Kayla terdiam, dia tidak tahu jawaban pasti atas pertanyaan yang Ariana ajukan. Tapi sudah seharusnya dia melupakan Vano, karena Kayla sudah menikah dengan Zavian. Kayla harus melupakan perasaannya pada pria itu, akhirnya dia pun menjawab pertanyaan Ariana.
"Aku harus melupakan Vano, karena aku sudah jadi istri Zavian," pungkas Kayla.
***
Kayla berjalan sambil melamun, setelah pertemuannya dengan Ariana dan mengetahui jika Vano selama ini menyukai dirinya bukan sahabatnya. Tanpa sadar dia hampir saja terserempet motor, jika tidak ada seseorang yang menariknya.
"Ah!" pekik Kayla terkejut.
Dia berada di pelukan seorang pria saat ini, selamat dari motor yang mengebut dan bisa saja mencelakainya.
"Terima ka--" Kayla langsung melepaskan diri begitu tahu siapa yang menolongnya. "Vano?!"
"Kenapa kamu berjalan sambil melamun, Kay? Bagaimana kalau kamu tertabrak?" Vano memperhatikan Kayla dan memastikan wanita itu baik-baik saja. "Kamu tidak terluka, kan?"
"Tidak," jawab Kayla cepat. "Terima kasih atas pertolonganmu." Dia bergegas ingin pergi karena tidak mau berlama-lama dengan Vano. Kayla takut perasannya tidak bisa dikendalikan, dan ia juga merasa bersalah pada Zavian jika bertemu dengan Vano.
"Tunggu, Kayla!" Vano menghadang jalan Kayla. "Aku ingin bicara denganmu," pintanya kemudian.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita dibicarakan, Vano." Kayla mencoba melangkah maju, tapi Vano kembali menghalangi jalannya.
"Aku mohon, Kay, dengarkan aku." Vano memohon. Raut wajah pria itu benar-benar membuat Kayla tidak tega.
"Aku ini istri saudaramu, Vano. Jadi lupakan perasaanmu."
Ucapan Kayla membuat Vano terperanjat. "Kamu sudah tahu perasaanku?"
Kayla mengangguk. "Lupakan aku, Vano. Karena sekarang aku istri Zavian."
"Aku tidak peduli, Kayla! Dia hanya saudara tiri, kalaupun Zavian saudara kandungku tetap saja aku akan merebutmu darinya."
Kayla tentu saja tidak menyangka Vano bisa berkata seperti itu. "Apa kamu sudah gila?! Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu pikir aku barang yang bisa kalian perebutkan? Kamu tidak memikirkan perasaanku?"
"Kamu bukan barang, Kay. Aku begini karena memikirkan perasaanmu. Zavian sejak awal tidak menyukaimu, Kayla. Dia mendekatimu karena aku ... dia ingin membalas dendam padaku."
Kayla tidak langsung merespon ucapan Vano. Dia mundur satu langkah, menjaga jarak. Rasanya semua ini tidak benar, seharusnya Kayla pergi dan tidak mendengarkan Vano agar hatinya tidak goyah.
"Zavian tahu kalau kamu gadis yang aku sukai, makanya dia merebutmu dariku." Vano kembali melanjutkan.
"Kamu tidak pernah menyatakan perasaanmu, Vano. Kita juga tidak menjalin hubungan apapun, jadi Zavian tidak merebutku darimu."
Apa yang Kayla katakan memang benar. Zavian tidak merebut Kayla dari Vano, karena Kayla dan Vano tidak menjalin hubungan apa-apa.
"Aku tahu aku terlambat, tapi perasaanku untukmu benar-benar tulus, Kayla. Aku hanya butuh waktu untuk mengatakannya padamu, tapi Zavian sudah lebih dulu--"
"Cukup, Vano." Kayla menyela. "Faktanya sekarang aku dan Zavian sudah menikah. Jadi jangan ganggu aku lagi."
Kayla berbalik hendak pergi, namun Vano menarik tangan wanita itu. "Aku tahu kamu juga menyukaiku, Kayla!"
"Lepas! Vano!" Kayla berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Vano.
"Aku akan bawakan bukti kalau Zavian tidak mencintaimu. Aku akan buktikan perkataanku, Kayla. Dan aku akan merebutmu darinya."
Kayla langsung menghentakkan tangan Vano. "Kamu benar-benar sudah gila, Vano!" Dia langsung berlari pergi, sungguh Kayla merasa takut sekarang.
Perempuan itu langsung menghentikan taksi yang lewat dan bergegas masuk. "Ayo jalan, Pak!"
Tangan Kayla masih gemetar meski sudah berusaha mengatur napas. Dia menengok ke belakang, takut Vano masih mengikutinya, tapi untungnya pria itu tidak terlihat.
Karena takut jika pulang ke rumah sendirian, Kayla memilih datang ke kantor suaminya. Dia takut Vano menghampirinya lagi.
"Kayla? Kenapa kamu kesini?" tanya Zavian, ketika melihat istrinya masuk ke dalam ruangannya.
Kayla langsung duduk di sofa. Ia tersenyum mencoba menyembunyikan ketakutannya. "Aku hanya ingin melihat kantormu."
Zavian kemudian meminta sekretarisnya membawakan minum untuk Kayla. Pria itu duduk di samping istrinya, dan melihat gelagat aneh.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Zavian.
"Hm? Tidak, tidak ada apa-apa, Vian." Meski mencoba menyembunyikan kejadian yang baru saja dialaminya, tetap saja ekspresi Kayla tidak bisa berbohong.
"Kamu ketemu siapa hari ini?"
"Aku ketemu Ariana tadi, terus langsung kesini mau ketemu kamu."
Zavian menatap wajah Kayla. Dia yakin ada yang istrinya itu sembunyikan darinya. "Kamu yakin hanya bertemu Ariana?"
Kayla mengangguk cepat. Dia takut Zavian marah jika tahu Kayla bertemu dengan Vano. Tapi Kayla juga rasanya tidak bisa menyimpannya sendiri.
"Ceritakan padaku kalau ada yang mengganggumu, Kay. Aku suamimu," ucap Zavian, terdengar begitu tulus. Tangan pria itu bahkan nenggenggam tangan Kayla.
Tiba-tiba saja Kayla menangis. Sungguh rasa takut itu masih ada, ucapan Vano yang mengatakan akan memberikan bukti dan merebut Kayla dari Zavian terngiang di kepala wanita cantik itu.
Zavian langsung memeluk istrinya. Membiarkan Kayla menangis yang entah karena apa karena Zavian belum tahu penyebabnya.
Setelah beberapa saat Kayla mulai tenang, Zavian memberikan minum yang tadi dibawakan oleh sekretarisnya. "Minum dulu, Kay."
Kayla langsung meminumnya dan menarik napas dalam-dalam. "Maaf kemejamu jadi basah," ujar Kayla, melihat kemeja Zavian basah karena air matanya.
"Tidak apa-apa." Zavian menyahut lembut. "Jadi apa yang terjadi? Sudah mau cerita?"
"Tapi janji kamu jangan marah." Kayla mewanti-wanti, kemudian diangguki oleh Zavian.
"Di jalan setelah bertemu dengan Ariana, aku ketemu Vano." Kayla bercerita hati-hati, sambil memperhatikan ekspresi Zavian.
"Hm, lalu?" Meski terlihat datar, tapi Kayla tahu Zavian tidak suka dia menyebut nama Vano.
"Aku hampir terserempet motor dan dia menyelamatkan aku ... sungguh aku tidak tahu kenapa Vano tiba-tiba ada di sana, Vian." Kayla langsung menjelaskan agar Zavian tidak salah paham.
"Apa dia mengganggumu?"
"Dia mengatakan ingin bicara, tapi aku menolak. Saat aku ingin pergi dia menghalangi jalanku. Dia bersikeras ingin mengatakan sesuatu," papar Kayla, mengingat kejadian itu membuatnya kembali cemas.
"Apa yang Vano katakan?"
"Ucapannya masih sama ... dia bilang akan membuktikan padaku kalau kamu menikahiku karena balas dendam padanya. Vano bilang kamu tahu kalau dia menyukaiku dan sengaja merebutku darinya. Dia juga bilang akan merebutku kembali darimu bagaimanapun caranya."
Cerita Kayla membuat rahang Zavian mengetat. Tapi pria itu berusaha menepati janjinya agar tidak marah. Bagaimanapun Kayla sudah berusaha bercerita dan jujur padanya.
Ternyata Vano memang nekad. Pria itu tidak bisa merelakan Kayla dan Zavian tahu perseteruan ini tidak akan berakhir dengan cepat. Zavian tidak akan kalah lagi dari Vano. Dia tidak akan membiarkan Vano merebut Kayla.
"Vian, apa kamu marah padaku?" tanya Kayla, karena suaminya hanya diam saja.