Kelopak matanya bergerak membuka. Memperhatikan langit-langit kamar yang baru beberapa hari ditinggalinya. Kamar ini sangat luas dan juga mewah sama seperti kamarnya yang ada di Venezia, hanya saja, dekorasi dan interiornya berbeda. Ia beranjak duduk diatas kasur kingsize sementara, sebelum benar-benar melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ini adalah hari minggu. Jika dirumahnya, dia bisa bangun siang maka disini Acatia mencoba untuk tau diri dengan tidak bangun telat daripada orang rumah. Setelah memakai pakaian santainya, hot pants dan juga kaos kebesaran berwarna putih yang menutupi hotpantsnya, Acatia beranjak turun dan mendapati Athila tersenyum kearahnya.
"Sayang, kemarilah."
Acatia menurut dan menatap bermacam-macam hidangan dimeja makan membuatnya kagum. "Wah, apakah ada acara yang tidak ku ketahui, aunty?" Tanyanya dengan mata menyipit.
Athila terkekeh. "Tidak. Ini hanya acara setiap minggu dimana semua Putra dan menantu aunty akan berkumpul disini."
"Oh.." Acatia berdeoh. "Ada yang bisa aku bantu, aunty?"
Athila menggeleng pelan. "Tidak, sayang. Semuanya sudah siap karena sudah dibantu Jenath kecuali makanan milik Athan." Sahut Athila dengan senyuman simpulnya. "Dia tidak suka makanan yang dibuat oleh orang lain selain aunty."
"Oh ya?" Acatia bertanya tidak percaya. Tentu saja dia tidak percaya karena Athan sudah mencoba memakan masakan buatannya.
Athila mengangguk. "Dia tidak suka makanan yang dibuat dari tangan orang yang tidak dikenalnya dan memilih membuat makanannya sendiri."
Acatia masih diam dan memperhatikan. Dia tidak berniat untuk mengatakan pada malam itu Athan sudah memakan masakan beracunnya.
"Dia akan memilih masak sendiri daripada dimasakkan oleh orang lain. Dan jika ada masakan orang lain yang dimakannya, itu berarti keajaiban." Kekeh Athila kemudian yang disambut oleh senyuman kecanggungan Acatia.
"Bagaimana jika bekerja? Bukankah dia harus makan direstoran ketika jam istirahat?"
Athila mengangguk sambil menghias pinggiran piring yang berisi steak dan beberapa seafood bakar seperti udang dan lainnya dengan dedaunan. "Dia makan, tapi percayalah yang dimakannya hanya makanan ringan semata."
"Memang dia kenyang?"
Athila mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Kau bisa tanyakan sendiri padanya nanti."
Acatia merasakan wajahnya merona karena sudah terlalu banyak bertanya tentang Putra bungsu dikeluarga Uistean. Oh, s****n! Kenapa dia tidak bisa menahan mulutnya ini.. Geramnya dalam hati.
"Tidak apa-apa, sayang." Athila terkekeh saat menyadari perubahan wajah pada Acatia. "Kau berhak tau tentang mereka semua, apalagi Athan."
Wajah Acatia semakin padam mendengar godaan Athila padanya. Wanita yang sudah beranak tiga ini masih terlihat anggun dan begitu memukau. Wajah tuanya tidak menyiratkan kelelahan seperti orangtua pada umumnya. Kecantikan Athila dapat membuat siapapun terpesona. Hingga tanpa sadar, Acatia bertanya.
"Aunty, bagaimana kau bertemu dengan uncle Atreo?" Setelahnya ia segera membekap mulutnya erat merasakan kelancangan akan pertanyaannya. "Maaf, aunty.. Aku, aku.."
"Tidak apa-apa." Athila tersenyum dan kini memilih untuk duduk dihadapan Acatia. Mereka saling tatap sebelum Athila tersenyum dan menjawab. "Kami bertemu karena awalnya Atreo kekasih dari Kallila, kakakku."
Acatia membelalakkan matanya tidak percaya. Namun, dia sama sekali tidak berniat memotong.
"Mereka nyaris menikah, namun disaat yang bersamaan Kallila ketahuan keguguran. Keluarga Atreo murka karena saat itu, undangan sudah disebarkan. Karena tidak ingin membuat keluarga malu, maka aunty menggantikan Kallila." Athila menatap Acatia lekat sebelum melanjutkan. "Awalnya pernikahan aunty dan uncle tidak semulus dan seindah sekarang, sayang. Atreo sama sekali tidak mencintai aunty dan memilih untuk tidur dikamar yang berbeda. Banyak terjal yang harus kami lewati untuk sampai ditahap ini. Sampai malam itu, Atreo mabuk dan tidak sengaja meniduri aunty bahkan nama yang keluar dari setiap desahan mulutnya adalah Kallila."
Acatia menyadari kepahitan dalam cerita Athila, ia memilih untuk diam dan terus mendengarkan.
"Tak lama setelahnya, aunty hamil Allastair. Ketika Allastair lahir ke dunia, disitu pula Atreo mulai berjanji untuk melupakan Kallila dan menjalani pernikahan ini dengan lapang d**a. Hanya dengan kelahiran Allastair membuat Atreo akhirnya mencintai aunty dengan caranya sendiri."
"Maaf, aunty.." Acatia menunduk. Menyesal karena sudah bertanya. Dia membuat luka Athila kembali menganga lebar. "Aku tidak bermaksud untuk-"
Athila tersenyum dan mencoba menghapus airmata yang sudah menumpuk disudut matanya. "Aunty lega, bisa berbagi cerita denganmu. Bahkan, aunty mengira akan mengubur semua penderitaan ini sendirian. Tapi, sekarang aunty tau artinya berbagi itu membuat diri kita merasa lebih nyaman dan tenang setelah apa yang menimpa kita. Mau itu kesedihan atau kegembiraan."
"Kenapa pada menangis ini?" Atreo tiba-tiba saja datang dan langsung mengecup kening Athila dengan sayang. Acatia melihat bahwa Atreo saat ini benar-benar sudah mencintai Athila sepenuhnya. Ia merasa bersyukur akan hal itu dan langsung menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir.
"Tidak.. Kami hanya bercerita sedikit tentang masa lalu. Ya kan, sayang?" Tanya Athila pada Acatia yang dijawab anggukan oleh gadis berwajah layaknya sang dewi.
"Kau tau, aku memang tidak dapat mengubah masa lalu, Athila. Tapi, aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Aku benar-benar mencintaimu, sayang." Atreo menatap wanitanya dengan perasaan penuh bersalah sekaligus cinta yang membuncah.
"Aku tau, sayang.. Aku tau.."
"Baguslah." Setelahnya, Atreo segera menarik pinggang Athila lalu merapatkannya ke tubuh tegapnya dan melumat bibir Athila denganpenuh cinta membuat Acatia merona dan mengalihkan pandangannya.
Athila langsung membelalak melihat suaminya yang tiba-tiba seperti ini. Mendorong tubuh tegap suaminya dan memelototinya. "Kau tidak malu sama Acatia, hah?"
Atreo terkekeh sebelum mengecup sekali lagi dengan cepat bibir merona wanitanya. "Acatia juga akan merasakan seperti yang kita rasakan. Benar kan, sayang?"
Acatia hanya menganggu dan berdeham membuat Atreo semakin tergelak hingga suara sapaan itu menghilangkan gelak tawa Allastair.
"Grandpa, Granny..." Teriak Adler cucu pertama mereka. Atreo segera menyambut cucunya dengan pelukan hangat dan menggendongnya.
"Mana Daddy dan Mommymu, sayang?" Atreo bertanya saat melihat Adler sendirian.
"Diluar bersama uncle Atan dan Avam." Sahutnya sedikit cadel membuat Atreo dan Athila terkekeh.
Beda halnya dengan Acatia yang sudah berwajah pucat. Jantungnya kembali berdetak cepat mendengar nama Athan. Entah kenapa Pria itu selalu memberikan efek buruk pada kesehatan jantungnya hingga suara yang sangat dikenalnya memberi sapaan datar seperti biasanya.
"Dad, Mom- ini siapa?" Tanyanya ragu, sebelum melanjutkan. "Jangan bilang kalian mengadopsi anak perempuan?" Athan bertanya menyipit melihat perempuan yang masih duduk membelakanginya dengan kaku.
Athila menoleh dan tersenyum menatap Acatia membuat Acatia mau tak mau berdiri dari tempat duduk nyamannya dan berbalik menatap wajah Athan yang kini terkejut menatapnya.
"Hay, Athan.."
***