Aaron

934 Kata
Athan menatap Aaron dengan pandangan yang tak terbaca. Kedua Pria yang memiliki sifat pendiam dan sangat irit bersuara itu masih diam sejak beberapa saat lalu hingga akhinya, Athan memilih menghela napas dan berujar. "Kau tidak akan diam sepanjang hari, bukan?" "Tidak." Aaron menyahut singkat. "Hanya saja aku berpikir, bagaimana bisa kau mendirikan perusahaan sebesar ini tanpa bantuan siapapun? Sementara Athan yang ku kenal dulu adalah seorang yang pemalas." "b******k!" Athan memaki sambil menatap Aaron tajam. Tapi, lawan bicaranya tampak tak terpengaruh sama sekali dan hanya mengangkat sebelah alisnya santai. "Akhir pekan, aku mengadakan pesta. Istriku ulang tahun." Aaron berujar yang menjadi tujuan kunjungannya ke perusahaan sahabatnya itu. Jika tidak karena istrinya, maka Aaron takkan sudi melelahkan diri untuk datang kemari. "Bukankah istrimu sedang hamil?" Aaron mengangguk. "Aku sudah melarangnya. Tapi, dia bersikeras tetap ingin melakukan pesta s****n itu." "Kau benar-benar bertekuk lutut pada Lexa, heh?" Goda Athan pada Pria bermata biru didepannya. Begitu membekukan bagi siapapun yang melihat dan mampu mengintimidasi siapapun yang bermasalah dengannya apalagi jika sudah menyangkut Lexa. Aaron mengangkat bahunya. "Aku belum yakin tentang hal itu." Athan mengangguk. Ia benar-benar tahu jika Aaron sangat susah jatuh hati pada seorang wanita. Bahkan, dirinya menikah dengan Lexa karena keterpaksaan perjodohan yang dibuat oleh keluarganya. "Apa kau mengundang Samuel?" "Tidak. Aku tidak suka pestaku menjadi ribut karena mulutnya." Athan mengakui jika Aaron membenci para lelaki yang bermulut berisik seperti Samuel. Tapi, tidak mungkin dia tidak mengundang Samuel, bukan? "Kalau begitu aku yang mengundangnya." Athan berinisiatif. Aaron mendadak menajamkan pandangannya pada Pria bermata kelam di depannya. "Sudah ku katakan, aku tak menyukai mulut busuknya!" "Well, dia teman kita, Aaron." Sahut Athan santai. "Kalau kau tidak mengundangnya, maka dia akan kecewa." Aaron menghela napasnya kasar. Berusaha melunakkan hatinya lalu berdiri. "Terserah kau saja." Putusnya dan segera beranjak. Namun, saat sampai dipintu, Aaron kembali bergumam. "Kau bawa Zee sebagai pasanganmu." Athan hanya menatap punggung Aaron dengan datar hingga punggung Pria itu menghilang dibalik pintu kayu yang berukir indah miliknya. Pria yang seumuran dengan Athan itu bukanlah Pria sembarangan karena dia ahli waris kerajaan bisnis Xavier diseluruh bagian negara. Tidak ada yang tidak mengenalnya dan sayangnya Pria itu harus terjebak dalam sebuah komitmen yang sama sekali tidak pernah diinginkannya. Menurut Aaron, sebuah ikatan pernikahan itu hanya membuat hidupnya semakin sulit. Belum lagi mulut wanita yang mengatur-ngatur, cerewet, dan lain sebagainya membuat hidupnya semakin merasa terganggu dan tidak nyaman. Pria itu terbiasa menjalani cinta satu malam dan itu hanya untuk diatas ranjang membuat orangtuanya murka dan memilih untuk menjodohkan Aaron. Saat itulah, Aaron mengenal Lexa. Wanita yang tidak banyak bicara, terkesan cuek, dan juga suka membantah apapun yang Aaron katakan. Tidak seperti wanita pada umumnya. Mengingat sifat Lexa, Athan nyaris melupakan seorang wanita yang juga memiliki sifat yang sama seperti Lexa. Sama-sama tidak jatuh pada pesona kedua Pria tampan tersebut disaat wanita lain bahkan rela bersujud dibawah kaki mereka untuk mendapatkan keduanya. Acatia.. Sudah dua hari sejak kejadian ciuman itu Athan tidak berjumpa dengan Acatia karena dirinya memang di Portland selama dua malam. Acatia sendiri memilih langsung melarikan diri darinya dengan wajah memerah setelah ciuman itu terjadi. Athan juga sama sekali tidak berniat mengejar karena dirinya belum benar-benar yakin akan perasaannya pada wanita berparas indah yang mampu membuat Pria manapun bertekuk lutut. Ah, apa dirinya juga sudah mulai gila karena Acatia? Mengenyahkan segala pemikirannya dan kembali berkutat pada dokumen-dokumen yang tidak akan ada habisnya itu. *** "Boleh aku masuk?" Zee bertanya sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu dimana team Acatia sedang berkumpul dan sedikit menerima arahan dari ketua team mereka, Dr.Kendler. Samuel yang lebih dulu menyadarinya langsung mengangguk dan tersenyum ramah. "Masuklah, Zee. Tidak akan ada yang berani melarangmu masuk mengingat kau pemilik rumah sakit ini." Zee tersenyum lebar. "Jangan seperti itu." Ia memilih masuk ke dalam ruangan yang berisi tiga orang. "Aku kesini karena aku akan menjadi bagian dari team kalian." Acatia yang sedari tadi menatap berkas dan mempelajarinya menatap Zee dengan pandangan datarnya. Kelompok mereka memang kekurangan satu orang, namun Acatia tidak tahu jika Zee akan bersedia bergabung dengan kelompok mereka yang baru saja dimutasi. Beda halnya dengan Samuel yang sudah tersenyum lebar menatap wanita cantik tersebut. "Benarkah?" Zee mengangguk. "Kau ingat, Sam. Aku baru saja mengambil spesialis jantung, jadi mungkin aku juga butuh banyak bantuan dari kalian semua." Zee menatap sekelilingnya hingga matanya terhenti pada Acatia. "Hay, aku Zee.. Mungkin kita berdua wanita cantik diantara Pria disini.." Ingin Acatia tetap diam dan tidak menyahut namun tidak mungkin mengingat Zee orang yang ramah, pemilik rumah sakit ini pula. Oh, Acatia tidak akan membiarkan dirinya di pecat hanya karena baru beberapa hari dia bekerja. Lagipula, Zee benar, mereka tercantik diantara tiga Pria itu. "Acatia.." Balasnya sambil menyunggingkan senyum tipisnya. "Namamu cantik, seperti orangnya." Acatia hanya tersenyum tanpa niat membalas pujiannya sama sekali. Hingga Samuel berujar berbisik pada Zee. "Dia sangat datar. Kau tidak akan betah berteman dengannya." Walau nyatanya bisikan Samuel itu terdengar oleh Acatia, bahkan tidak dapat dikatakan bisikan karena suaranya sangat besar. Zee tertawa merdu. "Aku akan berteman dengannya seperti apapun sifatnya." Samuel mengangguk sambil tersenyum lebar. "Well, mari kita sama-sama berjuang mendapatkan perhatiannya." "Kau menyukainya?" Zee membelalakkan matanya tidak percaya. Samuel meringis pelan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum mengangguk membenarkan. "Sepertinya begitu." "Kalau begitu, semangat, Sam!!" Acatia menghela napasnya pelan dan memutar bola matanya malas. Tidak tahukah mereka berdua jika sejak tadi orang yang dibicarakan berada disampingnya? Oh.. Acatia bisa gila jika terus berhadapan dengan Samuel, belum lagi kini ada komplotan barunya. Ia menyesal karena tidak membantah untuk memindahkan kepada team lainnya. "Saya permisi." Acatia memilih untuk keluar dari ruangan tersebut ke ruangannya sendiri karena ia akan merasa semakin sesak berada disini.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN