bc

Love Desire

book_age18+
439
IKUTI
2.2K
BACA
dark
love-triangle
arranged marriage
arrogant
mafia
heir/heiress
bxg
villain
like
intro-logo
Uraian

Victoria Valencrest percaya perempuan dilahirkan untuk memilih hidupnya sendiri. Ia menulis, berbicara, dan melawan—hingga suatu pagi ia menyadari bahwa keyakinan saja tidak pernah cukup kuat jika harus menghadapi utang, ancaman, dan kekuasaan.Demi menutup dosa ayahnya, Victoria diserahkan pada Armand De Luca, pemimpin mafia Palermo yang menjadikan pernikahan mereka sebagai transaksi dan istri sebagai simbol kehormatan. Di rumah megah yang dingin, Victoria hidup sebagai Nyonya De Luca tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa suara. Dihormati di depan publik, namun dihancurkan secara perlahan oleh kekasih Armand dan semua bawahan pria itu di balik pintu rumah itu. Angin segar datang, masa lalu yang tak ia ingat sepenuhnya, tiba-tiba kembali menuntut ruang. Vladimir Moretti, musuh Armand dan penguasa dunia gelap Italia ...melihat Victoria bukan sebagai alat, bukan properti, melainkan sebagai perempuan seutuhnya. Perhatian yang semula terasa berbahaya berubah menjadi perlindungan, lalu menjadi godaan yang tak bisa Victoria hindari.Ketika cinta harus berhadapan dengan kekuasaan, dan martabat harus dibayar dengan darah, Victoria dipaksa menentukan satu hal ... tetap menjadi istri sah dalam dunia yang merendahkannya,atau melangkah ke dalam perang besar demi hak paling dasar, yaitu mendapatkan kasih sayang yang dibutuhkannya sebagai seorang wanita. Cover design by : Lee_design

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Wanita Independen
Palermo, Italia Selatan. "Sial, di mana wanita itu?" Pagi ini, Vladimir Moretti terbangun di dalam sebuah kamar hotel mewah dengan perasaan asing. Seprai di bawah tubuhnya kusut, aroma whisky, dan parfum wanita masih tertinggal di udara, tapi sisi ranjang di sampingnya sudah tak lagi hangat. Dengan wajah dingin, pria bertubuh kekar dan ramping itu turun dari ranjang. Punggungnya yang lebar tertutupi oleh tato naga yang memenuhi punggung tersebut. Dari pinggang ke bawah, kakinya yang panjang dan keras terbungkus oleh celana sutra berwarna hitam pekat, mengetat di area bokongnya. Vladimir mengacuhkannya dan hanya menyambar kotak cerutunya dari atas nakas, lalu melangkah menuju balkon kamar. Membuka pintu kaca yang memisahkan kamar dengan balkon yang terdapat di luar sana. Sembari bersandar di pagar balkon—ia menikmati cerutu kualitas tinggi kesukaannya. Mencoba mengingat kembali apa yang telah ia lewati semalam. "Vladimir, faster." Suara seorang wanita mengusik ingatannya—serak, tersendat, kala memanggil namanya dengan nada yang membuat Vladimir kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia bahkan ingat bagaimana tubuh wanita itu menegang di bawahnya, lalu lemas seolah semua keberaniannya luruh secara bersamaan. Tidak banyak wanita yang mampu memuaskannya, dan wanita yang bersamanya semalam ... adalah pengecualian. Wanita itu berbeda dengan wanita lain yang pernah tidur dengannya. Cara menyentuhnya sangat polos, namun wanita itu berani membalas tatapan matanya. Tawanya lembut tapi tegas. Ketika wanita itu berbicara tentang kesejajaran kedudukan antara pria dan wanita ... ucapannya itu berhasil membuat Vladimir terbahak dalam hati. Begitu juga tentang kota Palermo yang katanya sudah terlalu lama dikuasai oleh orang-orang bersenjata. Tentang mafia yang wanita itu sebut sebagai pengecut berjas mahal yang notabene mengacu pada dirinya. Mengingat hal itu, seraut senyum sontak tersungging di sudut bibirnya. Wanita itu mabuk, tapi tidak bodoh. Bahkan saat lidahnya berat oleh alkohol ... wanita itu masih bisa berdiri dengan elegan. Menatapnya seolah ia bukan seseorang yang bisa membunuh orang lain dengan hanya mengedipkan matanya. Entah mengapa ia bisa menoleransi sikap wanita itu yang seharusnya bisa dengan mudah ia buat bertekuk lutut di hadapannya. Vladimir lupa, seharusnya ia menanyakan siapa nama wanita itu tadi malam, dan ia sedikit menyesal sekarang. Sial, inilah kebiasaannya. Selama ini baginya wanita hanyalah pemuas nafsu, pakaian yang bisa ia ganti sesuka hatinya. Hingga semalam, semua aturan yang ia terapkan di dirinya langsung berubah. Vladimir membuang sisa cerutunya dengan gemas ke lantai. Lalu menginjaknya dengan sandal hotel. Setelah itu kembali ke dalam kamar. Di atas nakas, ia menemukan sebuah amplop coklat. Berisi uang yang cukup banyak, "b******k!" gerutunya. "Dia sangat berani!" Belum pernah ada seorang wanita pun yang pernah meninggalkan Vladimir sebelumnya sampai ia meminta wanita itu untuk pergi. Apalagi menginjak harga dirinya dengan membayar semua kenikmatan yang telah ia berikan. Dan wanita semalam ... melakukan kedua hal itu padanya. Dengan satu gerakan cepat, Vladimir meraih ponselnya dari atas nakas. Langsung mengusap nomor dua di panggilan cepatnya. Tak lama, panggilan itu pun tersambung. "Rafael, ke kamar sekarang!" titahnya geram. Dalam hitungan menit, seorang pria muda telah masuk ke dalam kamar dengan menggunakan kunci kamar cadangan. Sebab Vladimir tidak suka jika ia harus membukakan pintu untuk para bawahannya, itu kenapa ia selalu meminta tangan kanannya agar selalu memegang kunci cadangan kamarnya. "Di mana bawahanmu?" lontarnya dingin, tanpa menoleh pada Rafael Conti, sang tangan kanannya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Rafael menjawab sambil menatap punggung lebar Bos besarnya itu. "Mereka berada di bawah, Bos. Bukankah semalam Bos sendiri yang telah memerintahkan kami agar tidak berjaga di depan pintu kamar Bos?" "Aku memang mengatakannya, Rafael." Vladimir mendengus gusar, "tapi aku tidak meminta kalian untuk membiarkan wanita itu menghilang dari kamar ini!" "Hah? Wanita itu menghilang, Bos?" Rafael mengernyit bingung, kemudian mengedarkan pandangannya. Mengamati seisi kamar itu. "Apa Bos ingin agar kami mencarinya di setiap sudut kota ini? Jika wanita itu tinggal di sini, kita pasti bisa menemukannya." Rasanya Vladimir ingin menghajar Rafael saat ini juga. Sebab bawahannya itu menanyakan sesuatu yang tidak perlu Rafael tanyakan pada dirinya. "Kau sudah tahu itu, Rafael," sahutnya gemas. Nada suaranya membuat pria yang sedang berdiri di belakangnya itu sontak menegakkan bahu. "Temukan dia!" Vladimir tidak menyukai kekacauan. Tapi, sial sekali lagi, wanita yang menghilang dari kasurnya pagi ini ... telah meninggalkan sesuatu di dalam hatinya. Di tempat berbeda, Victoria Valencrest tampak tengah memperhatikan gerbang rumahnya. Ia putri seorang bangsawan Inggris yang telah pindah ke Palermo sejak lima tahun yang lalu bersama ayahnya yang gila judi. Rambut cokelatnya kusut, gaun malamnya masih berbau alkohol, dan matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan. Victoria tidak menyesal telah memberikan tubuhnya pada pria yang telah menemaninya tadi malam. Pria itu hanyalah pelarian. Simbol kebebasan yang ia ambil setelah mendengarkan racauan ayahnya yang sedang mabuk. "Kau harus menikah dengan Tuan De Luca, Vic. Kau harus membantu Papa! Jika tidak, pria itu akan membunuh Papa." "Cih," sungut Victoria, saat ia mengingat ucapan ayahnya itu. "Wanita bukan properti." Kalimat ini adalah kalimat yang sama yang selalu ia teriakkan di setiap seminar yang berkaitan dengan emansipasi wanita, yang juga ia tulis di semua bukunya dan ia percayai dengan sepenuh hati. Sekarang, ayahnya ingin menghancurkan dirinya dengan cara menyerahkan hidupnya ke tangan keluarga De Luca yang sangat ia benci? Victoria tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Karena dirinya adalah miliknya. Yang membuatnya mengambil keputusan untuk menyerahkan kehormatannya pada pria yang tak ia kenal sama sekali. Ia bahkan terlalu mabuk semalam untuk mengingat bagaimana wajah pria itu. Namun tidak dengan sentuhannya yang gila dan panas. "Akhirnya kau pulang juga." Kata-kata itu langsung menyambut Victoria saat ia melewati pintu utama. Saat ini, di ruang tamu, ia melihat ayahnya tengah duduk berhadapan dengan seorang pria. Pria lainnya berdiri di samping pria yang duduk itu. Bertingkah layaknya seorang Bodyguard. "Kemarilah, Nak!" Victor Valencrest melambaikan tangannya pada putrinya yang tampak termangu. Victoria hanya diam, tidak bergerak sama sekali. Penampilannya juga berantakan. Putrinya itu terus menatapnya sambil meremas tas tangannya. "Vic, perkenalkan! Ini Tuan De Luca, calon suamimu." Kalimat itu membuat Victoria tersentak, tubuhnya gemetar menahan kemarahan. "Apa ini, Papa?" tukasnya geram. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pria yang duduk di hadapan ayahnya saat ini. "Siapa dia, Papa?" dengan berani ia menunjuk pria itu. "Siapa dia sehingga Papa mengatakan kalau dia adalah calon suamiku?" Tanpa Victoria duga, pertanyaannya itu justru dijawab oleh pria tersebut. "Ckk, Victor. Jadi ... ini putrimu yang selalu kau banggakan itu?" Tatapan pria itu beralih pada Victoria—menilai, seolah ia bukan seorang wanita, melainkan hanya alat pengganti uang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook