Kebenaran akan menang, meski mungkin terlambat." Dengan begitu, Steve membawa Lila keluar TKP. Dia sempat berhenti di dekat Riani, berkata, "Aku serahkan orang itu kepadamu, Ri. Aku nggak mau psikis Lila terguncang kalau melihat mayat Resti." Riani mengerti. "Aku akan mengurusnya bersama Farel." Farel juga mengangguk meyakinkan. Riani kini menatap Ares. "Aku punya dua pilihan untukmu, Res. Pertama, ceritakan semua yang kamu tahu tentang pembunuh itu, dan bantu kami menemukannya. Kedua, akui kesalahanmu ke pihak berwajib dan membusuk di penjara." Ares mendesah lelah. Tamparan di pipinya tidak sesakit itu, tapi perkataan Lila menusuk hatinya. Rasanya sangat menyakitkan, bukan ketika dia ditampar, tapi ketika melihat gadis lemah itu menangis di depannya. Ada perasaan kecewa yang terpanca

