"Eungh ..." Suara lenguhan itu halus terdengar, sayup-sayup menggelitik gendang telinga Alam. Begitu hangat dan lembutnya suatu hal yang sedang dia usap. Oh, sesungguhnya mata Alam masih terpejam rapat. Sementara di lain sisi, yang belum Rana sadari, di dalam dekap yang melekat, dia mulai mengerjap. Merasakan lembutnya usapan di paha teratas. Perlahan ... begitu lamban, Rana pun menggeliat. Sejenak saja, detik di mana kelopak matanya sudah terbuka, detik itu juga Rana mendongak, dan dia tersentak. "Astagfirullah!" Mendorong Alam yang spontan terjaga, pun terlentang di ranjang singel bed-nya, dari yang semula tidur menyamping, bak memeluk guling. Namun, ternyata guling itu ... punya paha yang mulus, kekuatan, dan mata yang tajam. Oh, tenaga Rana boleh juga. Mata Alam merah jadinya, oleh