Desa Ghadita masih dibungkus kegelapan pekat saat Adzan Subuh merdu berkumandang, memecah keheningan dari surau kecil yang terletak di ujung desa. Itu adalah suara pengingat, penanda hari baru yang datang dengan janji dan tantangan yang sama.
Satu per satu, lampu minyak di teras-teras rumah panggung dari bilik bambu mulai dinyalakan. Cahaya kuning yang berkedip-kedip itu menari, memantul di antara kabut tipis yang dingin, yang masih enggan meninggalkan sawah terasering. Udara di desa itu adalah campuran aromatik yang khas: bau tanah basah setelah embun semalam, dan aroma tajam nan hangat dari asap kayu bakar yang mulai mengepul dari cerobong dapur.
Revan (22) sudah terjaga bahkan sebelum suara adzan itu mencapai puncaknya.
Ia bangkit perlahan dari tikar pandan lusuh di lantai kamar, menghindari bunyi derit lantai yang sudah lapuk. Setelah mengucek mata, ia langsung menuju kolam air di belakang rumah untuk berwudhu. Air sumur itu, yang dialirkan langsung dari mata air gunung, sungguh dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, seolah-olah ingin menguji kesabaran.
Air ini… selalu terasa seperti cobaan kecil sebelum bertemu-Nya, ia menahan gigil.
Ia berwudhu dengan sempurna, meresapi setiap tetes air, lalu kembali ke dalam kamar untuk menggelar sajadah peninggalan almarhum bapaknya yang sudah bolong di beberapa tempat.
Salat Subuh itu adalah jangkar bagi jiwanya. Rukuknya lama, sujudnya begitu panjang, menumpahkan segala yang tak terucapkan di dunia nyata. Doanya terdengar sangat lirih di dalam keheningan rumah, tetapi sarat dengan harapan yang menggunung.
“Ya Allah, ya Tuhanku… cukupilah rizki kami sekeluarga hari ini. Jauhkan kami dari segala yang haram. Lindungi kedua adikku, Cici dan Vita, dari fitnah dunia dan pergaulan yang buruk. Dan lunakkanlah hati orang-orang, agar mereka sudi memberikan pekerjaan serabutan pada hamba-Mu yang lemah ini… hanya Engkaulah sebaik-baik tempat meminta…”
Setelah salam, ia tidak langsung bangkit. Ia duduk bersila, matanya tertuju pada kobaran kecil api lampu minyak. Ia membaca Ratib, melanjutkan dengan lantunan Surah Yasin yang menenangkan, hingga doa-doa penutup, sampai ia melihat rona jingga kemerahan mulai menyentuh ufuk timur melalui celah dinding bambu. Hanya setelah itu, barulah ia melangkah keluar kamar.
Setiap gerakan Revan di dalam rumah panggung itu diiringi suara. Krieet! Krieet! Lantai kayu yang menua berderit keras setiap kali kakinya menginjak. Dinding bilik bambu penuh dengan lubang kecil—sisa gigitan rayap dan penanda usia—membiarkan angin pagi yang dingin menusuk langsung ke kulit.
Ya Tuhan, rumah ini butuh perbaikan total. Bagaimana aku bisa membuat mereka nyaman?
Ia melihat ke atas, ke atap daun ilalang yang kusam. Atap itu bocor di tiga titik utama. Jika hujan deras datang, sudah pasti air akan menetes di dalam, membuat mereka harus memindahkan tikar ke sudut yang aman.
Revan meraih sapu lidi dari sudut, mulai menyapu halaman depan yang dipenuhi daun jati kering yang gugur semalam. Bau tanah basah, aroma rumput ilalang liar, dan asap kayu bakar dari dapur tetangga berpadu menjadi bau pagi Desa Ghadita yang ia kenal sejak lahir.
Di kejauhan, terdengar suara kerbau Pak Minto yang menguak. Tak lama, disusul suara duk! duk! duk! teratur dari lesung milik Mbok Joyo yang sudah mulai menumbuk padi. Kehidupan desa sudah dimulai.
Dari arah dapur, terdengar suara lesu adiknya, Cici. Suaranya serak karena baru bangun.
“Mas… kayu bakar tinggal lima batang kecil doang,” keluhnya manja.
Revan mengalihkan pandangannya. Cici sedang berjongkok di depan tungku batu dengan posisi yang tidak disadarinya. Ia mengenakan rok mini yang hampir tidak menutupi pahanya dan tanktop putih ketat. Dalam sorot lampu minyak yang remang-remang, lekukan dadanya terlihat jelas. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, dan pipinya merona merah karena dingin pagi.
Revan buru-buru menunduk, fokus menyapu, mencoba mengendalikan matanya dan desiran aneh di d**a. Itu adiknya.
Astaghfirullah, jaga pandanganku.
Ia cuma mengangguk pelan tanpa menoleh.
“Nanti abang cari sore, Ci. Sabar ya.”
Seketika itu juga, Vita muncul dari kamar sebelah. Ia mengucek matanya dengan punggung tangan, sama mengantuknya dengan Cici.
Tanktop yang dikenakan Vita agak naik, mengekspos sedikit perut ratanya dan pinggul kecilnya. Celana dalam tipis berwarna pink samar-samar terlihat dari balik kain tanktop yang kependekan.
“Mas… beras tinggal segenggam. Telur tinggal dua. Minyak goreng tinggal setetes,” kata Vita dengan suara manja sambil bersandar pada tiang kayu teras.
Ia melangkah mendekati Revan, pandangannya penuh harap.
“Malam ini kita makan apa, Mas?”
Revan menghela napas panjang, menghentikan sapunya. Beban tanggung jawab itu terasa begitu nyata, menindih bahunya yang kurus. Ia menggenggam erat gagang sapu lidi itu.
“Rebus telurnya aja, Vi. Hemat minyak. Nasi dicampur garam,” jawab Revan, suaranya berusaha tegas.
Cici langsung menunjukkan ekspresi cemberut, lalu berdiri tegak sambil kedua tangan diletakkan di pinggang.
“Mas kok gitu sih? Tiap hari nasi sama garam, nasi sama garam. Aku udah bosen!” protes Cici dengan nada merengek.
Vita ikut maju, berdiri persis di samping Revan hingga lengan mereka bersentuhan.
“Iya, Mas. Kemarin aku ke rumah Mbok Sari, baunya ayam goreng sampai ke sini. Aku sampai ngiler…”
Revan merasa salah tingkah. Kedekatan fisik yang tiba-tiba itu membuat badannya tiba-tiba terasa panas, bukan karena sinar matahari, tetapi karena kehadiran dua adiknya yang kini telah beranjak dewasa dan sangat cantik.
Mereka sudah besar. Aku harus lebih menjaga jarak. Tapi bagaimana caranya? Mereka hanya mencari kenyamanan.
“Ya sabar ya. Abang lagi cari kerja serabutan. Kemarin bantu Pak Minto nimbang padi cuma dibayar dua puluh lima ribu. Belum cukup buat belanja yang layak,” jelas Revan, mencoba bersikap sebagai kakak yang bertanggung jawab.
Cici melangkah mendekat lagi, kepalanya bersandar lembut di lengan Revan. Tindakan itu tulus, namun mengandung daya pikat yang tak terhindarkan.
“Aku kangen makan pepes ikan, Mas. Yang bumbunya pedas, dibakar pakai daun pisang… bau asapnya sampai ke kamar,” bisiknya, suaranya terdengar merajuk.
Vita tidak mau kalah. Ia merangkul lengan Revan dari sisi yang lain, dan kini, d**a yang terbungkus tanktopnya menempel pelan di lengan kakaknya.
“Aku kangen ikan goreng tepung kering sama sambal terasi. Yang kulitnya kriuk-kriuk…”
Revan merasa dua tubuh lembut dan hangat menempel di kedua lengannya. Sensasi itu, walau datang dari adiknya, tetap membuatnya gelagapan. Wajahnya memerah seketika.
Mereka tahu aku tidak bisa menolak kalau sudah begini. Aku harus mencari cara untuk memenuhi keinginan mereka, secepatnya.
Ia buru-buru mundur selangkah, dengan canggung melepaskan rangkulan mereka.
“InsyaAllah nanti abang usaha dapetin ikan ya. Sabar dulu…”
Cici dan Vita saling pandang sekilas. Senyum kecil penuh kemenangan terukir di wajah mereka. Mereka tahu, cara merengek dan sentuhan manja seperti ini adalah kelemahan terbesar kakak mereka.
Tiba-tiba, keheningan pagi itu dihancurkan oleh suara berdebum keras. KRAAK!
Pagar bambu di depan rumah mereka, yang sudah reyot, ambruk total.
“ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!!! PAGAR LO LEMAH BANGET, VAN!!!”
Sosok Dika muncul dari balik puing-puing pagar yang kini rebah di tanah. Badannya bongsor, perutnya bergoyang-goyang setiap kali ia bergerak. Kaosnya sudah basah oleh keringat meski pagi masih dingin. Celana pendeknya sobek di bagian paha.
Di salah satu pundaknya, tersampir dua buah joran pancing bambu. Di tangan kanannya, ia menenteng kantong plastik kresek yang berisi cacing tanah premium yang masih menggeliat-geliat.
Cici yang tadinya manja, langsung berteriak dari ambang pintu dapur, nada suaranya berubah menjadi ketus dan usil.
“Dika gendut pagi-pagi udah bikin rusuh!”
Vita tertawa terbahak-bahak.
“Pagar kita sudah tua, lo tabrak pakai perut aja udah ambruk!”
Dika tidak marah. Dia malah menepuk-nepuk perutnya yang besar dengan bangga.
“Ini perut berkah! Nanti gue duduk di tepi rawa, ikan-ikan pada takut, terus lompat sendiri ke darat!”
Revan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dika, sahabatnya sejak kecil, memang satu-satunya sumber komedi yang konsisten di tengah kepahitan hidup mereka.
“Jam sepuluh pagi lo baru datang? Gue kira lo sudah berangkat dari Subuh,” tanya Revan.
Dika langsung memasang pose joget kecil sambil bersenandung dangdut yang liriknya tidak jelas.
“Subuh gue salat di masjid, trus gue gali cacing tanah premium di belakang kandang kambing Pak Minto! Bau banget, bro! Ikan pasti langsung mabuk cinta!” seru Dika penuh semangat.
Cici dan Vita kompak menutup hidung dan mengeluarkan seruan jijik. “Eeeuuwww!”
Dika merangkak mendekati Revan, lalu merapatkan kedua tangannya di depan d**a, memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
“Van… ayo mancing di rawa sebelah desa! Kata Pak Carik kemarin, ikan gabusnya pada gede-gede. Satu ekor bisa dijual dua belas ribu! Kita bisa beli beras lima kilo, telur sepuluh butir, sama es teh manis sebotol gede!”
Mendengar kata ikan, Cici langsung berlari keluar, matanya berbinar penuh harapan.
“Kalau Mas Revan dapat ikan, aku mau dibikinkan pepes sama sambal terasi!”
Vita ikut nimbrung, berdiri di samping Cici.
“Aku mau digoreng tepung kering! Yang renyah!”
Dika, merasa permintaannya didukung oleh dua gadis cantik, langsung melompat-lompat kegirangan.
“Kalau gue dapat ikan, gue bakar di tengah sawah sambil joget poco-poco, terus gue jual tiket masuk seribu perak!”
Revan tidak tahan lagi. Tawa kecil akhirnya keluar dari mulutnya.
“Lo ini memang enggak ada obatnya, Dik.”
Dika langsung memeluk Revan dari samping. Perutnya yang besar menempel di pinggang Revan.
“Van… ayo lah. Sekali ini doang. Kita jalan kaki lima belas kilo. Anggap aja olahraga! Lo kurus banget, nanti adik-adik lo malah lebih berisi dari lo!”
Mendengar itu, Cici dan Vita langsung melotot ke arah Dika, meskipun pipi mereka memerah.
“Diam lo, Dik!” hardik mereka kompak.
Revan melirik adik-adiknya. Mata mereka memancarkan harapan yang tulus, harapan untuk mencicipi makanan enak lagi setelah berhari-hari hanya makan nasi dan garam. Perutnya sendiri sudah keroncongan sejak semalam.
Mereka butuh makan. Aku harus lakukan ini. Aku tidak punya pilihan.
Ia menghela napas. Keputusannya sudah bulat.
“Ya Allah… kalau bukan karena mereka, aku tidak akan mau jalan jauh cuma demi ikan,” bisiknya dalam hati. “Baiklah, Dik. Dua jam doang. Kalau enggak dapat apa-apa, kita langsung pulang. Jangan neko-neko.”
Dika langsung melompat tinggi, nyaris menabrak tiang teras. Kegembiraannya meledak.
“YES! REVAN NOMOR SATU SEDESA GHADITA! Ayo berangkat sekarang sebelum ikannya pada salat Jumat dulu!”
Revan meletakkan sapu lidi, mengambil topi capingnya yang usang, dan bergegas mengganti celana pendeknya yang lusuh. Ia menyiapkan bekal seadanya: air putih dan sedikit garam. Tidak ada yang lain.
Ia melangkah keluar rumah panggung yang miring itu.
Cici dan Vita berdiri di teras, melambai. Mata mereka penuh harap… dan sesuatu yang mulai berubah pelan-pelan dalam tatapan mereka, sebuah campuran ketergantungan dan afeksi yang terlalu mendalam.
Revan dan Dika mulai berjalan, menyusuri jalan setapak desa, meninggalkan rumah yang nyaris roboh itu, menuju rawa terlarang yang jaraknya lima belas kilometer. Rawa yang selama ini dijauhi penduduk karena mitos-mitos kelam dan larangan keras dari sesepuh desa.
Revan, dengan segala iman dan kesabarannya, berpikir ia hanya akan mencari ikan. Ia sama sekali tidak menyadari, di ujung perjalanan yang melelahkan itu, hidupnya akan diguncang oleh sesuatu yang jauh lebih panas, lebih memikat, dan lebih berbahaya daripada matahari siang Desa Ghadita.