Wajah Karan masih berkerut seperti kertas yang diremas, tatapannya menyala ke arah Sari yang justru sibuk merapikan sebuah gaun panjang dengan ekspresi polos. Kemarahan dan rasa kalahnya membuncah.
Sementara Karan masih mengumpat dalam hati, Sari tiba-tiba berbalik sambil menggenggam gaun bermodel princess berenda itu. Tanpa basa-basi, dia mendekati Karan dan dengan gerakan cepat memasukkan gaun itu ke depan tubuh putrinya, seolah mengukurnya.
“Wah, kalau dipakai Karan untuk pesta pernikahan Ibu nanti, pasti cantik sekali!” ujar Sari dengan nada antusias, memegang bahu gaun yang mengambang di depan tubuh Karan yang masih kaku.
Karan tertegun. Dia berdiri di tengah butik dengan ekspresi bodoh, memegang flash drive dan stylus di satu tangan, sementara di depan dadanya menjulur sebuah gaun puff berwarna blush pink yang sangat tidak sesuai dengan gaya kasual dan gelapnya hari ini. Bayangannya di cermin besar di dinding terlihat begitu konyol.
“Masa sih, Bu? Aku kayak cupcake raksasa yang mau meledak,” gerutunya, tapi sudut bibirnya sudah tak bisa menahan diri untuk tidak melengkung.
Sari tertawa lepas, matanya berbinar. “Iya, cupcake paling cantik yang pernah Ibu lihat!”
Akhirnya, tawa Karan meledak. Dia tergelak-gelak melihat penampilannya yang absurd di cermin dan ekspresi polos ibunya. Semua ketegangan dan amarah perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang lucu.
Sari mengelus pipi putrinya yang sudah kembali cerah. “Nah, begitu dong putri Ibu seharusnya. Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang,” lirihnya lembut.
Karan masih tersenyum, mengangguk. Masalah dengan Rainer masih ada, tapi setidaknya untuk saat ini, di dalam butik ini, bersama ibunya, dunia terasa sedikit lebih ringan.
Karan melepaskan gaun puff berenda itu dengan gerakan yang masih disertai sisa tawa, lalu menyerahkannya kembali pada Sari. “Ini, Bu. Karena barang pentingku sudah ketemu, aku balik dulu, ya. Terima kasih, Ibu!” ucapnya cepat, sebelum mencium pipi ibunya.
Sebelum Sari bisa membalas atau mengingatkannya lagi tentang Rainer, Karan sudah berbalik dan berhambur keluar butik, langkahnya ringan seperti beban yang telah terlepas. Pintu membuka dan menutup dengan cepat, meninggalkan Sari sendirian dengan gaun pink di tangannya.
Sari berdiri di tempat, menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Decak kecil keluar dari bibirnya, campuran antara gemas dan haru.
“Sudah aku bilang, yang menemukan itu Rainer, bukan Ibu,” gumamnya pada ruangan yang sepi, seolah mengoreksi ucapan terima kasih Karan yang salah alamat.
Namun, senyum kecil tetap mengembang. Setidaknya putrinya sudah tersenyum lagi. Masalah komunikasi dengan Rainer? Itu urusan nanti. Satu langkah kecil dalam kekacauan yang akan datang.
Rainer baru saja melepas jaketnya dan melemparkan diri ke sofa di apartemennya yang minimalis. Sebuah getaran terasa dari saku jaket. Dengan malas, dia mengambil ponselnya.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tetapi konteksnya langsung jelas.
[Dari: +62xxx] Terima kasih sudah menemukan dan mengembalikan barang penting milikku.
Dia tersentak duduk lebih tegak. Matanya menatap layar. “CK!” ucapnya pelan, hampir tak percaya. Sebuah sensasi aneh antara kesal dan terhibur menyergapnya. Dia membayangkan Karan yang terpaksa menelan gengsinya untuk mengetik pesan itu.
Diam-diam, sebuah senyum kecil yang tulus akhirnya merekah di bibir Rainer, menghapus ekspresi datarnya sejenak. “Aku rasa kamu nggak seburuk dan sepicik itu, Karan. Kamu bisa berterima kasih juga padaku,” gumamnya pada ponselnya, seolah menjawab langsung.
Namun, begitu rasa kejutan itu mereda, sifat aslinya kembali. Dia memutar ponselnya di antara jari, mempertimbangkan untuk membalas.
Tapi tidak. Biarlah ini jadi satu-satunya komunikasi damai mereka untuk sementara. Dia meletakkan ponselnya, senyum itu masih tersisa, lalu kembali ke laporan kerjanya dengan suasana hati yang entah kenapa, sedikit lebih ringan.
Belum selesai Rainer membaca laporan di layar laptopnya, bel apartemen berbunyi nyaring, memecah konsentrasinya.
“Siapa?” tanyanya, suaranya datar. “Tolong tunggu sebentar.”
Dia beranjak dari sofa, sedikit kesal karena jeda yang tak diundang. Setelah membuka pintu utama apartemen, seorang kurir berpakaian seragam berdiri di baliknya dengan dua kardus paket berukuran sedang di tangan.
“Permisi, Pak. Benar ini rumah Bapak Adrian Elard?” tanya kurir itu, memastikan.
Rainer mengangguk singkat. “Iya, benar. Ayah saya.”
“Ini paketnya, Pak. Mohon ditandatangani di sini.” Kurir menyerahkan paket-paket itu dan sebuah perangkat elektronik untuk tanda tangan.
Rainer menandatangani dengan cepat, lalu mengambil kedua kardus itu. Kardusnya polos, tanpa logo toko atau petunjuk apapun, hanya alamat pengirim dari sebuah percetakan mewah di kawasan Menteng.
Dengan penasaran, dia menyelipkan pertanyaan saat kurir hendak berbalik, “Ini isinya apa?”
Kurir yang sudah setengah berjalan berhenti, lalu menjawab dengan sopan, “Itu undangan, Pak.” Lalu, dengan cepat dia mengangguk dan bergegas menuju lift.
Rainer berdiri di depan pintu, kedua kardus di tangan, alisnya berkerut membentuk sebuah tanda tanya besar. “Undangan?” gumamnya sendiri.
Dia membawa masuk paket-paket itu, menaruhnya dengan hati-hati di atas meja makan. Dengan pisau kertas, dia membuka selotip pada salah satu kardus.
Saat dia membuka tutupnya, terlihatlah tumpukan amplop berukuran besar, dengan kertas tebal dan elegan. Sebuah desain floral yang familiar, sama dengan yang pernah dijelaskan ayahnya terpampang jelas.
Undangan pernikahan ayahnya dan Sari. Tiba-tiba, rencana itu terasa sangat nyata dan sangat dekat.
Telepon di meja berdering lagi, memutuskan renungan Rainer. Di layar tertulis ayah. Dia menghela napas sebelum mengangkat.
“Halo, Yah?”
“Rainer, ada paket barusan dikirim ke rumah?” tanya Adrian langsung ke inti, suaranya terdengar sibuk di balik deru AC dan suara keyboard.
“Ya, Ayah. Baru saja kurirnya pergi. Paket undangan, kan?”
“Betul. Kamu tadi bilang mau ke tempat Tante Sari,” lanjut Adrian, tanpa memberi celah untuk interupsi. “Tolong sekalian kamu antar satu kardus undangan itu untuknya. Kardus untuk Sari, di dalamnya sudah ada keterangan tempelannya. Kamu buka kardusnya biar tahu mana yang untuknya. Ayah kemungkinan besar lembur malam ini, sedangkan undangan itu besok pagi harus mulai disebar ke keluarga besar.”
Rainer mengangkat kedua alisnya, perasaan tidak nyaman mulai merayap. “Ayah, aku... baru saja kembali dari butik Tante Sari tadi sore.” Usahanya untuk menolak halus.
“Ah, jadi sudah ketemu tempatnya,” sambung Adrian, seolah itu justru menguntungkan. “Bagus. Tapi jam segini dia sudah pulang dari butik. Kamu ke rumahnya saja, ya? Ayah kirimkan alamatnya.”
“Ayah, aku nggak mau—” protes Rainer, suaranya mulai tegang.
Namun, dari seberang sana hanya terdengar suara Adrian yang terburu-buru, “Terima kasih, Nak! Ayah sangat terbantu. Hati-hati di jalan!” Diikuti oleh suara pemutusan yang pendek.
“Yah? Yah!” panggil Rainer, tetapi yang terdengar hanya nada sambung telepon yang monoton.
Panggilan sudah terputus, bahkan sebelum dia sempat menjelaskan satu alasan pun mengapa ini adalah ide yang sangat buruk.
Dia menatap layar ponselnya yang sudah gelap, rahangnya mengeras. “SIAL!” umpatnya setengah berteriak ke apartemen yang kosong, rasa frustrasi memuncak.
Dia melemparkan ponselnya ke sofa dengan gerakan kesal. Matanya kemudian tertuju pada dua kardus undangan di meja, yang kini terasa seperti batu sandungan yang sengaja diletakkan takdir di jalannya.
Kenapa dirinya, seorang laki-laki yang sudah berusaha menghindar, harus kembali bertemu dengan Karan? Tadi saja dia sudah berhasil menitipkan barang itu pada Sari agar tidak ada interaksi langsung.
Sekarang, dia malah harus mengantarkan undangan ke rumahnya. Bertemu dengan Karan di wilayahnya sendiri pasti tak terhindarkan.
“Bagaimana ini?” pekik Rainer dalam hati, merasa terjebak dalam sebuah rencana yang diatur oleh ayahnya.
Bliing! Sebuah notifikasi pesan masuk memotong kekalutannya. Dari Adrian
[Dari: Ayah] Jangan lupa segera kirim undangannya sekarang. Ayah udah sibuk sekali. Terima kasih sudah membantu.
Desakan bertubi-tubi itu, dari telepon yang diputus sepihak hingga pesan yang tidak bisa diabaikan, membuat rahang Rainer semakin mengeras. Dia merasakan tekanan itu. Rasanya, benar-benar tidak ada pilihan lain selain menuruti.
Dengan gerutu panjang yang keluar dari dalam dadanya, Rainer akhirnya bangkit dari kursinya. “Baiklah. Baiklah!” gumamnya kesal.
Dia mengambil kunci mobil dari meja, lalu berbalik untuk meraih kardus undangan yang ditunjuk untuk Sari. Dalam keadaan kesal dan terburu-buru, dia tidak memperhatikan posisi tubuhnya. Saat berbalik dengan kardus di tangan, sudut kardus yang kaku itu menghantam dengan keras vas bunga keramik kecil di ujung meja.
Kreek! Plung!
Vas itu terlempar, mendarat di karpet dengan bunyi gedebuk, airnya tumpah membentuk genangan, dan bunga mawar di dalamnya terlempar seperti korban kecelakaan kecil.
Rainer terdiam sejenak, menatap kekacauan yang dia buat. Napasnya tertahan. Ini benar-benar bukan harinya. Dengan menghela napas berat, dia meninggalkan tumpahan air itu begitu saja, itu masalah lain yang harus ditanggung nanti dan bergegas keluar apartemen, membawa serta kardus undangan dan sebuah misi yang sangat tidak dia sukai.
Rainer duduk di mobil, kardus undangan teronggok di kursi penumpang. Dia menyalakan mesin, lalu menghela napas berat yang keluar dari dasar jiwa. Seolah-olah dia bukan hendak mengantar paket, melainkan bersiap untuk terjun ke medan perang yang paling absurd dalam hidupnya.