Eps. 8 Kalian Yang Akur

1327 Kata
Karan melaju dengan kecepatan sedang, pikiran kalut berputar seperti roda mobilnya. Setiap solusi yang terlintas terasa buntu. Kembali ke rumah hanya akan membuatnya terjebak dalam kecemasan. Mencari ke mana? Dia tidak tahu. Dan bertemu langsung dengan Rainer untuk bertanya? Itu adalah opsi terburuk yang bahkan tidak layak dipertimbangkan. Matanya menangkap papan nama yang familiar di sisi jalan. Velda's Collections. Hatinya sedikit terangkat. “Ke tempat Ibu saja,” putusnya dengan lega. Setidaknya, di sana ada kenyamanan, meski mungkin tidak ada solusi. Dia memarkir mobilnya di depan butik. Seorang asisten muda yang sedang membereskan rak baju di dekat pintu menyapanya. “Sore, Non. Apa perlu dibantu?” Karan mencoba tersenyum, meski terasa kaku di wajahnya yang lelah. “Sore, Mbak. Ibu ada?” “Ada, Non. Di belakang, di ruang fitting. Ada klien yang sedang mencoba baju.” Karan mengangguk, rasa tenang yang didambakan mulai merayap pelan. Dia langsung masuk ke dalam butik, melewati rak-rak baju yang tertata rapi. Suara obrolan lembut dan gemerisik kain terdengar dari balik tirai tebal di ujung ruangan. Dia menuju ke sana. Di area belakang butik yang lebih privat, dia melihat Sari. Ibunya sedang berlutut di lantai, dengan mulut penuh peniti, sambil dengan penuh perhatian menyesuaikan panjang gaun malam pada seorang pelanggan. Konsentrasi yang tulus terpancar dari wajahnya. Karan berhenti beberapa langkah, menunggu. Baru setelah pelanggan itu masuk kembali ke bilik ganti, Sari menoleh dan melihatnya. “Kar? Ada apa, Sayang?” tanya Sari, berdiri dan melepas peniti dari mulutnya. Senyumnya langsung luntur ketika melihat wajah putrinya. Kusut, pucat, dan penuh beban, persis seperti baju yang tak pernah disetrika. Karan menghampirinya, dan semua ketegangan yang ditahannya seharian seolah siap meledak di tempat yang aman ini. Karan tidak tahan lagi. Begitu berada dalam pelukan ibunya, semua kekuatan yang ditahannya seharian runtuh. “Ibu, aku... aku kehilangan barang paling vital,” keluhnya, suaranya serak tertahan. Dia memeluk Sari erat-erat, wajahnya menyembunyikan kecemasan yang tak terbendung. “Stylus dan flash drive-ku hilang. Bagaimana nanti? Semua pekerjaan, file klien... semuanya ada di situ.” Sari hanya bisa merasakan tubuh putrinya yang gemetar. Sebuah senyum kecil yang penuh kelegaan dan sedikit rasa lucu mengembang di bibirnya. Rainer ternyata tidak memberitahu Karan kalau dia yang menemukan. Pria itu diam-diam meninggalkan barangnya di sini. Sebuah tindakan yang membingungkan namun membuktikan niat baik. Namun, pelukan Karan semakin lama semakin erat. Berat badannya seolah terkonsentrasi di bahu Sari, mendorong mereka berdua hingga Sari hampir kehilangan keseimbangan dan terhuyung beberapa langkah ke belakang, punggungnya nyaris membentur dinding penyangga rak baju. “Kar, kamu kenapa? Berat sekali,” ucap Sari, berusaha menenangkan. Dia mencoba melepaskan diri sedikit untuk melihat wajah putrinya. “Kamu nggak perlu cemas. Barang-barangmu itu aman. Ada di sini.” Seketika, seperti sihir, awan gelap yang menyelimuti Karan sirna. Pelukannya mengendur. Dia mengurai lengannya dan menarik diri, menatap ibunya dengan mata membelalak penuh harap. “Apa? Ada di sini? Di mana, Bu?” Suaranya naik beberapa oktaf, sudah tidak ada lagi kesedihan di dalamnya. Sari menunjuk ke arah meja kecil dekat kasir. “Itu, ada di laci atas meja itu. Rainer yang mengantarkannya tadi sore.” Karan tak mendengar nama yang disebut ibunya. Yang dia dengar hanya lokasi barang berharganya. Dia melesat ke meja itu, menarik laci dengan gerakan cepat hampir seperti membongkar. Dan di sana, terselip di antara beberapa nota dan alat tulis, terbaring stylus hitam elegannya dan flash drive kucing berwarna oranye terang. “Ketemu!” serunya, meraih kedua benda itu seolah-olah harta karun. Dia bahkan tanpa sadar mencium flash drive kecil itu. “Kamu selamat! Nggak hilang! Aduh, aku lega sekali!” Rasa lelah, panik, dan frustrasi sepanjang hari menguap digantikan oleh gelombang kelegaan yang luar biasa. Dia berbalik, memeluk flash drive dan stylusnya ke da-da, dengan senyum cerah yang pertama kali hari itu. Karan berjalan mendekati Sari, kedua barang berharganya masih erat digenggam di tangan. “Ibu, terima kasih banyak sudah menemukan ini untukku,” ucapnya, tulus namun masih terengah. Sari menggeleng, senyumnya berubah menjadi sedikit penuh arti. “Bukan Ibu yang menemukannya, Sayang. Bukankah tadi sudah Ibu bilang?”Suaranya lembut, mencoba menyentak kesadaran Karan yang masih terbawa euforia. Karan berkedip, prosesor di otaknya berjalan lambat. “Lalu... siapa yang menemukannya, Bu?” “Rainer,” jawab Sari sederhana. “Tadi dia mampir ke sini hanya untuk menyerahkan ini. Katanya nggak tahu bagaimana memberikan barangnya langsung ke kamu, jadi dia titip lewat Ibu.” Deg! Seolah-olah dunia yang baru saja dia bangun kembali runtuh dalam sekejap. Dasar pijakannya goyah. Apa yang selama ini dia takutkan dan dia duga ternyata benar. Rainer. Pria yang membuatnya panik dan kabur dari kafe itu adalah orang yang menemukan, menyimpan, dan dengan sukarela mengembalikan barang-barang vitalnya. Rasa malu yang dalam mulai merayap, bercampur dengan kebingungan. “Rainer itu baik dan perhatian, loh, sama kamu,” lanjut Sari, matanya berbinar penuh harap. “Kalau dia nggak baik, mana mungkin dia akan menyimpan dan mengembalikannya ke sini? Kamu harus berterima kasih. Kamu ini, tetap saja ceroboh.” Pujian dari ibunya itu seperti pisau tumpul yang menekan dadanya. Setiap kata justru membuat nyalinya semakin menciut. Seandainya saja Sari tahu yang sebenarnya. Seandainya ibunya tahu barang itu ketinggalan karena dia panik melarikan diri dari kehadiran Rainer, dan bahwa pria yang dipuji ibunya itulah sumber kepanikannya, pasti ibunya takkan berkata demikian. Ironinya terasa pedih dan menjengkelkan. Penyelamatnya adalah orang yang justru jadi alasan dia butuh diselamatkan. Karan terlihat lemas, semua gairah dan kelegaan tadi seolah tersedot. Dia hanya bisa terdiam, menatap lantai. “Kamu bilang terima kasih sana sama Rainer,” pinta Sari, mencoba mendorong putrinya untuk membuka komunikasi. “Sekarang juga. Kirim pesan saja.” Alasan klasik langsung keluar. “Aku... aku nggak tahu nomornya, Bu,” bantah Karan dengan suara lirih, berharap itu cukup. Tapi Sari bukanlah orang yang mudah menyerah. “Ah, alasan,” godanya lembut sambil sudah meraih ponselnya. “Sebentar.” Jarinya dengan lincah membuka aplikasi pesan dan mengetik pesan singkat untuk Adrian. [Mas, boleh minta nomor telepon Rainer? Karan mau mengucapkan terima kasih karena dia sudah menemukan dan mengembalikan barangnya yang ketinggalan. Terima kasih sebelumnya.] Dia mengirim pesan itu, lalu menatap Karan dengan pandangan penuh kemenangan. “Nanti kalau nomornya sudah dapat, kamu langsung hubungi dia, ya. Jangan ditunda-tunda.” Karan hanya bisa mengangguk lesu, merasa seperti terjebak dalam jaring takdir yang semakin rumit. Dia melihat ponsel ibunya di atas meja, menunggu seperti sebuah bom waktu yang akan segera menghubungkannya langsung dengan sumber segala kegelisahannya belakangan ini. Tak lama kemudian, ponsel Sari bergetar. Balasan dari Adrian muncul, berisi sederet nomor telepon Rainer yang jelas. Sari segera menyalin dan memberikannya pada Karan, yang menerimanya dengan wajah seperti menerima surat panggilan. 'Apakah aku harus berterima kasih padanya?' batin Karan bergolak. Rasanya seperti mengakui kekalahan dalam perang dingin diam-diam mereka. Namun, sebelum dia bisa memutuskan atau bahkan memprotes, Sari dengan gesit mengambil kembali ponselnya dari tangan Karan. Jari-jari itu sudah menari di atas layar, mengetik dengan cepat dan penuh keyakinan. Rainer terima kasih sudah menemukan dan mengembalikan barang penting milikku." Tweeet! Suara pesan terkirim terdengar nyaring di telinga Karan. “Ibu!” protes Karan, suaranya meningkat. Dia langsung merebut kembali ponsel dari tangan Sari, matanya memandangi pesan yang sudah terlanjur dikirim dengan rasa frustrasi. “Kenapa harus Ibu yang mengirim pesan padanya?” Sari hanya tersenyum, tak terganggu sedikitpun. “Karena Ibu nggak yakin kamu akan benar-benar menghubungi atau mengirim pesan pada Rainer,” jawabnya polos, sambil membereskan beberapa helai baju di dekatnya. “Ingat, Sayang, sebentar lagi dia akan jadi kakak kamu, Karan. Kalian harus mulai belajar berkomunikasi dengan baik.” Ucapan "kakak" itu seperti bara api yang dilemparkan ke dalam bensin di dalam hati Karan. Bukan menenangkan, malah membuat amarahnya menyala. Kakak? Pria sinis, arogan, dan menyebalkan itu akan jadi kakaknya? Dan sekarang dia terpaksa berhutang budi padanya karena sebuah kecerobohan yang juga disebabkan olehnya! Dia menatap balasan yang tidak akan pernah datang itu karena pesan itu dikirim dari ponsel ibunya, dengan kata ganti yang salah (milikku—dan merasa kalah di semua front. Rainer pasti akan menganggapnya lebih kekanak-kanakan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN