Bab 1 — Kepulangan yang Tak Diundang
Hujan turun rintik-rintik ketika mobil hitam itu berhenti di depan gerbang rumah keluarga Wijaya. Almira berdiri di teras, memegang cangkir teh hangat di tangannya, memandang keluar jendela dengan perasaan campur aduk. Malam ini seharusnya menjadi makan malam keluarga yang sederhana, tapi kabar yang disampaikan Raka tadi pagi membuat jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.
"Bayu pulang malam ini," kata Raka sambil mengencangkan dasinya di depan cermin. "Sudah lima tahun dia di luar negeri. Ibu pasti senang sekali."
Almira hanya mengangguk pelan. Nama itu Bayu bukan nama asing baginya. Adik kandung Raka satu-satunya, yang menurut cerita keluarga adalah anak paling cemerlang di antara mereka. Lulus dengan predikat terbaik dari universitas ternama, lalu membangun perusahaan teknologi sendiri di Singapura hingga sukses besar sebelum usianya genap tiga puluh tahun. Foto-foto Bayu yang pernah ia lihat di ponsel Raka menunjukkan sosok yang tegas, dengan tatapan mata yang entah kenapa selalu terasa dingin meski bibirnya tersenyum.
Almira tidak pernah bertemu dengannya secara langsung. Pernikahannya dengan Raka berlangsung tiga tahun lalu, saat Bayu sedang sibuk-sibuknya di luar negeri, sehingga ia hanya mengenal sosok itu lewat cerita dan foto.
"Kau gugup?" tanya Raka, menoleh ke arahnya dengan senyum jahil.
"Tidak," jawab Almira cepat, meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Rumah keluarga besar Wijaya malam itu dipenuhi cahaya lampu kristal dan aroma masakan lezat yang disiapkan khusus untuk menyambut kepulangan sang anak bungsu. Ibu mertua Almira, Bu Ratna, tampak begitu bahagia, sesekali mengelus dadanya sendiri karena terlalu terharu. Ayah mertuanya, Pak Hendra, berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kebanggaan.
Ketika suara mobil terdengar mendekat, seluruh keluarga bergegas keluar. Almira mengikuti dari belakang, menggenggam ujung gaunnya dengan gugup yang tak beralasan.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria tinggi keluar dari dalamnya, mengenakan jas abu-abu gelap yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya sedikit basah oleh gerimis, dan ketika ia mengangkat wajah, sepasang mata tajam itu menyapu seluruh halaman rumah sebelum akhirnya berhenti entah kenapa tepat pada sosok Almira yang berdiri di antara kerumunan keluarga.
Waktu terasa berhenti sepersekian detik.
"Bayu!" seru Bu Ratna, berlari kecil memeluk anak bungsunya. Bayu tersenyum, pelukan hangat itu membuat raut wajahnya yang semula dingin sedikit melunak. Ia menyalami ayahnya, memeluk kakaknya, Raka, dengan tepukan akrab di punggung.
Lalu tatapannya kembali jatuh pada Almira.
"Jadi ini kakak iparku yang selama ini aku dengar ceritanya," ucap Bayu, suaranya dalam dan tenang, namun ada sesuatu di nada bicaranya yang membuat bulu kuduk Almira meremang.
"Al-Almira," ucapnya, mengulurkan tangan dengan sedikit gemetar. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung."
Bayu menatap uluran tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Genggamannya kuat, hangat, dan bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
"Bayu," jawabnya singkat, tanpa senyum, namun matanya tak lepas dari wajah Almira. "Kakak beruntung mendapatkan istri secantik ini."
Ucapan itu terdengar seperti pujian biasa di telinga keluarga yang lain, tapi entah kenapa, di telinga Almira, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jauh lebih personal seolah ada makna tersembunyi di baliknya.
Makan malam berlangsung hangat, dipenuhi tawa dan cerita-cerita lama yang dibagikan Bayu tentang kehidupannya di Singapura. Almira duduk di seberang meja, sesekali mencuri pandang ke arah adik iparnya itu. Ada sesuatu tentang caranya berbicara, cara ia tertawa pelan sambil menundukkan kepala, yang membuat Almira sulit mengalihkan perhatian.
Ia mencoba menepis perasaan itu. Bayu adalah adik dari suaminya. Tidak ada yang salah dengan mengagumi seseorang yang cerdas dan sukses. Itu saja.
Namun ketika makan malam usai dan keluarga besar berpindah ke ruang tengah untuk mengobrol santai, Almira sedang menyeduh teh di dapur ketika sebuah suara mengejutkannya dari belakang.
"Butuh bantuan?"
Almira terlonjak, hampir menjatuhkan teko yang dipegangnya. Bayu berdiri di ambang pintu dapur, tangan dimasukkan ke saku celana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," jawab Almira, berusaha terdengar biasa saja meski jantungnya berdebar kencang.
Bayu melangkah masuk, bukannya pergi seperti yang diharapkan Almira. Ia bersandar pada meja dapur, memperhatikan Almira menuangkan teh dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Kakakku beruntung," katanya lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri. "Aku penasaran, bagaimana rasanya jadi istri seorang Raka Wijaya yang terkenal sempurna itu."
Ada nada sinis samar dalam suaranya yang membuat Almira mengangkat wajah, menatap langsung ke arah Bayu.
"Kau bicara seolah-olah tidak menyukai kakakmu sendiri."
Bayu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku hanya mengenalnya lebih lama darimu, Almira. Ada banyak hal tentang Raka yang mungkin belum kau ketahui."
Sebelum Almira sempat bertanya lebih jauh, suara Raka memanggil dari ruang tengah, dan Bayu langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali datar seperti topeng yang terpasang sempurna.
"Sampai jumpa lagi, Kak Almira," ucapnya sambil berlalu, meninggalkan Almira sendirian di dapur dengan hati yang berdebar dan pikiran yang dipenuhi tanda tanya.
Malam itu, ketika Almira berbaring di sisi Raka yang sudah tertidur pulas, ia menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Kalimat Bayu terus terngiang di kepalanya. Ada banyak hal tentang Raka yang mungkin belum kau ketahui.
Apa maksud dari kalimat itu?
Dan mengapa, di tengah kegelisahannya, yang justru terus terbayang bukanlah pertanyaan itu sendiri melainkan wajah dingin Bayu yang menatapnya dengan cara yang tak seharusnya dilakukan seorang adik ipar kepada kakak iparnya.