Adzan Subuh berkumandang pelan dari surau kecil. Suara Pak Ustadz Hadi serak tapi khusyuk, menggema di antara sawah dan hutan yang masih gelap.Revan langsung terbangun, badan basah keringat dingin, jantung berdegup kencang. Dia duduk di tikar pandan, napas tersengal, wajah merah padam. Bayangan malam kemarin di kamar mandi kecil itu terlalu nyata: mulut Cici, rasa hangat, rasa bersalah yang bikin dadanya sesak.Dia geleng-geleng keras, tangan nutup muka. “Astaghfirullah… nggak pantas aku mikirin itu… itu adikku sendiri… Ya Allah…”Dia bangkit, ambil gayung plastik dari sudut, jalan ke belakang rumah. Air sumur dingin, dia siram berkali-kali ke muka, leher, d**a — kayak mau cuci dosa yang nempel di kulit.Sholat Subuh sendirian di ruang tengah. Dia sujud lama, dahi nempel tikar pandan, a

