Part 109

2222 Kata

Setelah melepas Bian berangkat ke sekolah, Nayla juga bersiap ke kantor. Setelah memastikan ASI untuk Hana cukup, ia menemui Arman yang menunggunya di kamar. “Assalammualaikum,” sapa Nayla menguak pintu. “Waalaikum salam,” sahut Arman menoleh. “Mau berangkat?” tanya Arman menutup ponselnya. “Iya, Mas. Aku jalan dulu, ya.” Ujar Nayla menoleh jam dinding yang hampir pukul delapan. “Aku antar, ya.” Bujuk Arman sekali lagi. “Nggak usah, Mas. Tadi, kan, papa sudah mengingatkan sebentar lagi ada tamu yang mau datang.” Ujar Nayla meraih tas tangannya. “Ck!” Kening Arman berkerut, ia mulai tidak betah tinggal di rumah itu. Semua harus menurut apa kata papanya. Dia sadar, dia bukan apa-apa tanpa papanya, tapi bukan berarti dia harus menjadi seperti papanya. Dulu, saat belum ada Nayl

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN