Extra Part 4: Tempur

2136 Kata

"Halo, Rana. Gimana kemarin sidang skripsinya?" Ibu yang tanya, seperti biasa Rana selalu teleponan dengan orang tua entah itu pagi, siang, sore, bahkan malam. "Alhamdulillah, lancar, Bu. Ini tinggal revisian aja. Nggak banyak, terus dikasih waktu dua minggu." "Alhamdulillah. Jadi, kapan wisudanya, Ran?" "Ya nanti lah, Bu. Baru juga sidang. Bikin jurnal aja belum." "Aih .... Oh iya, Rana! A Iki udah ngehubungin, belum?" Gerakan jari Rana di atas keyboard pun terhenti. Menatap ponsel yang menunjukkan nama ibu di layar. Lantas tatapannya kembali lagi ke laptop. Dia berdecak. "Ngapain juga A Iki telepon Rana?" "Loh, kok ngapain? Kemarin Ibu didatangin orang tuanya Iki, tau!" Benar-benar terhenti lagi gerakan jarinya. "Bu Anah sama Pak Hilman?" "Iya lah, siapa lagi?! Tetangga kita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN