Deana berlari sekuat yang ia bisa demi kabur dari Arash. Saat keluar dari minimarket beberapa saat yang lalu, matanya bertemu dengan sosok Arash yang sepertinya sudah mengikutinya entah sejak kapan. Sialnya, Deana sendirian dan tidak membawa kendaraan yang berakhir dengan kejar-kejaran seperti sekarang ini. Deana terus berlari melewati jalan-jalan kecil yang ia temui, sebisa mungkin ia harus bisa kabur dari Arash atau nyawanya bisa lenyap kapan saja. Lelaki itu benar-benar menakutkan bahkan ia masih ingat cerita Kennara tempo hari yang diserang oleh Arash dan berakhir dengan kedua pipinya yang memar akibat tamparan dan cengkraman jari jemari lelaki itu. Entah ini kesialan atau memang dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya, jalanan itu sangat sepi. Tidak ada satu orangpun yang Dean

