“Sejak kapan kau disini, Acatia? Kenapa tidak mengabariku?” Avram bertanya mendesak saat mereka sedang mengadakan sarapan pagi.
“Sudah tiga hari, Avram. Maaf, aku sibuk karena harus kerumah sakit..” Jawab Acatia santai seolah tidak terpengaruh tatapan tajam dari sampingnya. Ya, Athan sejak tadi hanya diam setelah Acatia menyapanya. Bahkan, Pria itu tidak menjawab dan langsung memilih untuk duduk dimeja makan, lebih tepatnya disebelah Acatia.
Tak lama setelah Athan masuk, Allastair, Alona, dan Avram bergabung pada mereka dan menyapa Acatia dengan hangat. Tidak seperti Pria yang kini sibuk dengan pikiran dan makanannya itu. Ada apa sebenarnya dengan Athan? Kenapa dia mendadak dingin seperti ini? Berbeda saat dia masih di Venezia. Ah.. Acatia tidak ingin berpikir terlalu jauh, lagipula itu juga bukan urusannya.
“Rumah sakit? Rumah sakit mana kau bekerja?” Kali ini Alona yang bertanya.
“Breteda Hospital.” Sahutnya singkat.
Athan bahkan menghentikan suapannya dan menatap Acatia dengan tidak percaya. Jika Acatia bekerja disana bukan tidak mungkin dia bertemu dengan Samuel dan juga Zee.
“Setelah ini, ikut aku.” Ujar Athan tiba-tiba membuat suasana hening itu terasa canggung.
Acatia menoleh, mengernyit bingung. Apa-apaan nada suaranya yang memerintah itu?
“Aku ti-”
“Jangan menolakku!” Tegasnya membuat Acatia mengangguk pasrah dan kembali menelan makanan yang awalnya lezat itu kini terasa seperti bongkahan es yang sulit tertelan.
***
“Kita kemana?” Acatia bertanya saat mobil mewah milik Pria yang kini mengemudi disampingnya melaju dengan cepat. Selesai sarapan, Acatia langsung diseret oleh Athan ke mobil bahkan tanpa sempat mengganti pakaiannya. “Athan!” Acatia memanggil Pria berwajah sempurna itu sekali lagi namun, tetap tak ada respon membuatnya mendengus malas dan langsung memposisikan kepalanya menghadap jendela mobil.
“Ke apartemenku.” Sahutnya pelan saat melihat Acatia sudah terlanjur marah padanya.
Acatia mendengarnya, namun dia berusaha untuk tidak peduli dan hanya diam sepanjang perjalanan. Walaupun di dalam benaknya dihinggapi beberapa pertanyaan seperti, kenapa kau membawaku ke apartemenmu? Bukankah kita sedang menghabisi akhir pekan bersama keluarga? Kenapa kau selalu seenaknya sendiri? Ingin ia menjerit lantang hingga akhirnya yang dilakukan hanyalah menghela napasnya kasar.
***
“Turun, Iryn. Atau aku akan menggendongmu!” Athan menatap dirinya serius karena jika Acatia masih belum ingin turun, dia sendiri yang akan menyeret wanita itu. Bahkan, Athan tidak peduli pada reputasinya yang selama ini selalu menjaga image.
Mereka sudah sampai dari beberapa saat lalu namun, Acatia masih belum ingin turun. Dia tidak ingin begitu saja menuruti perintah Pria arogan didepannya. Apa ada yang salah dengan otaknya? Ya, mungkin kekurangan Athan hanya ada di otaknya. Bukankah semua manusia diciptakan dengan kekurangan masing-masing? Pikir Acatia dalam hati. Dan lagi, panggilan Iryn itu sedikit mengganggu benaknya.
“Baiklah kalau itu maumu!” Athan tidak sabar dan langsung membopong Acatia dibahunya untuk membawa masuk ke dalam apartemen, tanpa memperdulikan teriakan wanita itu yang meminta untuk dilepaskan.
“Athan, let me go!!” Titah Acatia masih dengan posisinya dibahu Pria itu. Mereka saat ini hendak melangkah memasuki lift dan s****n saja ternyata lift itu penuh. “Athan, please..” Suaranya melemah menahan malu sekaligus jengkel. Jika Pria itu tidak bisa dibalas dengan keras, maka Acatia akan mencoba cara lembut.
“Kalian keluarlah! Cari lift lain.” Pintanya datar pada orang-orang di dalam lift.
Acatia membelalak saat melihat para orang-orang tersebut menuruti perintahnya. Memangnya ini apartemen milik dia? Athan segera membawa masuk serta dirinya ke dalam lift yang sudah kosong itu. Ah, kini Acatia mengerti kenapa mereka begitu saja menurut pada Athan. Tentu saja, karena matanya yang menusuk. Mungkin, jika tatapan itu dapat membunuh, nyaris 6 orang di dalam lift tadi sudah mejadi korban seorang Athan Tertulio dan itu akan menjadi berita utama Headline News, besok.
“Athan..” Acatia menyerah. Bahkan, dirinya kini merengek untuk dilepaskan. Ia lelah diposisi seperti ini.
“Diam Acatia atau aku akan memperkosamu disini!”
Mendadak Acatia menjadi bisu. Bahkan badannya yang sedari tadi bergerak lincah seperti ulat kepanasan kini tak bergerak sama sekali. Athan menarik sudut bibirnya menahan geli karena hanya dengan ancaman wanita ini langsung kicep. Namun, Athan bisa memastikan jika wanita lain akan dengan senang hati menerima ancamannya bahkan, tanpa perlu diancam mereka akan bergerak sendiri untuk merayunya berharap merasakan bagaimana kenjantanan miliknya masuk ke dalam lubang mereka yang sudah disinggahi banyak Pria.
Tch, Athan takkan sudi!
Dia memang tidak pernah meniduri wanita yang sudah dikategorikan p*****r, karena Athan tidak ingin berbagi dengan banyak Pria. Dia menilai dirinya sangat tinggi. Bahkan, beberapa wanita diantaranya yang masih perawan terkadang suka rela menyerahkannya pada Athan dan tentu saja dia menerimanya dengan senang hati. Itu adalah sebuah fortune untuk dirinya sendiri. Katakanlah Athan b******k, namun hanya ada beberapa orang wanita yang ditidurinya selama ini, termasuk Zee.
Mereka sampai di penthouse yang Athan beli dengan hasil kerjanya sendiri. Penthouse itu terdiri dari dua tingkat dengan bentuk elegan dan mewah. Ada tiga kamar disana, dua dibawah dan satu diatas. Athan hanya menempati kamar bawah karena salah satu dari dua kamar tersebut adalah kamar utama.
Pria itu akhirnya menurunkan Acatia disebuah sofa berwarna putih yang empuk. Memindai sekelilingnya dengan kagum karena kerapian dan juga kemewahan penthouse milik Athan sebelum Acatia menatap Athan dengan tatapan jengkelnya.
“Apa yang kau inginkan, Athan? Bukankah kita bisa bicara dirumah? Aku bahkan tidak sempat meminta izin pada Mommymu kalau kau menculikku.”
“Untuk apa minta izin jika kau diculik, bodoh?!” Dengusnya dengan geli sebelum Athan beranjak ke dapur dan membawa dua softdrink untuknya dan Acatia. Dia memilih duduk dihadapan Acatia setelah memberikan softdrink. Mengangkat sebelah alisnya dan bertanya. “Jadi, kenapa kau tidak mengabariku?”
“Tidak punya waktu. Lagipula, aku tidak memiliki nomormu dan tidak sudi memilikinya.” Balas Acatia cuek sambil meminum softdrink dengan beberapa teguk. Ia merasa sangat haus.
“Tidak sudi, katamu?” Dirinya menggeram. s****n! Wanita didepannya ini benar-benar sudah menyinggung egonya. “Kenapa?” Tanya Athan menuntut penjelasan.
“Karena kau sudah menyakiti Alisha!” Acatia berujar sambil menatap manik kelam Athan dengan tatapan menantang. Diluar dia memang berani, namun beda dengan keadaan di dalamnya karena jantung Acatia tidak berhenti bertalu-talu sejak awal. Apalagi, saat ini mereka sedang berdua tanpa ada yang mengawasi.
“Oh, my-”
Pikir Acatia takut. Bukankah Athan memang sempat mengancamnya tadi?
“Ah, jadi karena aku menyakiti Alisha kau tidak sudi memiliki nomor telfonku?” Athan memotong pemikiran Acatia.
Bukan. Bukan hanya karena itu dia tidak ingin memiliki nomor ponsel Athan, tapi juga lebih karena Acatia tidak ingin berhubungan dengan Athan atau dirinya akan benar-benar jatuh dalam pesona Pria berwajah tanpa cela itu. Acatia tidak ingin menyebutkan Athan mirip dewa yunani karena dia sendiri tidak tau bentuk dewa yunani itu seperti apa. Apakah ada tanduk? Hidungnya lebar? Atau sebaliknya? Entahlah.
“Dengar, Athan.. Aku tidak ingin kau menggangguku karena aku juga tidak akan mengganggumu. Mari kita jalani hidup masing-masing dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, okay?!”
Acatia hendak beranjak, namun dengan cepat Athan menahan lengannya dan menarik Acatia hingga jatuh terduduk diatas pangkuannya. Detak jantungnya semakin menggila. Mata melotot lebar menatap Athan dengan posisi intim begini. Pria itu dengan sigap memeluk pinggang ramping Acatia dan bergumam pelan.
“Aku ingin lihat, sejauh mana kau mampu berpura-pura bahwa kita tidak saling mengenal.” Putusnya dan segera meraup bibir merah muda yang sudah menggodanya sejak lama. Melumatnya dengan dominan dan menimbulkan bunyi cecapan disekitarnya.
Acatia terbelalak kaget. Mencoba mendorong d**a bidang Athan, namun sia-sia karena Athan langsung menekan pinggangnya agar lebih merapat padanya. Akhirnya, Acatia hanya diam dan mencoba menikmati ciuman yang lembut tidak, kasar pun tidak. Tak lama, Athan melepaskan pagutannya. Menatap Acatia yang kini terengah-engah. Ia mengulurkan jemarinya untuk menghapus jejak basah dibibir Acatia.
Pria itu menyeringai sinis dan perkataan Acatia yang menyuruhnya untuk tidak mengenalnya barusan membuat kinerja otaknya mendadak tumpul. Matanya menyipit memperhatikan gadis yang masih dalam pangkuannya tersebut, mengamati Acatia sebelum membalas perkataan Acatia dengan suara parau penuh kemenangan bercampur gairah.
“Sekarang bagaimana? Masih mau berpura-pura untuk tidak mengenalku, Iryn?”
***