Sentuhan Sean selalu jadi kelemahan terbesar buat Nara. Ia tak bisa mengelak setiap sensasi yang ditimbulkan dari usapan, pijatan, dan cubitan yang Sean lakukan pada aset-aset berharganya. Sekalipun kewarasan terus berteriak supaya Nara menghentikan aksi Sean yang menjamah tubuhnya, tapi sekali lagi hasrat menginginkan sentuhan Sean jauh lebih besar dan mengalahkan segala logika serta akal sehatnya. "Sean." Entah sudah berapa kali Nara meloloskan desah nama Sean dari bibirnya, diiringi cengkraman kuat di pundak laki-laki itu ketika hisapannya berhasil membuatnya menembus angan tanpa batas. Kenapa rasanya harus seenak ini, aku tak bisa berhenti. Jika Nara saja menikmatinya sampai melayang-melayang, bagaimana dengan Sean? Tak perlu ditanya, Sean bahkan sudah lupa dengan dunia sekitarnya.

