Deasy menggerutukan gigi, kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Pemandangan di depannya sungguh membuatnya ingin berteriak, untuk menumpahkan amarah yang menyesaki rongga dadanya. Farah merasa seperti ada yang tengah memperhatikan, ia pun menolehkan kepala. "Owhhh ... ada Mbak Deasy, ini Mas Faiz pegel bahunya, Mbak Deasy bisa memijat? Saya mau masak mie instant buat Mas Faiz." Farah yang sudah berhenti memijat bahu Faiz, berusaha berbicara seramah mungkin pada Deasy. "Maaf, Farah aku tidak bisa memijat, aku bukan perempuan kampung yang bisanya cuma memijat, dan memasak! Aku mengantuk, selamat malam!" Deasy berlalu dari ambang pintu dapur dengan wajah merah karena marah. "Selamat malam, Mbak," sahut Farah lirih, ia tahu Deasy menyindirnya, tapi ia enggan untuk membalas saat