Karan terus berguling di atas tempat tidur, tak kunjung menemukan posisi yang nyaman. Sudah lebih dari satu jam, namun perkataan Rainer masih terngiang jelas di telinganya, menghalangi kantuk untuk datang. “Aneh sekali dia!” desisnya kesal. “Aku sudah berusaha bersikap baik, malah ditolak mentah-mentah. Seolah luka lama di antara kami belum bisa sembuh.” Akhirnya, ia menyerah. Jika sudah begini, tidur mustahil didapat sebelum pikirannya benar-benar tenang. Karan pun bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar. Ia membutuhkan aktivitas, tapi bukan di ruang yang membosankan ini. Langkahnya menuju lantai dua, masuk ke ruang kerjanya yang terbagi oleh partisi kayu. Beberapa video tentang wisata lokal masih menunggu untuk diedit, konten untuk esok hari. “Semangat, Karan,” ucapnya pada dir

