Eps. 7 Mengantar Sendiri

1338 Kata
Rainer duduk di kursi kerjanya di kantor, tengah menyusun strategi kampanye media sosial untuk peluncuran produk baru sebuah brand skincare. Pikirannya, yang seharusnya fokus pada analisis data demografi dan content calendar, terus-menerut tertarik pada flash drive kucing di saku jaketnya. Saat jeda makan siang, rasa penasaran akhirnya mengalahkan sikap masa bodohnya. Bukan karena ingin lancang, tapi sekadar ingin tahu seberapa penting barang ini bagi Karan. Dengan sedikit keraguan, dia menancapkan flash drive ke port laptopnya. Folder-folder yang terbuka membuat matanya sedikit terbeliak. Isinya terstruktur rapi. ·Folder "CLIENT_ILLUST" berisi puluhan file ilustrasi digital berkualitas tinggi, dari karakter komik hingga desain kemasan makanan. · Folder "COMIC_DRAFT" menyimpan storyboard dan halaman komik webtoon yang belum selesai, dengan gaya gambar yang unik dan ekspresif. · Folder "PERSONAL_PROJ" berisi sketsa-sketsa cepat yang justru paling menarik perhatian Rainer. Ada gambar suasana kafe, gerobak es keliling, dan... beberapa sketsa wajah pria yang sinis dilengkapi tulisan "BRAND: ES BATU AROGAN" di sampingnya. Rainer terdiam sejenak, menatap layar. Bibirnya yang biasanya datar, kini sedikit terbuka. “Ini...,” gumamnya pelan. Pengetahuan profesionalnya langsung bekerja menghubungkan titik-titik. Kualitas karya, konten yang variatif, dan target audiens yang jelas. Jadi, selama ini Karan bukan sekadar "anak kreatif". Dia adalah illustrator dan content creator yang serius dan berbakat. Rainer menatap layar yang dipenuhi karya-karya Karan. Setiap ilustrasi, setiap draf komik, membuktikan betapa seriusnya wanita itu dengan pekerjaannya. Flash drive ini jelas adalah nyawa digitalnya. “Jadi... ini penting banget untuknya,” gumamnya, menyadari besarnya tanggung jawab yang sekarang dia pegang. Tapi, pikiran untuk harus bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan Karan membuat seluruh tubuhnya menolak. Kenangan pertengkaran mereka, rasa kesal yang masih tersisa, dan ketegangan yang langsung tercipta setiap kali mereka berdekatan, semuanya terasa melelahkan. “Aku malas banget bertemu dengannya,” desisnya kesal, sambil menutup semua folder dan meng-eject flash drive dengan kasar. Dia lebih memilih berurusan dengan klien paling rewel sekalipun daripada harus mengembalikan barang ini secara langsung. Sore hari, Rainer melaju mobil menuju ke sebuah gedung perkantoran modern di kawasan Sudirman. Adrian Elard, ayahnya, adalah seorang Partner di sebuah firma akuntansi ternama seperti "The Big Four" Kantornya berada di lantai tinggi, dengan pemandangan kota yang luas dari balik dinding kaca. Setelah melewati resepsionis yang langsung mengenalinya, Rainer berjalan langsung menuju ruang kerja ayahnya. Pintu kayu solid terbuka, memperlihatkan Adrian yang sedang fokus menatap dua layar monitor, penuh dengan spreadsheet. “Ayah, ada sesuatu,” sapa Rainer, suaranya datar memotong kesunyian. Adrian terkejut, mengalihkan pandangan dari layar. “Rainer? Ini jarang sekali kamu datang ke kantor ayah. Ada masalah?” tanyanya, langsung khawatir. “Duduk dulu, baru bicara,” ujar Adrian, menunjuk kursi tamu di seberang meja kerjanya yang besar. Dengan berat hati karena niatnya cuma menyerahkan barang dan pergi dalam satu menit, Rainer menarik kursi kulit itu dan duduk. “Ini,” ucap Rainer singkat, mengeluarkan flash drive kucing dan stylus dari saku jaketnya. Dia meletakkan kedua barang itu di atas meja kayu mahoni yang bersih. Keduanya terlihat kontras dan agak konyol di tengah atmosfer profesional ruangan itu. Adrian mengerutkan kening, mengambilnya. “Apa ini?” “Ini milik Karan. Ketinggalan di kafe tadi,” jelas Rainer, tanpa basa-basi. “Aku tahu biasanya Ayah bertemu Tante Sari beberapa kali dalam seminggu. Jadi, tolong berikan ini pada Tante Sari saja.” Adrian membolak-balik flash drive berbentuk kucing itu dengan lembut, lalu menatap Rainer dengan pandangan analitis yang mirip dengan tatapan anaknya, namun lebih bijak dan penuh pertanyaan. “Kenapa nggak kamu serahkan sendiri pada orangnya?” tanyanya langsung ke inti masalah. “Kalian kan sebentar lagi akan tinggal seatap. Ini kesempatan bagus untuk mulai berkenalan.” Rainer menahan desahan. “Aku sibuk, Yah. Meeting dan deadline menumpuk,” jawabnya, yang merupakan setengah kebenaran. Alasan utamanya adalah kemalasan dan keengganan yang mendalam untuk bertemu Karan. Selain itu, jika dia jujur tentang permusuhan diam-diam mereka, Adrian pasti akan kecewa. Ayahnya sudah berpesan berkali-kali agar Rainer menyambut dan menyayangi Karan seperti saudara kandungnya sendiri, sebuah permintaan yang kini terasa semakin mustahil untuk dipenuhi. Adrian menggeleng, senyum kecil muncul di bibirnya. Dia memutar salah satu monitor komputernya ke arah Rainer. Layar itu dipenuhi dengan lautan angka, kolom-kolom laporan keuangan yang kompleks, dan grafik yang berjejalan. “Lihat, Nak. Ayah hari ini sibuk sekali. Ada audit klien besar yang harus diselesaikan sebelum jam sembilan malam ini.” Rainer mengamati sekilas. Dia mengerti bahasa angka itu. Itu memang pekerjaan yang berat dan membutuhkan konsentrasi penuh. “Maaf, Ayah nggak bisa membantumu untuk hal ini,” lanjut Adrian, suaranya tegas namun penuh pengertian. “Atau, mungkin...” Dia pause sejenak, matanya berbinar seperti menemukan solusi. “Kamu bisa serahkan sendiri pada Tante Sari. Serahkan itu di butiknya. Jam segini biasanya dia masih ada di sana, mengawasi pengiriman barang atau handling customer.” Rainer langsung merasa jebakan mulai mengencang. “Aku nggak tahu butiknya Tante Sari di mana,” bantahnya cepat, berharap itu alasan yang cukup kuat. Ternyata tidak. Adrian sudah siap. Dengan cekatan, dia meraih selembar sticky note dan sebuah pulpen mewah. “Gampang,” ujarnya sambil menulis dengan cepat. “Ini alamat lengkapnya. Di pusat perbelanjaan Senayan, lantai dasar, dekat pintu timur. Namanya 'Velda's Coleections'. Kamu nggak akan salah.” Sticky note kuning itu ditempelkan di meja, tepat di sebelah flash drive kucing, seolah menantang. Rainer melihatnya seperti melihat bom waktu kecil. Setiap alasan yang dia coba kemukakan telah dipatahkan dengan mudah dan elegan oleh ayahnya. Dia menarik napas dalam, menyadari pertempuran ini sudah kalah sebelum dimulai. “Baiklah,” ucapnya akhirnya, suaranya datar. Dia mengambil kembali flash drive dan stylus, serta meraih sticky note itu. Tanpa kata-kata lagi, dia berdiri, memberi anggukan singkat pada ayahnya yang sudah kembali fokus pada layar komputernya, dan berbalik meninggalkan ruangan. Langkahnya tegas menyusuri koridor kantor yang sepi, tapi hatinya berdebar-debar tidak karuan. Dia masuk ke dalam mobilnya, melempar barang-barang Karan ke kursi penumpang. Sticky note kuning itu terpampang mencolok di dashboard. Dengan geram, dia menghidupkan mesin. Mobilnya meluncur keluar dari basement parking, dan dengan enggan, Rainer mengarahkan setirnya menuju pusat perbelanjaan Senayan, tempat dia tak punya pilihan lain selain berhadapan dengan kenyataan yang bernama Karan Velda. * 🎈 Rainer memasuki butik "Velda's Coleections". Suasana interiornya hangat dan feminine, dipenuhi rak-rak baju berwarna netral dan aksesori yang tertata rapi. Baunya wangi, seperti campuran kain baru dan parfum floral. Di ujung ruangan, dia melihat Sari sedang sibuk membenarkan gaun pengantin yang dipajang di etalase manekin, tangannya lihai merapikan lipatan renda. Dia mendekat dengan langkah tegas. “Permisi, Tante.” Sari menoleh, dan ekspresi kaget jelas terpancar di wajahnya. “Rainer? Wah, kenapa kamu ke sini?” tanyanya sambil menyapu tangan ke apron sederhana yang dikenakannya. “Ini, Tante. Punya Karan,” ucap Rainer singkat, mengulurkan tangan yang menggenggam flash drive kucing dan stylus. “Tadi ketinggalan di kafe. Aku nggak tahu gimana cara menyerahkannya, jadi aku bawa ke sini, titip ke Tante saja.” Sari menerima kedua barang itu, matanya berbinar penuh rasa terima kasih. “Karan, anak itu... ceroboh sekali. Barang sepenting ini bisa ketinggalan. Terima kasih banyak ya, Rainer, sudah repot-repot mengantarkan.” Dia memegang flash drive berbentuk kucing itu dengan lembut. “Kamu mampir dulu, kan? Tante ambilkan jus, nggak lama.” “Nggak usah, Tante. Aku buru-buru,” tolak Rainer cepat, bahkan sudah setengah berbalik badan. Interaksi ini sudah cukup membuatnya tidak nyaman. “Permisi ya, Tante.” Sebelum Sari bisa membujuk lebih lanjut, Rainer sudah membalikkan tubuh dan berjalan cepat meninggalkan butik, menghilang di antara kerumunan mall seperti ingin menghapus bekas kunjungannya. Sari hanya bisa berdiri sambil tersenyum simpul, memandangi pintu yang baru saja ditutup, lalu melihat barang-barang di tangannya. Mungkin ini bisa menjadi awal yang baik. Sari tersenyum lega, memandangi pintu butik yang baru saja ditutup Rainer. Pria itu mungkin terlihat kaku dan buru-buru, tetapi niat baiknya jelas. Dia mengembalikan barang Karan dengan jujur, meski tampak enggan. “Rainer sepertinya baik, sama seperti Mas Adrian,” gumamnya pada diri sendiri, hatinya dipenuhi harap. “Aku yakin dia akan cepat akur dengan Karan. Mereka hanya butuh waktu untuk saling mengenal.” Keyakinannya semakin kuat. Kedua anak itu pasti bisa melebur, seperti dirinya dan Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN