Nara terpaku, memandangi pantulan pada cermin. Tapi bukan pantulan dirinya, melainkan pantulan Sean yang berdiri di belakang sana, menghadap pada jendela kaca besar di sisi kiri tempat tidur. Laki-laki itu sedari tadi sedang bertelepon dengan Bara, tampak serius karena pembahasannya menyangkut soal sahabatnya yang waktu itu masuk rumah sakit. Nara hanya tahu sebatas nama, namanya Rehan, ia belum sempat bertemu karena waktu itu ia tak tahan lagi berada di rumah sakit dan memutuskan pulang. Setelahnya pun Sean tak pernah mengajaknya ke rumah sakit lagi, walau sekedar untuk menjenguk sahabatnya. Karena memang jadwal Sean padat. Apa benar Sean akan mencintaiku? Pertanyaan dalam benak Nara, terus merongrong dalam pikirannya yang tak bisa berhenti memikirkan ucapan Sean beberapa saat lalu. Bag

