“Mas, Bangun!” ujar Nayla menepuk – nepuk pundak Arman. “Bangun, sebentar lagi adzan subuh, kamu tidak ke masjid?” “Hm?” Arman membuka matanya yang terasa lengket. Ditolehnya jam dinding yang menunjuk angka setengah lima. “Aku sholat subuh di rumah saja, ya Nay. Jadi imam kamu,” ujar Arman menoleh Nayla. “Sejak kapan kamu shalat subuh di rumah?" tanya Nayla mengernyitkan kening. "Ayo, Mas. Ajak Bian shalat subuh di masjid.” Ujar Nayla menarik lengan Arman, memaksanya bangun. Arman mengucek kepalanya sendiri mencoba mengusir kantuk yang menggelayut di mata. Sudah lama sekali dia tak lagi shalat subuh di masjid, mungkin sejak bercerai dengan Nayla. Arman tidak langsung berwudu, matanya masih terasa berat, semalaman ia susah tidur karena tidak mendapatkan sesuatu dari Nayla. “Mas?” teg

