Setelah menyadari kesalahpahamannya, Rainer turun dari lantai dua dengan langkah berat. Ia langsung menuju kamarnya, lalu mulai mengangkut beberapa barang pribadi dan peralatan kerjanya yang masih tersimpan di sana ke bagian ruang kerjanya yang baru dipisahkan partisi. Gerakannya cepat dan efisien, seolah ingin segera menyelesaikan segala hal yang masih menggantung. “Sudah, selesai juga pindahan kali ini,” gumamnya dalam hati saat menaruh kotak terakhir di atas meja kerjanya yang sekarang terasa lebih terkotak dan terdefinisi jelas. Kelelahan fisik dan emosional akhirnya menyergap. Tanpa sempat membuka laptop atau merapikan barang-barang yang baru dibawa, Rainer langsung duduk di kursi kerjanya, menyandarkan punggungnya ke sandaran yang empuk. Napas beratnya perlahan melambat. Mata yan

