tiba kailnya melayang ke atas sendiri, batu kristal hijau panas terbang keluar dari lumpur, “PROK!” nancep keras ke d**a Revan.
Baju kausnya langsung meleleh bolong besar, kulit terasa terbakar dasyat seperti disetrika, Revan loncat kesakitan, batu jatuh tepat di dekat kakinya, menabrak batu kali lain.
“PRANG!!”
Batu hancur berkeping-keping, cahaya hijau menyilaukan membelah kabut, angin kencang tiba-tiba, Revan terdorong ke belakang, punggung membentur batang pohon keras, pingsan tak terkendali.
Cahaya hijau mereda perlahan.
Dewi Ayu Anarawati muncul dari cahaya, tubuhnya terbentuk dari asap hijau yang berputar.
Cantik luar biasa, rambut hitam panjang bergelombang sampai pinggul, kulit putih mulus seperti porselen, mata hijau zamrud berkilau. Mahkota emas kecil, kebaya sutra hijau tipis menempel ketat di tubuh sempurna, lekuk d**a penuh, pinggang ramping, pinggul lebar, tanpa bra tanpa celana dalam, kain sutra tipis bergoyang pelan mengikuti angin.
Dia berlutut di samping Revan yang pingsan, senyum manja.
“Terima kasih, Tuanku… akhirnya aku bebas setelah dua ribu tahun.”
Lihat Revan pingsan, dia ketawa kecil genit.
“Loh… pingsan kah? Hihihi…”
Dia elus pipi Revan pelan dengan jari telunjuk.
“Ganteng sekali… hihihi…”
Dia letakkan telapak tangan di d**a Revan, mata tertutup, membaca semua masa lalu dalam sekejap.
Air mata bening mengalir di pipi mulusnya.
“Kasihan sekali hidupmu… miskin, berjuang sendirian demi adik-adik… mulai hari ini aku akan bantu sampai kau kaya raya, Tuanku.”
Dia elus-elus wajah tampan Revan lama, jari menyusuri garis rahang, bibir, leher, d**a yang terbuka.
Napasnya hangat di telinga Revan yang pingsan.
“Aku akan setia selamanya, Tuanku…”
Tubuhnya berubah jadi asap hijau tipis, menghilang.
Pukul 13:20 siang.
Dika jalan ke selatan sambil teriak-teriak konyol:
“REVAANNN!!! VAN DI MANA LU BROOO!!! KALAU LU MATI GUE BAWA PULANG IKANNYA SENDIRI YA!!! GUE JADI JANDA IKAN!!!”
Dia joget-joget kecil, tangan digoyang-goyangin seperti hantu, muka dibikin seram tapi lucu banget, ember kosong digantung di leher.
Sampai di bawah pohon beringin besar, dia berhenti mendadak.
Revan tergeletak pingsan di tanah lumpur, kausnya bolong hangus di d**a, ember di samping penuh 10 ikan besar-besar.
Dika kaget setengah mati.
“YA TUHAN VAN MATI BENERAN?!!”
Dia loncat-loncat panik, hampir jatuh.
Lalu lihat ember ikan → mata langsung berbinar.
“WADUH IKAN GEDE-GEDE!!! TAPI VAN MATI?! SENANG TAPI SEDIH GUE!!!”
Dia jongkok, tabok pipi Revan pelan — nggak bangun.
Tabok lebih keras sambil goyang-goyang bahu.
“Bangun bro! Lu mati beneran gue ambil semua ikannya loh!”
Revan tersentak bangun, batuk-batuk, pegang kepala.
“Lu… lu ngapain sih Dik??”
Dika ketawa ngakak.
“Gue kira lu mati bro! Tadi gue jalan sambil cari-cari, eh nemu lu tergeletak gini! Baju lu bolong lagi! Drama banget!”
Revan duduk pelan, masih bingung.
“Tadi… ada batu kristal panas banget… nyala terang… ada suara perempuan bilang terima kasih…”
Dika ngakak sampe nggelepar di lumpur.
“Hahaha drama banget lu! Bohong kamu! Mana ada batu nyanyi!”
Revan ngotot.
“Gue serius, Dik.”
Dika tetap gak percaya, tingkah konyol, mata melotot, tangan gerak-gerak.
“Alah bohong lu! Ini ikan-ikan ini gue bawa ya, gue kan nggak dapet satu pun!”
Revan cuma mengangguk lemas, masih sempoyongan.
Mereka jalan pulang, Dika bawa dua ember, senyum lebar.
Revan cuma diam, d**a masih hangat.
Di atas mereka, Dewi Ayu melayang tak terlihat, ketawa kecil manja.
“Hihihi… temennya Tuanku lucu sekali…”