Setelah selesai sarapan, mereka berdua kembali ke mobil dan pulang ke apartemen dalam keheningan yang kali ini tidak terlalu menegangkan. Sesampainya di rumah, mereka duduk di sofa ruang tengah dengan jarak satu kursi antar mereka. Karan menatap Rainer dengan intens, seolah memindai setiap perubahan ekspresi di wajah pria itu. Rainer yang merasa tak nyaman dengan tatapannya akhirnya bertanya, “Kamu sudah kenyang?” suaranya terdengar datar namun ada nada tanya yang halus. “Hmm, untuk sekarang sih sudah kenyang,” jawab Karan sambil menyender. “Tapi nggak tahu kalau satu jam lagi perutku perih lagi. Soalnya tadi cuma lontong, bukan nasi.” Rainer mendengus pelan, lalu terkekeh kecil, suara yang jarang terdengar dari dirinya. “Kalau begitu, giliran kamu masak mie instan nanti. Jangan lupa, k

