Eps. 6 Hari Sial

1302 Kata
Rainer menghidupkan mesin mobilnya, meninggalkan kafe dan kekacauan kecil yang baru saja dia pungut. Namun, ketenangan di dalam kabin tidak bisa mengusir barang-barang Karan yang kini terasa seperti bara panas di saku jaketnya. Pikirannya tak henti-hentinya beralih pada flashdrive kucing dan stylus itu. 'Haruskah aku kembalikan langsung padanya?' Ide itu langsung ditolak mentah-mentah. Bertemu Karan berarti membuka kembali kenangan memalukan tentang jas putihnya yang rusak dan pertengkaran panas mereka. Rasa kesal yang sama, meski sudah bertahun-tahun, masih saja tersisa, menggelitik egonya. “Nggak. Nggak mungkin aku menemuinya.” Alternatif lain muncul. “Halah, lebih baik aku serahkan saja pada Ayah nanti. Biar dia yang kirimkan ini ke Karan, mungkin bisa sambil menemui Tante Sari.” Itu solusi yang logis dan aman. Tidak perlu interaksi langsung, tidak perlu drama. Dengan keputusan itu, perasaannya sedikit lega. Dia menghela napas, fokus kembali pada jalan menuju kantor. Meski begitu, di sudut paling bawah hatinya, ada sedikit rasa penasaran yang mengganggu, seperti apa ekspresi Karan ketika menerima kembali barang-barangnya melalui ayahnya? Apakah dia akan menyadari bahwa Rainer yang menemukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu dengan sengaja dia tekan, menguburnya di balik urusan pekerjaan yang menanti. Karan tiba di rumah dengan langkah gontai. Dia menurunkan tas kamera dan tas kerjanya yang berat dari mobil, lalu membawanya masuk dengan perasaan kosong, tanpa menyadari ada sesuatu yang hilang. Pikirannya masih penuh dengan bayangan tatapan dingin Rainer di kafe. Begitu masuk kamar, dia langsung melepas blazer denimnya yang masih lembap di bagian punggung. Ganti baju dengan kaos dan celana pendek yang nyaman, lalu tubuhnya terjatuh ke kasur. Dia bersandar pada kepala, memejamkan mata. “Lelahnya hari ini,” desahnya panjang ke udara kosong. Tapi ini bukan lelah fisik. Ini adalah kelelahan emosional yang menggerogoti. Setiap interaksi, bahkan yang tidak terjadi, dengan Rainer seolah menyedot energinya. Bayangan muka sinisnya, bisikan menohoknya, semuanya membuatnya merasa terkuras habis-habisan. Setelah beberapa saat terbaring, dia memutuskan untuk mengalihkan kegelisahan itu dengan pekerjaan. Dia bangkit dan membuka tas kerjanya, mengeluarkan tablet grafis beserta laptopnya. Rencananya, dia akan mengedit video komedinya yang pagi tadi adegan terjatuh di jembatan kayu itu, menambahkan efek suara dan teks yang lucu sebelum menguploadnya sebagai reel di Insta-gram dan t****k. Video autentik itu berpotensi viral karena keluguan dan kepolosannya. Dia siapkan semua, menyalakan perangkat, dan membuka software editing. Saat dia hendak mulai memotong klip, tangannya secara refleks meraih ke samping tabletnya untuk mengambil stylus pen-nya. Kosong. Dia mengerutkan kening. “Di mana, ya?” gumamnya, menoleh untuk melihat sekeliling mejanya yang berantakan. Mungkin terselip di antara buku sketsa? Tidak ada! Dia mulai mencari dengan lebih serius, membongkar isi tas kerjanya yang berisi kabel, powerbank, buku catatan, dan perlengkapan makeup darurat. Semuanya dikeluarkan, ditata di atas kasur. Stylus-nya tidak ada. “Ah, pasti ada di tas kamera,” pikirnya. Dia membongkar tas kameranya, mengeluarkan lensa, tripod, mic, dan berbagai aksesori. Tetap saja, tidak ada tanda-tanda stylus hitam elegan itu. Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih kencang. Dia duduk di tengah-tengah kekacauan barang-barangnya, mencoba mengingat. Dia membawanya ke kafe tadi, kan? Ya, pasti. Dia menggunakannya untuk membuat sketsa cepat ide konten saat menunggu pesanan. Lalu… lalu dia kabur terburu-buru. Tiba-tiba, matanya terbuka lebar. Sebuah realisasi yang lebih buruk menghantamnya. Dia beringsut mendekati tas kerjanya yang sudah kosong, merogoh kantong kecil di bagian samping tempat dia biasanya menyimpan. “Astaga!” pekiknya, suaranya nyaring memecah kesunyian kamar. “Flash drive ku yang bentuk kucing nggak ada juga!” Flash drive mungil berbentuk kepala kucing itu adalah tempat penyimpanan utamanya untuk semua file mentah ilustrasi klien, draft komik, dan aset-aset penting lainnya. Kehilangan stylus sudah merepotkan, tetapi kehilangan flash drive itu adalah bencana. Dia tidak percaya. Dengan panik, dia kembali mengobrak-abrik semua barang di kasur, mengharapkan benda oranye kecil itu akan muncul. Tidak ada. “Mungkin terjatuh di mobil?” Dia berlari keluar kamar, kembali ke mobil yang masih parkir di depan rumah. Dengan senter ponsel, dia menyisir setiap sudut lantai mobil, di bawah kursi, di celah-celah, bahkan di bagasi. Tidak ada. Hanya debu dan beberapa receipt belanja. Dia berdiri di samping mobil, tangan menahan kepala. “Astaga! Kenapa juga nggak ada di sini?” pekiknya lagi, suaranya penuh frustrasi dan ketakutan. Pikiran terburuk mulai mengintai apa barang-barang itu tertinggal di kafe? Dan jika iya… apakah ada yang menemukannya? Atau, yang lebih buruk, apakah dia yang menemukannya? Mau tak mau Karan masuk ke mobilnya lagi dan melaju menuju ke kafe tadi. Ia berdiri di depan meja kosong di kafe itu dengan perasaan hampa. Dia sudah memeriksa lantai di sekitarnya, menyisir setiap sudut di bawah kursi, bahkan dengan malu-malu menengok ke meja-meja sekitar. “Tidak ada. Stylus dan flash drive ku benar-benar raib.” Dengan sisa harapan tipis, dia menghampiri konter kasir di mana seorang penjaga kafe yang berbeda dari pelayan tadi sedang membersihkan mesin kopi. “Permisi, Mbak,” sapanya, mencoba terdengar tenang meski jantungnya berdebar kencang. “Saya tadi duduk di meja sudut belakang dekat rak buku. Saya ketinggalan flash drive dan stylus. Mungkin ada yang menemukannya? Kalau ditemukan, tolong hubungi saya di nomor ini.” Dia dengan cepat menulis nomor teleponnya di selembar tisu yang diberikan penjaga kafe. Penjaga kafe itu, seorang wanita paruh baya dengan ramah, menggeleng pelan. “Maaf ya, Mbak. Kami selalu membersihkan setiap meja setiap ada pengunjung yang pergi. Tapi dari shift saya siang ini, tidak ada apa-apa yang ditemukan. Bila memang ada, pasti sudah disimpan di kotak barang hilang. Tapi coba saya periksa lagi.” Dia berbalik dan membuka sebuah kotak kecil di bawah kasir. Isinya hanya beberapa kacamata hitam, satu helm motor, dan sebuah buku. Tidak ada benda elektronik. Karan menghela napas panjang, rasa kecewanya semakin menjadi. “Oh, baiklah. Terima kasih banyak ya, Mbak,” ucapnya lirih sebelum berbalik dan berjalan keluar kafe dengan langkah lesu. Pintu kafe berbunyi lembut di belakangnya, tetapi suara itu seolah menandai tertutupnya harapan terakhirnya. “Berarti barang itu… ada yang menemukan dan membawanya pulang,” gumannya sambil membenamkan tangan ke saku jaketnya yang kosong. Kepalanya langsung pusing membayangkan konsekuensinya. “Aduh… habislah sudah. File-file klien, draft komik yang belum di-backup… semua ada di situ.” Pikirannya yang kalut membuatnya tidak fokus. Dia melangkah menuju mobilnya yang diparkir di pinggir jalan kecil di depan kafe, matanya berkaca-kaca karena panik dan frustrasi. Saat dia sibuk mengutuki nasib dan mencari kunci mobil di dalam tas yang berantakan, dia tidak memperhatikan sekelilingnya. Krrreeeekkk! Suara benturan keras dan berisik memekakkan telinga. Tubuh Karan menabrak sesuatu yang keras namun… bergerak. Sebuah gerobak es dorong berwarna hijau tua yang dikendarai oleh seorang abang penjual es keliling. Gerobak itu terguncang hebat, dan beberapa botol sirup berwarna-warni serta kaleng s**u bergemerincing nyaris jatuh. “Aduh! Aduh, Maaf, Bang! Aku nggak lihat!” seru Karan panik, tangannya refleks menahan gerobak yang miring. Abang penjual es itu terlihat kaget, tapi kemudian malah tertawa melihat ekspresi Karan yang begitu berantakan dan wajahnya yang memerah karena malu. “Nggak apa-apa, Neng! Lain kali lihat jalan yang bener. Mau es kelapa nggak? Biar adem,” godanya sambil tersenyum lebar. Karan hanya bisa menggeleng, malu setengah mati. “Nggak, Bang, maaf ya! Hati-hati!” Dia buru-buru masuk ke mobilnya, menutup pintu, dan menempelkan dahinya ke setir. Hari ini benar-benar bukan harinya. Dia kehilangan barang berharga, hampir merubuhkan gerobak es, dan di atas semua itu, dia masih harus menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin akan bertemu lagi dengan Rainer untuk meminta barang-barangnya, jika memang pria itu yang mengambilnya. Pikiran terakhir itu membuat dadanya sesak. Karan menyetir pulang dengan perasaan kalah. Di tengah kemacetan, pikirannya berputar pada satu kemungkinan yang paling menyebalkan. Pikirannya tertuju pada satu sosok. Rainer. Siapa lagi yang duduk di meja sebelahnya? Kemungkinan besar pria itu yang menemukan. Daripada harus menghadapinya, lebih baik dia menyerah dan menganggap file-file itu hilang selamanya. Merelakan semuanya. Tapi hati kecilnya berteriak. 'Itu pekerjaanmu!' Dia menghela napas berat. Besok, dia harus memutuskan, menghadapi Rainer, atau menghadapi kemarahan klien. Sedangkan semua file itu teramat sangat penting baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN