bc

Malam-Malam Panas Nyonya Lin-gerie

book_age18+
14
IKUTI
1K
BACA
billionaire
dark
forbidden
HE
drama
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

(Perhatian Novel ini khusus dewasa, mengandung banyak adegan 21+, bagi yang di bawah umur, mohon kebijaksanaannya)(Perhatian Novel ini khusus dewasa, mengandung banyak adegan 21+, bagi yang di bawah umur, mohon kebijaksanaannya)Lina tak percaya, sekali lagi Rania merebut orang yang dicintainya. Kali ini suaminya Ardi terjerat godaan Rania si janda. Keadaan kemudian mengharuskan dia untuk tinggal di Pulau Eros 2, yaitu sebuah pulau yang dihuni eksklusif oleh para pria. Mereka adalah sekumpulan laki-laki yang sepakat mengasingkan diri di pulau itu karena trauma mendalam menjadi korban pengkhianatan wanita.Oleh karena itu, Lina kira hidupnya akan susah di sana, tapi karena kecerdasannya dia menjadi kesayangan mereka, dan malam-malam panas b*******h menantinya. Apalagi saat dirinya bertemu dengan Rio, pemimpin di pulau Eros 2, dia adalah kunci untuk membals dendam pada Rania dan Ardi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Dari Segalanya
"Lina, kita harus bicara," kata Ardi, dia berbicara dengan menekan setiap katanya namun dengan nada yang datar. Lina, yang sedang duduk di tepi ranjang sambil merapikan lipatan pakaian, mendongak perlahan. Matanya menatap suaminya. "Ada apa, Mas? Masuklah. Kenapa tegang begitu?" Ardi melangkah masuk, menutup pintu kamar rapat-rapat. Dia berdiri berkacak pinggang, menatap Lina dengan tatapan mata yang sulit diartikan, perpaduan antara ada rasa bersalah, tapi lebih banyak kilat ego yang nampak. "Aku mau kita sudahi semuanya, Lin. Kita cerai," ucap Ardi tanpa basa-basi. Tidak sesuai bayangan Ardi, alih-alih marah, menjerit, atau menangis, Lina justru tersenyum tipis. Dia melipat tangannya di d**a. "Cerai? Secepat itu? Alasanmu apa, Ardi?" Ardi mengerjap, sedikit terkejut dengan reaksi tenang itu, tapi tetap melanjutkan. "Alasannya jelas! Kita sudah nggak sejalan. Kamu ... kamu nggak bisa memuaskan aku lagi sebagai istri." “Hahahahaha.” Tawa yang cukup dingin itu keluar dari bibir Lina. Dia berdiri, melangkah mendekati Ardi dengan dagu terangkat. "Memuaskan? Jangan ngeles pakai alasan klise begitu, Mas," cibir Lina, tatapannya berubah tajam menatap mata Ardi. "Bilang saja kalau kamu mau menikahi janda itu, kan? Mau menyentuh payudaranya, mengenyotnya, menyentuh liang basahnya, lalu memasukkan kemaluanmu ke sana? Mau bercinta sepuasnya dengan Rania, si janda kembang itu, iya kan?!" Mendengar itu wajah Ardi mendadak pucat pasi. Rahangnya mengeras, matanya membelalak tak percaya. ‘Bagaimana dia bisa tahu?’ Batin Ardi. Lina melanjutkan kata-katanya. Dia maju satu langkah lagi, membisikkan kata-kata berikutnya tepat di depan wajah suaminya dengan nada yang sangat sinis. "Kamu kira aku nggak tahu, hah? Selama ini aku diam bukan berarti aku bodoh, Ardi. Aku tahu semua isi chat vulgar kalian! Kamu pikir aku nggak baca waktu Rania nge-chat kamu: 'Aku habis mandi, akan sangat menyenangkan kalau ada Mas Ardi di sampingku, menyentuh tubuhku.' Dan kamu balas: 'Tubuhmu pasti nikmat.' Belum lagi kiriman foto telanjangnya ke HP kamu, kan?" Lina tersenyum miring melihat Ardi yang makin membeku. "Aku tahu Rania kasih syarat ke kamu, dia mau disetubuhi, mau dinikahi, tapi syaratnya kamu harus ceraikan aku dulu, baru kamu bisa menikmati tubuhnya lagi sepuas yang kamu mau!" Lina menarik nafas dahulu sebelum melanjutkan “Rezekimu akan hilang bersama kepergianku, berganti dengan kemiskinan, karena kamu adalah laki-laki yang sudah sudah berkhianat!” Ardi tertegun. Seluruh kalimatnya tercekat di tenggorokan. Tubuhnya terasa kaku, mengapa rahasianya yang disimpan rapat-rapat bisa diketahui oleh istrinya sendiri, dia merasa dirinya dikuliti. "Kamu ... kamu ..." Ardi tergagap, tak berselang lama, dengan senyuman sinis yang dipaksakan, dia berusaha meremehkan Lina. "Bagus kalau kamu sudah tahu! Setidaknya aku nggak perlu capek-capek sandiwara lagi. Tapi asal kamu sadar, Lin, rezeki itu ada di tangan aku! Justru kamu harus khawatir, begitu cerai dariku, kamu mau jadi apa? Gelandangan? Kamu itu cuma ibu rumah tangga!" Ardi mendengus sombong, menegakkan dadanya. "Sedangkan aku ini bekerja, posisiku sekarang ini Team Leader di kantor. Gaji dan fasilitas di tanganku. Tanpa aku, kamu itu bukan siapa-siapa!" “Hahahahaha!” Lina tertawa makin kencang. Kali ini tawanya penuh dengan nada mengejek. "Kamu yakin, Ardi? Yakin banget rezekiku bakal hancur?" Lina menatap suaminya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan jijik. "Asal kamu tahu ya, Mas ... kamu itu baru saja membuang berlian demi memungut kotoran seperti Rania!" "Jaga mulutmu, Lina!" bentak Ardi, telinganya memerah karena tersinggung. "Kenapa? Kepanasan?" Lina mendengus dingin. "Jangan sombong mentang-mentang kerja jadi Team Leader! Kamu lupa siapa yang nemenin kamu dari nol dulu? Kamu lupa siapa yang jungkir balik ngurus rumah pas karirmu masih di bawah tanah? Kamu besar kepala karena jabatan kecil itu, padahal otakmu pendek!" Ardi mendengus marah, mencibir tajam untuk menutupi rasa tersudutnya. "Halah, nggak usah banyak omong! Justru dengan bersama Rania, hari-hariku bakal jauh lebih menyenangkan. Rania itu pintar menggoda, pintar melayani di atas ranjang, nggak kaku kayak kamu yang cuma tahu ngomel di rumah!" Lina tersenyum tipis, sorot matanya menatap Ardi dengan rasa kasihan yang teramat sangat. "Silakan, Mas. Nikmati saja kebodohanmu itu," ucap Lela tenang sambil membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat tidurnya. "Ambil tasmu, tanda tangani surat cerainya segera. Jangan menyesal kalau nanti kamu sadar, w************n yang kamu bela dan inginkan itu justru bakal menjadi kehancuranmu sendiri." Lina membalikkan badannya kembali, menghentikan langkah Ardi yang hendak berbalik. Tatapannya sangat tajam, menatap langsung ke mata suaminya dengan penuh keyakinan. "Satu lagi, Ardi," ucap Lina dengan suara dingin. "Lihat saja nanti. Lihat siapa yang akan mendongak ke atas dan siapa yang harus melihat ke bawah!" Ardi menghentikan langkahnya, mengerutkan kening. "Apa maksudmu, hah?" "Ingat baik-baik kata-kataku ini, di atas ranjang mungkin perempuan itu bisa melayanimu, tapi dalam hidup, akulah yang akan selalu berada di atas, menginjak kepala kalian berdua, kamu dan si Rania murahan itu!" Mendengar itu, Ardi mendengus keras, mencoba menepis rasa gentar yang tiba-tiba merayapi dadanya. Dia membuang muka dengan ekspresi yang meremehkan. "Halah, omong kosong! Apa yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga yang bahkan tidak punya harta atau pekerjaan." cibir Ardi tajam. Tanpa membuang waktu lagi, Ardi langsung memutar tubuhnya. BRAK! Pintu kamar dibanting keras dari luar, menandakan perginya sang suami, meninggalkan Lina yang berdiri tegak tanpa setetes air mata pun di pipinya. Lamunan itu berputar lagi di kepala Lina. Dia mendesah panjang, menatap bayangannya sendiri di cermin sambil mengingat awal mula dia membongkar kebusukan suaminya. Hari itu, Lina pulang lebih cepat dari jadwal arisannya. Begitu sampai di teras rumah, langkahnya langsung terhenti. Ada sepasang sandal wanita asing tersusun rapi di depan pintu. Alisnya bertaut. Kecurigaan langsung merayap di dadanya, mendesak instingnya untuk bergerak dalam sunyi. Rumah terasa begitu sepi, terlalu sunyi. Tanpa bersuara, Lina mengendap-endap masuk. Tanpa dia sadari, kakinya melangkah menuju kamar utamanya sendiri. Dan di sanalah, di balik daun pintu yang tidak tertutup rapat, pemandangan menjijikkan itu tersaji nyata di depan matanya. Ardi dan Rania sedang bergelut panas di atas ranjang. Rania sudah setengah telanjang, bagian dadanya polos tanpa sehelai benang pun, terekspos jelas di bawah jamahan tangan suaminya. Lina mendengarkan suara-suara yang tidak dia inginkan, suara desahan rendah dan kata-kata vulgar yang keluar dari bibir Rania, bisa dia dengar. “Pelan-pelan, Mas … Sekarang bagian atas dulu ya, nanti baru nikmati tubuhku seutuhnya. Tapi syaratnya, kamu harus ceraikan Lina. Masa Mas Ardi nggak mau bercinta denganku? Pasti Mas Ardi bakal jauh lebih puas denganku, melebihi kepuasanmu sama Lina …”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.2K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook