Malam hari itu, suasana di ruang tengah terasa tenang. Karan dan Rainer baru saja selesai makan malam sederhana yang dimasak oleh Karan—nasi goreng dengan telur dadar—dan kini mereka duduk berjauhan di sofa yang sama. Karan terlihat lelah, sementara Rainer duduk dengan perut kenyang, matanya setengah terpejam. Tiba-tiba, dering ponsel Karan memecah kesunyian. Nama “Sari” berkedip di layar. “Ibu telepon!” serunya, langsung tersentak dari kelelahan. “Halo, Bu? Gimana kabar Ibu? Apa sudah sampai di Osaka?” tanya Karan dengan suara berbinar. Sari melakukan panggilan video. Di latar belakang, tampak deretan pohon sakura yang sedang bermekaran semi, kelopak-kelopak merah muda lembut berjatuhan perlahan. Adrian berdiri di sampingnya, tersenyum lebar sambil melambai. Pemandangannya sungguh inda

