Sei Mio

1139 Kata
  "Aaron menyuruhku mengundangmu untuk acara pesta ulang tahun istrinya minggu depan." Athan menatap Samuel datar. Samuel menaikkan sebelah alisnya tidak yakin jika Aaron mengundangnya mengingat mereka sebagai buaya dan ular. Tidak pernah akur dan jika bertemu hanya akan membuat kerusuhan. "Aku tidak yakin." Athan mengangguk. "Yakin saja jika kau mau menjaga mulutmu dan dia meminta kita membawa pasangan. Sialnya, dia menyuruhku membawa Zee! s**t!!" "Haha.." Tawa Samuel pecah membuat wajah Athan semakin kusut. "Kurasa kau memang berjodoh dengan Zee. Kenapa tidak kau memberitahunya saja bahwa hubunganmu dan Zee sudah berakhir?" "Ya, setelah itu Aaron akan menyalahkanku karena sudah menyakiti sepupunya itu." Sahutnya sengit. Samuel mengangkat bahunya. "Kalau begitu kau memang harus pergi dengannya, bukan?" "Entahlah.." Athan menerawang ke langit-langit apartemennya. Sejujurnya, ia ingin membawa Acatia bukan Zee atau siapapun karena dengan begitu dia bisa menemui gadis cantik itu lagi. Sialannya, Aaron menyuruhnya untuk membawa Zee ke pesta. Brengsek! "Mungkin kau harus bersandiwara sekali lagi di depan Aaron bahwa kau dan Zee masih menjalin hubungan." Menghela napas panjang sebelum mengibaskan tangannya sembarang arah. "Sebaiknya kau pulang, Sam. Sudah malam! Aku takut Mommymu memarahiku karena kehilangan anak kecil perjakanya." "b*****t!!" Sam melempar kaleng soft drink yang sudah kosong mengarah pada Pria tampan di depannya. Sayangnya, Athan dengan cepat menghindar lalu tersenyum mengejek menatap dirinya yang sialannya membuat Athan semakin terlihat tampan. Oh, Sam akan memaki dirinya sendiri karena sudah memuji ketampanan Athan. Padahal, dirinya merupakan lelaki normal nan maco!! Samuel segera beranjak dari sofa putih yang terlalu nyaman untuk ditinggal hingga mendengus kasar dan keluar dari apartemen milik Athan. Sejenak, ia berhenti ketika dirinya mendapatkan pencerahan. Jika Aaron menyuruhnya membawa pasangan, bukankah ia juga harus membawa pasangan? Dan... Jelas saja, Samuel akan melakukan apapun untuk membujuk Acatia sebagai pasangannya datang ke pesta ulang tahun milik Lexa. Setelah kepergian Sam, Athan menghela napasnya pelan. Jujur, dia merindukan Acatia, padahal baru dua hari mereka tidak bertemu. Mengambil kunci mobilnya dan segera turun ke basement untuk mengambil salah satu mobil mewahnya dan mengendarainya menuju rumah orangtuanya. Ya, malam ini Athan berniat untuk tidur dirumah orangtuanya. Peduli setan, jika orangtuanya terkejut menatapnya pulang tiba-tiba yang bahkan saat di weekend saja harus dibujuk baru mau pulang. *** Acatia baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama keluarga Uistean. Atreo dan Athila sudah berada dikamar untuk beristirahat. Sedangkan, Acatia memilih untuk ke taman belakang menghabiskan waktunya menatap langit yang penuh bintang. Ini adalah salah satu hobi Acatia, menatapi langit yang seolah tak pernah mengeluh betapa lelahnya ia disana tanpa pilar penyangga. Sering memang Acatia berpikiran konyol dan dia sama sekali tidak pernah membantah pikiran konyolnya. Terkadang, dirinya suka senyum sendiri mengingat pemikirannya yang sering tidak masuk akal. Malam ini tidak cukup dingin hingga Acatia berani keluar hanya menggunakan drees tidurnya tanpa lengan sebatas lutut. Bahannya tidak terlalu tipis, tapi cukup nyaman jika dipakai tidur. "Kau tidak kedinginan?" Suara itu membuyarkan semua lamunannya. Ia berbalik dan menatap Athan dengan kaget karena tidak biasanya Pria itu mampir ke rumah apalagi ini sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba saja, pikirannya melayang dimana terakhir kali mereka berjumpa. Jelas saja, ciuman itu masih terekam di otaknya. Acatia menggeleng cepat menjawab pertanyaan Athan. "Kenapa kau disini?" "Ini rumahku." Pria berpakaian kasual itu mengangkat bahu lalu menenggelamkan kedua tangannya disaku celana pendeknya dan berdiri disamping Acatia. "Jadi, bukankah berhak aku pulang kapanpun aku mau?" Dengan sengaja Athan mendekatkan wajahnya dengan wajah Acatia membuat pipi gadis itu memerah seketika. Acatia mundur dua langkah menjauh. Detak jantungnya kembali menggila. Ini tidak bisa dibiarkan. Masih mempertahankan wajah datarnya, Acatia berdeham pelan. "Bukankah kita sudah saling berjanji untuk berpura-pura tidak saling mengenal?" Athan berdecak tidak suka. Ia menjawab Acatia sengit. "Kau yang berjanji, Iryn! Bukan aku." Menatap gadis itu dengan tajam. "Apa perlu aku melakukan hal lebih dari yang kita lakukan kemarin agar kau tidak perlu berpura-pura untuk tidak mengenalku, hm? Lagi pula, kenapa kau berniat sekali untuk menghindariku?" Lagi, Acatia merasa gugup. Menelan salivanya susah payah sebelum kembali mendongak menatap Athan dengan berani. "Aku tidak menghindarimu." Sanggah Acatia. "Hanya saja, aku masih kecewa padamu." Sahutnya pelan diakhir kata. "Acatia!" Athan berdesis. "Jika kau tidak bisa menerima masalahku dengan kakakmu, fine. Aku mengerti, tapi cobalah untuk bersikap profesional. Lagipula, kita sudah sama-sama dewasa, bukan? Kau terlalu munafik jika dengan kakak mu, kau jadikan alasan untuk menjauhiku!" Acatia terdiam. Athan benar, dirinya hanya terlalu munafik jika kakaknya dijadikan alasan untuk menghindari Athan. Tapi, Acatia memang tidak ingin mengulang masa lalunya yang membuatnya juga terpuruk hanya karena Pria tampan lainnya. Walau tidak setampan Athan, tapi Pria itu berhasil menghancurkan Acatia hingga hatinya tak berbentuk. "Aku harus tidur, Athan.." Acatia memilih menghindar. Ini bukan saatnya untuk membahas hal yang bahkan sampai saat ini sudah diketahuinya dengan jelas. Karena Acatia tau, hatinya sudah memilih Athan dan itu tidak akan bisa ia hindarkan. Bagaimana jantungnya selalu berdetak kencang karena berada di dekat Athan. Bagaimana wajahnya merona saat Athan menciumnya, Acatia merasakan pergolakan aneh dalam hatinya dan Acatia tau bahwa dia sudah jatuh kepada Pria ini. Pria yang seharusnya menjadi milik kakaknya dan Acatia harus menjauhinya jika tidak ingin jatuh terlalu dalam. Merasa lengannya dicekal, Acatia berhenti. Ia berbalik dan memasang wajah datarnya kembali padahal hatinya berteriak-teriak kesenangan. "Lepas!" "Tidak! Kita belum selesai, Iryn!" Athan kembali memanggil Acatia dengan Iryn membuat hati Acatia bersorak senang. "Kita harus bicara!" "Apa yang ingin kau bicarakan, Athan? Kita tidak perlu membicarakan apapun. Jika kau ingin kita tetap begini. Fine! Kita tetap begini dan aku tidak akan menghindarimu lagi." Acatia menyerah. Biarlah, biarlah waktu yang menjawab perasaannya. "Sekarang, bisakah kau melepaskanku?" Athan menggeleng. Sisi dominannya sudah keluar. Ia tidak bisa lagi menghindar dari gadis yang sudah mencuri pikiran-pikirannya dari beberapa hari bahkan nyaris beberapa minggu ini. "Tidak, Iryn! Aku tidak akan melepaskanmu karena mulai sekarang, kau milikku! Hanya milikku!" Ulangnya dengan penekanan setiap kata-katanya sebelum kembali melumat bibir yang menjadi candunya itu. Bibir manis yang belum pernah ia rasakan pada wanita manapun termasuk Zee. Acatia membelalak kaget. Belum sempat ia mencerna perkataan Pria ini, Athan kembali menciumnya. Melingkarkan kedua lengan kokohnya dipinggang ramping Acatia lalu mendekapnya. Melumat lembut bibirnya, menggoda dengan gerakan s*****l agar bibir itu terbuka membiarkan Athan menjelajahi mulut manis wanitanya. Ya, Athan sudah mengklaim Acatia sebagai wanitanya. Tidak peduli Acatia menolaknya nanti. Tanpa menunggu waktu lama, sepertinya Acatia juga mulai hanyut dalam ciumannya. Ia membuka bibirnya dan membiarkan lidah Athan masuk, mencari pasangannya lalu menari bersama di dalam keheningan malam yang syahdu. Athan menggeram pelan saat nafsu mulai merajai dirinya. Melepaskan tautannya dengan bibir Acatia hingga menyisakan jejak basah dibibir berwarna merah muda alami itu. Menghapus jejak tersebut dan berujar dengan napas parau. "Tidak peduli kau membenciku karena sudah menyakiti kakakmu. Tidak peduli kau menolakku. Karena mulai saat ini kau milikku dan akan selalu menjadi milikku! Jadi, jangan pernah bermacam-macam untuk mendekati laki-laki lain!" Athan bahkan tidak perlu bertanya mengerti, seperti Pria lainnya karena ia sudah lebih dulu meninggalkan Acatia yang masih terengah-engah akibat ciuman panas mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN