Nara menampar pipinya sendiri, cukup keras sampai mulutnya refleks mengaduh. "Aww! Sakit!" Lalu tangannya mengusap-usap kembali pipinya, meringis dengan perasaan tak menentu. "Jadi bukan mimpi?" Helaan napas berat berhasil ia loloskan, seolah gumpalan dari dalam dadanya ikut terlempar keluar. "Wah, Nara, kau benar-benar jenius. Bisa-bisanya kau melempar diri ke kandang buaya." Penyesalan memang selalu datang belakangan, karena hanya pendaftaran yang datangnya di awal. Harusnya Nara memikirkan pepatah itu, sebelum ia memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Bukan malah terburu-buru, hanya untuk memuaskan ego sesaat dan akhirnya meratapi keputusan yang sudah dibuatnya. "Menikah?" Nara menjenggut rambutnya, frustrasi. "Apa aku waras saat mengatakannya?" Nara menatap pantulan dirinya, s

