Vivere Insieme

966 Kata
"Sayang, tumben kau pulang?" Athila menatap anak bungsunya kaget yang sepertinya habis mandi karena berwajah segar dan langsung bergabung dimeja makan. Tak lama, Atreo menyusul dan ikut menatap Putranya bingung. "Tumben kau pulang, son?" Athan berdecak malas. "Ayolah.. Apa aku tidak diterima lagi dikeluarga ini? Kenapa kalian seolah menginginkanku menjauh?" Athila dan Atreo saling tatap sebelum keduanya sama-sama tersenyum. "Tidak heran jika Mommy dan Daddy bertanya, sayang. Lagipula, kau tidak pernah pulang sama sekali." "Aunty, kopinya sudah siap.." Tiba-tiba Acatia muncul sambil membawa kopi untuk Atreo. "Kemarikan, sayang." Pinta Athila dan menyambut kopi yang Acatia buat. "Mana untukku?" Athan bertanya sambil menatap Acatia dengan datar. Namun, pandangan itu menyiratkan sesuatu disana. "Kau hanya membuat untuk Daddy, Acatia. Mana untukku?" Tanyanya dengan nada lebih lembut. "Ah, aku lupa ada makhluk lain dirumah ini. Biasanya kami cuman sarapan bertiga." Sahut Acatia berani membuat Athila dan Atreo terkekeh melihat Athan yang sudah berwajah jengkel. Athila dan Atreo senang, rumah mereka kembali ramai karena kehadiran Acatia. Mereka sangat bersyukur akan hal tersebut. Namun, jawaban Athan selanjutnya membuat kedua orangtuanya dan juga Acatia terdiam. "Kalau begitu, mulai saat ini biasakan untuk membuat dua cangkir kopi karena aku akan tinggal disini mulai sekarang!" Sahutnya lugas sambil menatap Acatia penuh arti. Athila dan Atreo masih terdiam sebelum Athila histeris, "Apa? Kau ingin tinggal bersama Mommy?" Athan mengangguk. "Ya, Mom. Aku akan tinggal disini lagi." "Son?" Panggil Atreo masih tidak percaya. "Kau serius?" "Ckckk.. Apa kalian tidak menerimaku lagi disini, hm?" Kali ini Athan bertanya balik. "Bukan begitu, aneh saja rasanya jika tiba-tiba kau pindah kemari." Atreo masih menatap Putranya dengan intens. Athan mengangkat bahunya. "Aku berubah pikiran." "Bagaimana dengan apartemenmu?" Kali ini Athila bertanya. "Bisa ku sewakan pada Sam, Mom. Dia butuh pelarian dari Ibunya dan nanti siang aku akan membawa barang-barangku kemari." Athila dan Atreo tentu saja menyambut kehadiran Putra bungsu mereka. Namun, berbeda dengan Acatia yang sudah berwajah pias karena Athan pasti sudah merencanakannya. Pria s****n! Makinya. Semalam saja, Acatia hampir tidak bisa tidur apalagi dengan Athan yang mulai tinggal dirumah ini, bisa-bisa Acatia takkan pernah bisa tidur. "Ayo-ayo kita makan." Ujar Athila saat Acatia sudah membuatkan satu cangkir kopi untuk Athan. Kali ini Athila berwajah sumringah karena akhirnya salah satu anaknya tinggal dirumah. Athila menatap wajah Putranya dan Acatia bergantian. Kebetulan keduanya duduk bersebelahan. "Jika seperti ini, Mommy merasa memiliki menantu.." Uhuk.. Acatia terbatuk karena tersedak salivanya sendiri tanpa sengaja. Oh, ini memalukan!! Athan dengan cepat memberi air mineral untuk Acatia, membantu gadis itu meminumnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus pelan tengkuk gadisnya. "Sudah enakan?" Tanya Athan lembut. Acatia mengangguk ragu. "Terimakasih." Gumamnya pelan. Athan mengangguk, lalu tiba-tiba deheman Atreo membuat Acatia langsung salah tingkah sedangkan Athan tampak santai dan mulai melahap sarapan paginya. Tau bahwa Acatia dan Athan memiliki kesamaan bahwa mereka sama-sama tidak berbicara dimeja makan, maka Atreo memilih untuk sarapan terlebih dahulu dan melanjutkan ucapannya setelah sarapan selesai. Acatia membantu Athila membereskan perlengkapan sarapan mereka. Jeenath hanya bertugas untuk mencuci piring. Setelah kedua wanita berbeda usia itu kembali ke meja makan, Atreo bergumam pelan. "Aca, uncle menelepon orangtuamu dan mereka menitipkan salam padamu." Acatia mengangguk. "Aku belum sempat menelepon mereka,uncle. Karena jika malam, aku takut menganggu waktu mereka tidur." Atreo mengangguk mengerti dan berujar. "Uncle juga bertanya tentang keadaan Alisha." Atreo menghela napasnya pelan saat melihat Acatia bertubuh tegang. "Dia sudah baik-baik saja dan berusaha untuk melupakanmu, Athan." Kali ini, Athan mengangkat kepalanya menatap sang Daddy dan menyahut datar. "Baguslah." Athila menghela napas panjang. Putranya benar-benar tidak peduli pada Alisha padahal mereka dulu cukup akrab. "Son, tidak bisakah kau memperbaiki hubunganmu dengan Alisha? Setidaknya sebagai teman. Lagipula, kalian itu masih saudara.." "Dad, jangan biarkan aku mengubah keputusanku untuk meninggalkan rumah ini lagi!" Atreo mengalah. Putranya terlalu keras kepala dan dia hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Daddy tidak akan membahasnya lagi." "Baguslah. Aku akan berangkat bekerja bersama Acatia." Athan segera menarik tangan Acatia tiba-tiba membuat gadis itu menunda meminum jus jeruknya dan langsung mengikuti langkah lebar dengan terseok-seok. "Athan , lepas!" Pinta Acatia saat mereka nyaris sampai di depan pintu utama. "Kau gila menarikku seperti itu." Kali ini gadis itu mengelus tangannya yang memerah. "Maaf.." Athan berujar lembut dan menarik tangan Acatia dari genggaman gadis itu lalu mengecup dimana bercak merah tertinggal. "Aku tidak akan melakukannya lagi." Hati Acatia mendadak berdesir dan terpana akan setiap kelakuan dan tingkah Athan yang berbeda padanya. "Ayo kita berangkat sekarang." Kali ini Pria itu berlaku lebih lembut. "Sebentar. Aku mengganti sepatuku dulu. Tidak mungkin seperti ini aku kerumah sakit!" Athan menaikkan sebelah alisnya menatap sandal rumahan yang lucu yang dipakai Acatia saat ini. Ia mengangguk dan menunggu Acatia untuk memakai flat shoesnya. Acatia memang jarang memakai heels dirumah sakit karena itu akan merepotkannya saat berlari jika ada pasien darurat. "Aku bisa pergi sendiri. Kau akan terlambat ke kantor jika mengantarku lebih dulu." Acatia bergumam sambil memasang sepatunya. "Tidak. Mulai saat ini aku akan mengantarmu dan menjemputmu!" "Athan, ayolah.. Aku tidak ingin diperlakukan seperti ini. Aku tidak suka diatur." Sahutnya sedikit menahan kesal. Athan menghela napasnya. "Jangan mendebatku, Iryn! Atau kita akan terlambat." Kali ini Athan membawa Acatia masuk ke dalam mobilnya. "Aku bisa toleransi untukmu membawa mobil sendiri, tapi aku tidak bisa toleransi bahwa kau tidak menuruti setiap ucapanku!" "Benarkah?" Tanya Acaia sambil menatap Pria tampan yang sedang mengemudi dengan santai disampingnya. "Benar kau membiarkanku membawa mobil sendiri?" Athan mengangguk. "Aku tidak pernah mengingkari janjiku, tapi selain dari itu aku tidak terima jika kau membantah kata-kataku, Acatia!" "Ckckk.." Acatia berdecak. "Sama saja itu." Gadis itu memanyunkan bibirnya membuat Athan tidak tahan melihatnya. Seandainya dia tidak sedang mengemudi, maka sudah dipastikan bibir itu akan dilumat habis olehnya. "Jangan membuat bibir seperti itu, Iryn. Atau aku tidak akan membiarkanmu bekerja." Gumamnya parau lantas Acatia langsung melipat bibirnya ke dalam mulut untuk menghentikan fantasi Athan. Oh s****n! Dia akan terjebak lama dengan Athan sepertinya..   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN